Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?

Kompas.com, 1 Februari 2026, 09:06 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Beruang kutub di Kepulauan Svalbard, Norwegia, justru semakin gemuk di tengah mencairnya es laut akibat krisis iklim, menurut studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.

Wilayah Laut Barents, tempat Svalbard berada, dikenal sebagai salah satu kawasan Arktik yang mengalami pemanasan tercepat. Es laut di wilayah ini menyusut lebih cepat dibanding daerah lain yang juga menjadi habitat beruang kutub

Baca juga:

Peneliti utama studi ini, Jon Aars dari Norwegian Polar Institute (NPI), mengaku terkejut dengan hasil tersebut.

"Peningkatan kondisi tubuh (beruang kutub) selama periode hilangnya es laut secara signifikan merupakan suatu kejutan," kata Aars, dilansir dari AFP, Jumat (31/1/2026).

Menurutnya, temuan ini berlawanan dengan banyak penelitian sebelumnya di wilayah Arktik lain.

Beruang kutub di Norwegia menggemuk di tengah krisis iklim

Beradaptasi dengan makanan darat

Beruang kutub di Svalbard, Norwegia, justru menggemuk meski krisis iklim menyebabkan beruang kutub di wilayah lain semakin mengurus. wirestock/freepik Beruang kutub di Svalbard, Norwegia, justru menggemuk meski krisis iklim menyebabkan beruang kutub di wilayah lain semakin mengurus.

Studi ini menyebutkan, beruang kutub di Svalbard mampu bertahan dengan mengubah pola makan.

Mereka tidak hanya bergantung pada anjing laut bercincin yang biasanya diburu di es laut, tapi juga mulai memangsa hewan darat, seperti rusa kutub dan walrus.

Adapun rusa kutub dan walrus di wilayah ini mengalami pemulihan populasi setelah sebelumnya sempat dieksploitasi manusia.

Kondisi ini memberi sumber makanan baru bagi beruang kutub. Suhu yang lebih hangat juga membuat anjing laut bercincin berkumpul di area es yang lebih sempit, yang mana memudahkan perburuan.

Para ilmuwan menganalisis indeks kondisi tubuh atau body condition index (BCI) dari 770 beruang kutub dewasa. Data ini dikumpulkan selama periode 1995 hingga 2019.

Sebagai informasi, BCI digunakan untuk mengukur jumlah lemak yang dimiliki beruang.

Hasilnya menunjukkan BCI beruang kutub sempat menurun hingga tahun 2000. Setelah itu, kondisinya meningkat meskipun es laut terus menyusut dengan cepat.

Studi ini juga mencatat populasi beruang kutub di Laut Barents diperkirakan mencapai 1.900 hingga 3.600 individu pada tahun 2004. Jumlah ini kemungkinan bertambah dalam beberapa tahun berikutnya.

Baca juga:

Penelitian ini menegaskan Arktik mengalami kenaikan suhu dua hingga empat kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Laut Barents bahkan mencatat kenaikan suhu hingga dua derajat celsius per dekade di beberapa area selama 40 tahun terakhir.

Selain itu, wilayah ini kehilangan habitat es laut sekitar empat hari per tahun antara 1979 hingga 2014. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibanding wilayah lain yang menjadi habitat beruang kutub.

Peneliti dari pusat riset lingkungan Prancis, CEFE, Sarah Cubaynes, mengatakan, temuan di Svalbard terlihat bertolak belakang dengan hasil studi lain.

Ia mencontohkan kondisi beruang kutub di Teluk Hudson yang mengalami penurunan kondisi tubuh akibat pemanasan.

Baca juga:

Kabar baik yang disertai peringatan

Beruang kutub di Svalbard, Norwegia, justru menggemuk meski krisis iklim menyebabkan beruang kutub di wilayah lain semakin mengurus. Beruang kutub di Svalbard, Norwegia, justru menggemuk meski krisis iklim menyebabkan beruang kutub di wilayah lain semakin mengurus.

Aars mengatakan, jika diminta memprediksi kondisi beruang pada awal kariernya di NPI tahun 2003, ia akan menyebut beruang akan semakin kurus. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Beruang di Svalbard saat ini memiliki kondisi tubuh lebih baik meski lebih sering berada di darat.

Meski terdengar positif, studi ini memberi peringatan serius. Kondisi tubuh yang baik saat ini belum menjamin masa depan yang aman.

Penurunan kondisi tubuh biasanya menjadi tanda awal masalah populasi. Masalah itu bisa berujung pada penurunan kelangsungan hidup dan reproduksi.

Para peneliti menekankan pentingnya tidak menyamakan kondisi satu wilayah dengan wilayah lain. Hubungan antara habitat, ekosistem, asupan energi, dan pengeluaran energi sangat kompleks.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau