Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi

Kompas.com, 20 Januari 2026, 15:06 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Pemanasan global yang terjadi saat ini ternyata pernah melanda bumi pada 56 juta tahun lalu, menurut studi terbaru. Lonjakan drastis karbon dioksida (CO2) ke atmosfer kala itu berlangsung dalam waktu singkat hingga memicu kebakaran hutan dan erosi dalam skala besar.

"Akibatnya, terdapat banyak vegetasi, bahkan di lintang tinggi. Hal itu berarti banyak karbon tersimpan misalnya di hutan konifer (sejenis pinus) yang luas," kata peneliti Royal Netherlands Institute for Sea Research (NIOZ), Mei Nelissen, dilansir dari Phys.org, Selasa (20/1/2026).

Baca juga: 

Panas ekstrem pernah terjadi 56 juta tahun lalu

Karbon dioksida menaikkan suhu global hingga lima derajat celsius

Menurut studi, pemanasan global pernah terjadi 56 juta tahun lalu yang menyebabkan kebakaran hutan dan erosi besar. pixabay Menurut studi, pemanasan global pernah terjadi 56 juta tahun lalu yang menyebabkan kebakaran hutan dan erosi besar.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Nelissen bersama timnya menganalisis lapisan sedimen yang dibor dari dasar Laut Norwegia pada tahun 2021.

Mereka menyebut, bumi sebenarnya sudah menghangat sejak puluhan tahun, dengan karbon dioksida yang menaikkan suhu global mencapai lima derajat celsius.

Di samping itu, para peneliti mengamati serbuk sari dan spora yang terawetkan dalam lapisan sedimen untuk melihat respons ekosistem darat terhadap pemanasan ekstrem.

Hasilnya menunjukkan, vegetasi yang sebelumnya ditumbuhi semacam pohon pinus tak ada lagi.

"Kami dapat melihat dalam kurun waktu maksimal tiga ratus tahun sejak dimulainya lonjakan eksplosif CO2, vegetasi yang didominasi tumbuhan runjung menghilang di lokasi penelitian dan banyak tumbuhan paku muncul," jelas dia.

Gangguan terhadap ekosistem tersebut berlangsung selama ribuan tahun akibat kebakaran hutan.

"Peningkatan mineral lempung dalam sedimen laut juga menunjukkan bahwa seluruh bagian daratan hanyut ke laut akibat erosi," papar Nelissen.

Temuan itu, lanjut dia, memperluhatkan bagaimana tumbuhan merespons efek krisis iklim

Sementara itu, di perairan, krisis iklim menyebabkan hilangnya kalsium karbonat secara tiba-tiba akibat pengasaman laut. Alhasil, organisme laut tidak mampu membentuk cangkang atau kerangka untuk tubuh mereka.

Baca juga:

Periode panas ekstrem

Menurut studi, pemanasan global pernah terjadi 56 juta tahun lalu yang menyebabkan kebakaran hutan dan erosi besar. Pexels/Pixabay Menurut studi, pemanasan global pernah terjadi 56 juta tahun lalu yang menyebabkan kebakaran hutan dan erosi besar.

Tim peneliti menjelaskan, periode panas ekstrem yang terjadi 56 juta tahun lalu dikenal sebagai Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM). Ketika itu suhu sudah hangat dan tiba-tiba menjadi lebih hangat lagi.

Nelissen tak mengetahui secara pasti penyebabnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika
Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika
LSM/Figur
TN Way Kambas Pulihkan 1.286 Hektar Ekosistem, Kurangi Konflik Gajah dan Manusia
TN Way Kambas Pulihkan 1.286 Hektar Ekosistem, Kurangi Konflik Gajah dan Manusia
Pemerintah
Kenaikan Suhu 1,5 Derajat Celsius Tak Terelakkan, PBB Ingatkan Risiko Global
Kenaikan Suhu 1,5 Derajat Celsius Tak Terelakkan, PBB Ingatkan Risiko Global
Pemerintah
Permintaan Bahan Bakar Fosil Diprediksi Melambat pada 2026, Energi Surya dan Angin Naik
Permintaan Bahan Bakar Fosil Diprediksi Melambat pada 2026, Energi Surya dan Angin Naik
LSM/Figur
7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara
7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara
Swasta
3 Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 Diprotes, Emisi Karbon Bisa Tembus 1,3 Juta Ton
3 Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 Diprotes, Emisi Karbon Bisa Tembus 1,3 Juta Ton
LSM/Figur
AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
LSM/Figur
Degradasi Padang Lamun Berpotensi Lepaskan Karbon ke Atmosfer
Degradasi Padang Lamun Berpotensi Lepaskan Karbon ke Atmosfer
Pemerintah
Bumi di Ambang Krisis Lingkungan, Ini 5 Langkah yang Harus Dilakukan Dunia
Bumi di Ambang Krisis Lingkungan, Ini 5 Langkah yang Harus Dilakukan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau