Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bulan Menjauh dari Bumi, Benarkah Berdampak pada Iklim dan Manusia?

Kompas.com, 4 Februari 2026, 13:17 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pergerakan bulan menjauh dari bumi memicu spekulasi adanya dampak terhadap perubahan iklim hingga kehidupan manusia.

Menjawab hal itu, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan menerangkan, fenomena menjauhnya bulan dari bumi berkaitan dengan bentuk lintasan orbit bulan yang elips, bukan lingkaran sempurna.

Baca juga:

“Efek bulan menjauh dari bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi bulan terhadap bumi yang berupa elips. Ada saat bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi bulan,” kata Sonni dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Bulan menjauh dari bumi, apa dampaknya bagi manusia?

Tidak ada dampak langsung, tapi..

Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.Freepik/wirestock Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.

Menurut Sonni, fenomena ini tidak berdampak langsung pada manusia. Dampaknya lebih terasa melalui proses alam di bumi, salah satunya pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan.

Sonni menambahkan, kenaikan muka laut karena pasang surut berdampak pada aktivitas nelayan serta masyarakat di wilayah pesisir. Kondisi serupa terjadi pada sistem iklim dunia.

“Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” tutur dia.

Sonni menjelaskan, salah satu faktor eksternal yang lebih memengaruhi iklim berasal dari perubahan posisi dan gerak bumi terhadap matahari. Misalnya, perubahan bentuk orbit bumi, kemiringan sumbu Bumi, dan arah putaran sumbu bumi.

Masing-masing perubahan komponen ini mempunyai periode. Sonni merincikan, perubahan bentuk orbit bumi terjadi dalam siklus sekitar 100.000 hingga 400.000 tahun. 

Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.SHUTTERSTOCK/Vadim Sadovski Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.

Perubahan kemiringan sumbu bumi terjadi setiap 41.000 tahun, sedangkan perubahan arah sumbu bumi berlangsung sekitar 26.000 tahun sekali.

“Perubahan orientasi bumi ini menyebabkan perubahan radiasi Matahari yang diterima oleh bumi sebagai sumber energi utama iklim bumi sehingga perubahan ini memengaruhi iklim dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun,” jelas Sonni.

Selain itu, posisi planet-planet lain di tata surya juga bisa memengaruhi kondisi atmosfer bumi.

Saat beberapa planet berada pada posisi sejajar atau konjungsi, gaya gravitasi gabungannya dapat memicu peningkatan uap air di atmosfer.

“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim,” paparnya.

Baca juga:

Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.Freepik/Wirestock Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.

Sebelumnya, tercatat bulan perlahan menjauh dari buni dengan kecepatan sekitar 3,8 sentimeter atau 1,5 inci per tahun.

Fakta ini diketahui lewat metode pengukuran yang menggunakan pantulan laser dari cermin yang dipasang di permukaan bulan oleh misi antariksa dan dikenal sebagai Lunar Laser Ranging Experiment. 

Dilansir dari Science Alert, Rabu (4/2/2026), dengan menghitung waktu tempuh cahaya saat dipantulkan ke bulan lalu kembali ke bumi, para ilmuwan dapat menentukan jarak bulan secara akurat sekaligus memantau perubahannya.

Saat mengitari bumi, satelit alami ini berada pada kisaran rata-rata 385.000 kilometer, tapi orbitnya berbentuk elips sehingga jarak tersebut bisa berubah hingga 20.000 kilometer.

Kondisi inilah yang memunculkan fenomena supermoon, ketika bulan tampak lebih besar dari biasanya di langit malam. Bagi para astrofisikawan, gerak dinamis bumi dan bulan menyimpan banyak petunjuk berharga.

Memahami interaksi keduanya dapat membuka wawasan tentang evolusi yang telah terjadi sejak 4,5 miliar tahun lalu, ketika bumi dan bulan pertama kali terbentuk.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau