JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan kematian badak jawa Musofa dimulai pada 3 November 2025 saat hewan ditranslokasi.
Badak ini dipindahkan ke Javan Rhino Study and Conservation Area Taman Nasional Ujung Kulon untuk memperbanyak populasinya.
Selanjutnya, Musofa dimasukan ke kandang angkut menggunakan kapal KAPA K-61 Marinir TNI AL dan tiba dengan selamat pada 5 November 2025. Mulanya, Musofa menunjukan perilaku normal, tim dokter juga dapat melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukan.
"Namun demikian memang kami juga terkejut karena pada tanggal 7 November 2025 Musofa terbaring lemah, dan pada pukul 13.00 WIB tim dokter sudah melakukan upaya-upaya tindakan penelamatan agar musofa bisa tetap hidup," ungkap Satyawan dalam konferensi pers, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).
Baca juga: Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
"Tetapi pada jam 16.00 WIB badak Musofa dinyatakan tidak dapat diselamatkan atau mengalami kematian," imbuh dia.
Musofa merupakan individu pertama yang dipindahkan secara hidup sebagai bagian dari upaya memperkuat populasi badak jawa yang kian rentan akibat inbreeding dan menurunnya keragaman genetik. Di luar negeri, populasinya terakhir ditemukan di Vietnam pada 2010.
Kajian Population Feasibility Analysis menunjukkan dengan kondisi genetik saat ini, populasi badak jawa berada dalam situasi mengkhawatirkan 5 hingga 50 tahun mendatang. Kemenhut memutuskan translokasi satwa dilindungi tersebut.
"Sehingga satu-satunya tumpuan harapan untuk kestarian badak jawa ini ada di Indonesia. Selain itu, ada bahaya yang tidak terlihat di luar misalnya ada perburuan, kecukupan habitat, inbreeding dan penurunan keanekaragaman genetik yang cukup tinggi," jelas dia.
Berbeda dengan habitat terbuka di Afrika yang memungkinkan pembiusan jarak jauh, badak yang hidup di hutan lebat ditranslokasi melalui metode pitfall. Satyawan memastikan seluruh proses berlangsung sesuai standar yang direkomendasikan International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Baca juga: Kemenhut Translokasi Badak Jawa untuk Perbanyak Populasi
"Jadi kami tidak membuat sesuatu yang di luar metode standar, dan setelah masuk ke pitfall ditangani dengan segera oleh tim dokter," ucap Satyawan.
Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Bambang Pontjo Priosoeryanto, menyampaikan Musofa mengalami perubahan konstruksi gigi yang sangat parah. Berdasarkan hasil nekropsi, ditemukan beberapa luka memar pada kulit hingga kematian jaringan otot.
"Hasil pemeriksaan histopatologi dengan menggunakan mikroskop kami bawa sampelnya ke Bogor, ditemukan parasit yang bersarang pada otot di bawah luka," ucap Bambang
Luka terdapat di pangkal ekor, bagian pupis, skapula atau bahu, kulit, leher, dan beberapa lokasi lainnya dengan luasan yang bervariasi. Adapula kutu yang mengisap darah indukan badak tersebut pada daerah lipatan paha kaki belakang dan depan, serta lipatan kulit leher dan punggung.
Meski tubuhnya terlihat berisi, pemeriksaan jaringan menunjukkan badak itu dalam kondisi sangat kurus. Menurut Bambang, lemak subkutan dan lemak di rongga perut mengalami degradasi berat yang menandakan defisiensi nutrisi dalam waktu panjang. Musofa mengalami penumpukan cairan di rongga perut karena tubuhnya yang kurus.
"Kalau diilustrasikan, maka kita biasa menemukan yang disebut dengan busung lapar. Nah ini sama sebetulnya busung lapar dengan kasus pada badak ini," tutur dia.
Sementara, pemeriksaan saluran cerna menunjukkan parasit dalam jumlah banyak mencakup nematoda pengisap darah di jejunum, cacing pita di duodenum hingga ileum, cacing pipih oval berwarna merah di kolon, serta cacing gelembung seperti kista di mukosa usus.
Berdasarkan kondisi gigi dan jaringan, Musofa diperkirakan berusia lebih dari 45 tahun, kategori sangat tua untuk badak jawa.
"Kematian badak diduga akibat kelemahan umum yang bersifat kronis yang terjadi jauh sebelum penangkapan dan translokasi dilakukan karena prosesnya ini kronis, bukan tiba-tiba," kata dia.
Tim dokter memastikan tidak ada tanda-tanda cedera akibat sedasi atau anestesi saat proses translokasi maupun kerusakan organ akibat stres akut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya