KOMPAS.com - Pergerakan bulan menjauh dari bumi memicu spekulasi adanya dampak terhadap perubahan iklim hingga kehidupan manusia.
Menjawab hal itu, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan menerangkan, fenomena menjauhnya bulan dari bumi berkaitan dengan bentuk lintasan orbit bulan yang elips, bukan lingkaran sempurna.
Baca juga:
“Efek bulan menjauh dari bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi bulan terhadap bumi yang berupa elips. Ada saat bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi bulan,” kata Sonni dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.Menurut Sonni, fenomena ini tidak berdampak langsung pada manusia. Dampaknya lebih terasa melalui proses alam di bumi, salah satunya pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan.
Sonni menambahkan, kenaikan muka laut karena pasang surut berdampak pada aktivitas nelayan serta masyarakat di wilayah pesisir. Kondisi serupa terjadi pada sistem iklim dunia.
“Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” tutur dia.
Sonni menjelaskan, salah satu faktor eksternal yang lebih memengaruhi iklim berasal dari perubahan posisi dan gerak bumi terhadap matahari. Misalnya, perubahan bentuk orbit bumi, kemiringan sumbu Bumi, dan arah putaran sumbu bumi.
Masing-masing perubahan komponen ini mempunyai periode. Sonni merincikan, perubahan bentuk orbit bumi terjadi dalam siklus sekitar 100.000 hingga 400.000 tahun.
Bulan tercatat menjauh dari bumi. Dosen IPB menjelaskan apakah fenomena ini benar-benar memengaruhi iklim dan kehidupan manusia.Perubahan kemiringan sumbu bumi terjadi setiap 41.000 tahun, sedangkan perubahan arah sumbu bumi berlangsung sekitar 26.000 tahun sekali.
“Perubahan orientasi bumi ini menyebabkan perubahan radiasi Matahari yang diterima oleh bumi sebagai sumber energi utama iklim bumi sehingga perubahan ini memengaruhi iklim dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun,” jelas Sonni.
Selain itu, posisi planet-planet lain di tata surya juga bisa memengaruhi kondisi atmosfer bumi.
Saat beberapa planet berada pada posisi sejajar atau konjungsi, gaya gravitasi gabungannya dapat memicu peningkatan uap air di atmosfer.
“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim,” paparnya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya