KOMPAS.com - Plastik termasuk limbah yang mudah ditemukan di bumi, bahkan hingga di pelosok. Perjanjian plastik global (global plastics treaty) di Jenewa, Swiss, pada Agustus 2025 lalu dinilai tidak memberikan hasil yang diharapkan. Namun, para peneliti berpendapat, perjanjian plastik global masih mungkin untuk dicapai.
Komite Negosiasi Antar-pemerintah (INC) disebut akan kembali berkumpul lagi di Jenewa untuk memilih ketua baru pada Sabtu (7/2/2026) ini, dilansir dari Phys.org, Rabu (4/2/2026).
Baca juga:
Supaya kesepakatan plastik global tercapai, pemimpin baru ini sebaiknya memperbaiki cara kerja komite tersebut.
Untuk diketahui, INC merupakan kelompok kerja khusus yang dibentuk oleh PBB untuk menyusun perjanjian internasional.
Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.Analisis peneliti yang dipublikasikan sebagai komentar di Nature ini menunjukkan adanya masalah besar pada cara negosiasi ini dijalankan, yang akhirnya memicu perdebatan dan menghambat kemajuan pembuatan perjanjian dunia untuk menghentikan polusi plastik.
Para penulis merasa khawatir karena proses negosiasi saat ini tidak memiliki urutan bahasan yang jelas, debatnya tidak teratur, dan aturan mainnya tidak tegas.
Hal ini dianggap bisa menggagalkan upaya dunia dalam mengatasi krisis plastik yang semakin parah.
Analisis juga menyoroti bagaimana tugas INC yang terlalu luas yakni mengurusi seluruh siklus hidup plastik. Hal tersebut malah membuat perdebatan jadi terpecah-pecah dan kemajuannya terhambat.
Perdebatan terus berlanjut karena adanya perbedaan pandangan tentang masalah utama, seperti apakah perjanjian ini perlu mengatur produksi plastik, bahan kimia berbahaya, serta dampaknya terhadap kesehatan.
Penulis utama Paul Einhäupl dari Research Institute for Sustainability menyatakan, menangani seluruh siklus hidup plastik membuat negosiasi untuk perjanjian plastik global menjadi sangat sulit, menyoroti keterkaitan yang mendalam antara isu-isu lingkungan dan sosial kontemporer.
Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.Namun, menurutnya, hal ini juga menghadirkan peluang langka untuk mengatasinya secara lebih koheren dan efektif di tingkat multilateral.
Selain itu, untuk mengatasi polusi laut diperlukan pertimbangan siklus hidup plastik secara menyeluruh.
Pendekatan tersebut mencakup produksi, transportasi, dan penggunaannya, di samping pengelolaan limbah dan daur ulang yang baik.
"Sangat penting untuk mengatur plastik secara holistik, mengurangi paparan manusia selama penggunaan dan emisi ke lingkungan secara signifikan," papar Annika Jahnke, peneliti dari Helmholtz Centre for Environmental Research menambahkan.
Baca juga:
Negosiasi perjanjian plastik global dinilai bermasalah, tapi peneliti menyebut kesepakatan dunia untuk hentikan polusi plastik masih bisa dicapai.Plastik terakumulasi secara global dengan cara yang sulit dibalik, melepaskan mikroplastik dan bahan kimia dari waktu ke waktu.
Sebagian besar akan bertahan selama bertahun-tahun, berkontribusi pada tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Maka dari itu, sangat penting dan mendesak segera memiliki perjanjian global yang mengatur mengenai plastik.
Peneliti pun mengusulkan tiga strategi supaya negosiasi perjanjian plastik global ini segera tercapai.
Langkah pertama adalah membuat prioritas dan pengurutan. Tentukan isu-isu terpenting dan tetapkan prioritas melalui pertemuan kepala delegasi untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan berdasarkan tujuan dan tonggak pencapaian, bukan berdasarkan jadwal waktu yang telah ditetapkan.
Selanjutnya, kejelasan prosedural yang mana ada aturan prosedur yang jelas untuk menghindari penyimpangan, termasuk pedoman untuk penyusunan, pendokumentasian kesepakatan dari sesi informal, dan penyelesaian perbedaan pendapat.
Dan yang terakhir adalah melakukan sistem voting cadangan yang memperkuat peluang untuk mencapai kesepakatan.
Baca juga:
Namun, aturan ini hanya dipakai dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sebagian besar negara sudah setuju pada suatu kebijakan, tapi ada segelintir kecil negara yang sengaja menghambat kemajuan tersebut.
Lebih lanjut, penulis memperingatkan jika kekurangan dalam aturan main ini tidak diperbaiki, hal tersebut bisa merusak kerja sama internasional dalam menangani polusi plastik dan merusak kepercayaan antarnegara secara umum.
Selain itu, kegagalan ini juga akan memperlemah upaya dunia dalam mengatasi krisis planet lainnya yang saling berkaitan, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya