Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Induk dan Anak Badak Jawa Terekam di TN Ujung Kulon

Kompas.com, 5 Februari 2026, 08:08 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Camera trap (kamera jebak) Tim Monitoring dan Evakuasi Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa, merekam keberadaan seekor induk badak jawa (Rhinoceros sondaicus) bersama anaknya di Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko menuturkan, keduanya terekam pada Kamis (29/1/2026) pukul 22.17 WIB.

Baca juga: 

Ia menyampaikan bahwa temuan ini merupakan indikator penting keberhasilan pengelolaan kawasan dan perlindungan badak jawa.

“Keberadaan induk dan anakan badak jawa yang terekam melalui camera trap menunjukkan bahwa habitat di Taman Nasional Ujung Kulon masih terjaga dengan baik," ucap Satyawan dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Terekamnya badak jawa, lanjut dia, sekaligus memperkuat optimisme terhadap keberlangsungan populasi satwa dilindungi tersebut di habitat alaminya.

"Pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan badak jawa berkembang biak secara alami,” jelas Satyawan.

Baca juga:

Induk dan anak badak jawa terekam di TN Ujung Kulon

Patroli dan pemantauan ditingkatkan

Berdasarkan hasil analisis awal, induk yang terekam diduga adalah badak Arum, individu yang sebelumnya teridentifikasi dalam sistem monitoring.

Sementara itu, anakan badak yang terekam merupakan individu baru dengan perkiraan usia kurang dari lima bulan.

Satyawan memastikan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap induk dan anakan badak jawa dan seluruh populasinya di kawasan taman nasional.

Petugas meningkatkan patroli, pemantauan berbasis teknologi, pengelolaan habitat, serta peningkatan kolaborasi dengan mitra konservasi, LSM, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta masyarakat.

“Pemerintah mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian Badak Jawa sebagai salah satu satwa paling langka di dunia dan kebanggaan Indonesia, demi memastikan kelangsungan hidupnya bagi generasi mendatang,” tutur Satyawan.

Badak, hewan yang perlu dilindungi di Indonesia

Badak Jawa Jantan Musofa. Camera trap rekam induk dan anak badak jawa di TN Ujung Kulon. Temuan ini jadi sinyal positif keberhasilan konservasi satwa langka Indonesia.Dok. TNUK Badak Jawa Jantan Musofa. Camera trap rekam induk dan anak badak jawa di TN Ujung Kulon. Temuan ini jadi sinyal positif keberhasilan konservasi satwa langka Indonesia.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengungkapkan pihaknya bakal memanfaatkan teknologi assertive reproductive technology (ART) untuk menyelamatkan populasi badak sumatera dan badak jawa.

Populasi badak jawa diperkirakan hanya 87-100 individu dan terbatas di Taman Nasional Ujung Kulon.

Sementara itu, badak sumatera diperkirakan tersisa kurang dari 100 individu, yang hidup dalam kantong-kantong populasi kecil di Sumatera dan Kalimantan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau