Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rekor Baru: September Jadi Bulan Terpanas Ketiga Sepanjang Sejarah

Kompas.com, 9 Oktober 2025, 19:05 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Copernicus Climate Change Service menyatakan September tahun ini menjadi bulan September terpanas ketiga secara global yang pernah tercatat.

Ini menunjukkan bahwa suhu rata-rata dunia terus bertahan pada level yang mendekati rekor tertinggi selama satu bulan lagi.

"Kondisi suhu global masih sama, ditandai dengan suhu daratan dan permukaan laut yang terus tinggi. Hal ini mencerminkan dampak berkelanjutan dari penumpukan gas rumah kaca di atmosfer," terang Samantha Burgess, Kepala Strategi Iklim Copernicus, dikutip dari CNA, Kamis (9/10/2025).

Suhu pada September tahun ini tercatat 1,47 derajat C di atas suhu rata-rata yang dicatat antara tahun 1850-1900.

Baca juga: Dalam Tiga Dekade, Hari Sangat Panas di Kota Global Melonjak 25 Persen

Periode tersebut dijadikan patokan untuk mendefinisikan masa pra-industri, yaitu sebelum intervensi manusia memiliki dampak besar pada perubahan iklim.

Kenaikan bertahap seperti itu mungkin terlihat kecil. Akan tetapi, para ilmuwan memperingatkan bahwa setiap peningkatan kecil dalam suhu global akan semakin mengganggu keseimbangan Bumi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya cuaca ekstrem dan memicu titik kritis iklim yang destruktif.

Peningkatan suhu global yang berkelanjutan ini disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh aktivitas manusia. Emisi ini sebagian besar bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil secara masif sejak era Revolusi Industri.

Para peneliti memprediksi bahwa tahun 2025 akan tercatat sebagai tahun terpanas ketiga, melanjutkan rekor tahun 2024 dan 2023. Hal ini terlihat dari data bahwa suhu dalam beberapa bulan terakhir nyaris menyamai rekor yang tercipta selama periode panas ekstrem tersebut.

Negara-negara di dunia menghadapi situasi nyata ini saat mereka dijadwalkan berkumpul di Brasil bulan depan untuk perundingan iklim PBB tahunan yang bertujuan merumuskan tanggapan bersama terhadap masalah pemanasan global.

Baca juga: Studi: Bumi Makin Panas, Bandara Makin Bising

Sementara itu, negara-negara dengan ekonomi besar tidak memangkas emisi cukup cepat untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim dan banyak dari mereka masih menyetujui proyek minyak, batu bara, dan gas baru.

Lebih lanjut, kesimpulan ini didapat setelah Copernicus memanfaatkan data miliaran pengukuran yang dikumpulkan dari satelit, kapal laut, pesawat terbang, dan stasiun cuaca untuk mendukung perhitungan dan analisis iklimnya.

Meskipun data Copernicus baru tersedia sejak tahun 1940, sumber data iklim lain seperti inti es, lingkaran tahun pada pohon, dan kerangka karang memungkinkan para ilmuwan menarik kesimpulan berdasarkan bukti dari masa lampau yang jauh lebih tua.

Berdasarkan bukti tersebut, para ilmuwan meyakini bahwa periode saat ini merupakan periode terpanas yang dialami Bumi dalam 125.000 tahun terakhir.

Baca juga: Langkah Mundur Aksi Iklim, Aliansi Perbankan Net-Zero Global Bubar

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau