Penulis
Laut Barents bahkan mencatat kenaikan suhu hingga dua derajat celsius per dekade di beberapa area selama 40 tahun terakhir.
Selain itu, wilayah ini kehilangan habitat es laut sekitar empat hari per tahun antara 1979 hingga 2014. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibanding wilayah lain yang menjadi habitat beruang kutub.
Peneliti dari pusat riset lingkungan Prancis, CEFE, Sarah Cubaynes, mengatakan, temuan di Svalbard terlihat bertolak belakang dengan hasil studi lain.
Ia mencontohkan kondisi beruang kutub di Teluk Hudson yang mengalami penurunan kondisi tubuh akibat pemanasan.
Baca juga:
Aars mengatakan, jika diminta memprediksi kondisi beruang pada awal kariernya di NPI tahun 2003, ia akan menyebut beruang akan semakin kurus. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Beruang di Svalbard saat ini memiliki kondisi tubuh lebih baik meski lebih sering berada di darat.
Meski terdengar positif, studi ini memberi peringatan serius. Kondisi tubuh yang baik saat ini belum menjamin masa depan yang aman.
Penurunan kondisi tubuh biasanya menjadi tanda awal masalah populasi. Masalah itu bisa berujung pada penurunan kelangsungan hidup dan reproduksi.
Para peneliti menekankan pentingnya tidak menyamakan kondisi satu wilayah dengan wilayah lain. Hubungan antara habitat, ekosistem, asupan energi, dan pengeluaran energi sangat kompleks.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya