Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai

Kompas.com, 4 Februari 2026, 17:08 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Plastik termasuk limbah yang mudah ditemukan di bumi, bahkan hingga di pelosok. Perjanjian plastik global (global plastics treaty) di Jenewa, Swiss, pada Agustus 2025 lalu dinilai tidak memberikan hasil yang diharapkan. Namun, para peneliti berpendapat,  perjanjian plastik global masih mungkin untuk dicapai. 

Komite Negosiasi Antar-pemerintah (INC) disebut akan kembali berkumpul lagi di Jenewa untuk memilih ketua baru pada Sabtu (7/2/2026) ini, dilansir dari Phys.org, Rabu (4/2/2026). 

Baca juga:

Supaya kesepakatan plastik global tercapai, pemimpin baru ini sebaiknya memperbaiki cara kerja komite tersebut. 

Untuk diketahui, INC merupakan kelompok kerja khusus yang dibentuk oleh PBB untuk menyusun perjanjian internasional.

Kemungkinan perjanjian plastik global untuk tercapai

Analisis peneliti

Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.Dok. Freepik/Freepik Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.

Analisis peneliti yang dipublikasikan sebagai komentar di Nature ini menunjukkan adanya masalah besar pada cara negosiasi ini dijalankan, yang akhirnya memicu perdebatan dan menghambat kemajuan pembuatan perjanjian dunia untuk menghentikan polusi plastik.

Para penulis merasa khawatir karena proses negosiasi saat ini tidak memiliki urutan bahasan yang jelas, debatnya tidak teratur, dan aturan mainnya tidak tegas.

Hal ini dianggap bisa menggagalkan upaya dunia dalam mengatasi krisis plastik yang semakin parah.

Analisis juga menyoroti bagaimana tugas INC yang terlalu luas yakni mengurusi seluruh siklus hidup plastik. Hal tersebut malah membuat perdebatan jadi terpecah-pecah dan kemajuannya terhambat.

Perdebatan terus berlanjut karena adanya perbedaan pandangan tentang masalah utama, seperti apakah perjanjian ini perlu mengatur produksi plastik, bahan kimia berbahaya, serta dampaknya terhadap kesehatan.

Penulis utama Paul Einhäupl dari Research Institute for Sustainability menyatakan, menangani seluruh siklus hidup plastik membuat negosiasi untuk perjanjian plastik global menjadi sangat sulit, menyoroti keterkaitan yang mendalam antara isu-isu lingkungan dan sosial kontemporer.

Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.SHUTTERSTOCK/GOFFKEIN.PRO Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.

Namun, menurutnya, hal ini juga menghadirkan peluang langka untuk mengatasinya secara lebih koheren dan efektif di tingkat multilateral.

Selain itu, untuk mengatasi polusi laut diperlukan pertimbangan siklus hidup plastik secara menyeluruh.

Pendekatan tersebut mencakup produksi, transportasi, dan penggunaannya, di samping pengelolaan limbah dan daur ulang yang baik.

"Sangat penting untuk mengatur plastik secara holistik, mengurangi paparan manusia selama penggunaan dan emisi ke lingkungan secara signifikan," papar Annika Jahnke, peneliti dari Helmholtz Centre for Environmental Research menambahkan.

Baca juga:

Tiga strategi mencapai kesepakatan

Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.SHUTTERSTOCK/Pressmaster Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.

Plastik terakumulasi secara global dengan cara yang sulit dibalik, melepaskan mikroplastik dan bahan kimia dari waktu ke waktu.

Sebagian besar akan bertahan selama bertahun-tahun, berkontribusi pada tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

Maka dari itu, sangat penting dan mendesak segera memiliki perjanjian global yang mengatur mengenai plastik.

Peneliti pun mengusulkan tiga strategi supaya negosiasi perjanjian plastik global ini segera tercapai.

Langkah pertama adalah membuat prioritas dan pengurutan. Tentukan isu-isu terpenting dan tetapkan prioritas melalui pertemuan kepala delegasi untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan berdasarkan tujuan dan tonggak pencapaian, bukan berdasarkan jadwal waktu yang telah ditetapkan.

Selanjutnya, kejelasan prosedural yang mana ada aturan prosedur yang jelas untuk menghindari penyimpangan, termasuk pedoman untuk penyusunan, pendokumentasian kesepakatan dari sesi informal, dan penyelesaian perbedaan pendapat.

Dan yang terakhir adalah melakukan sistem voting cadangan yang memperkuat peluang untuk mencapai kesepakatan.

Baca juga:

Namun, aturan ini hanya dipakai dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sebagian besar negara sudah setuju pada suatu kebijakan, tapi ada segelintir kecil negara yang sengaja menghambat kemajuan tersebut.

Lebih lanjut, penulis memperingatkan jika kekurangan dalam aturan main ini tidak diperbaiki, hal tersebut bisa merusak kerja sama internasional dalam menangani polusi plastik dan merusak kepercayaan antarnegara secara umum.

Selain itu, kegagalan ini juga akan memperlemah upaya dunia dalam mengatasi krisis planet lainnya yang saling berkaitan, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau