JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengumumkan kematian badak jawa bernama Musofa usai menjalani perawatan intensif di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Badak ini merupakan spesies pertama yang ditranslokasi sebagai bagian dari program konservasi nasional.
Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menyebutkan Musofa tewas karena penyakit kronis lama yang sudah terjadi sebelum translokasi.
"Dari hasil nekropsi menunjukkan adanya kerusakan kronis pada hati, paru-paru, dan otak, serta infeksi parasit signifikan pada saluran pencernaannya," ungkap Rohmat dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (28/11/2025).
Baca juga: Kemenhut Bakal Manfaatkan Teknologi Bayi Tabung untuk Selamatkan Badak
Proses translokasi badak Musofa dimulai pada 3 November 2025, pukul 20.15 WIB ketika badak tersebut berhasil masuk ke dalam pit trap atau perangkap lubang 1 yang ditangani tim dokter dan pendampingan penjaga.
Selama masa adaptasi awal di kandang rawat, Musofa menunjukan perilaku normal yakni makan, minum, buang air besar dan kecil dengan baik. Namun, pada 7 November 2025 pukul 13.00 WIB, Musofa menunjukkan penurunan kondisi klinis dan dinyatakan mati.
"Saat ini tim Kementerian Kehutanan bersama para ahli sedang memperkuat pemantuan populasi, surveillance penyakit, pemantuan terhadap penyakit, kesehatan satwa, serta standar keamanan habitat," papar Rohmat.
Baca juga: TNUK Tegaskan, JRSCA Bukan Habitat Buatan bagi Badak Jawa
Dokter menjelaskan kondisi badak Musofa. Sementara itu, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Bambang Pontjo Priosoeryanto, mengungkapkan Musofa mengalami perubahan konstruksi gigi yang sangat parah. Berdasarkan hasil nekropsi, ditemukan beberapa luka memar pada kulit hingga kematian jaringan otot.
"Hasil pemeriksaan histopatologi dengan menggunakan mikroskop kami bawa sampelnya ke Bogor, ditemukan parasit yang bersarang pada otot di bawah luka," ucap Bambang
"Luka tersebut ada di pangkal ekor, bagian pupis, skapula atau bahu, kiri depan, kulit, mandibula, leher, dekat lehe sebelah kanan, dan beberapa lokasi lainnya dengan luasan yang bervariasi," imbuh dia.
Adapula kutu yang mengisap darah indukan badak tersebut pada daerah lipatan paha kaki belakang dan depan, serta lipatan kulit leher dan punggung.
Meski tubuhnya terlihat berisi, pemeriksaan jaringan menunjukkan badak itu dalam kondisi sangat kurus. Menurut Bambang, lemak subkutan dan lemak di rongga perut mengalami degradasi berat yang menandakan defisiensi nutrisi dalam waktu panjang. Musofa mengalami penumpukan cairan di rongga perut karena tubuhnya yang kurus.
Baca juga: Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
"Kalau diilustrasikan, maka kita biasa menemukan yang disebut dengan busung lapar. Nah ini sama sebetulnya busung lapar dengan kasus pada badak ini," tutur dia.
Sementara, pemeriksaan saluran cerna menunjukkan parasit dalam jumlah banyak mencakup nematoda pengisap darah di jejunum, cacing pita di duodenum hingga ileum, cacing pipih oval berwarna merah di kolon, serta cacing gelembung seperti kista di mukosa usus.
Nahasnya, cacing menggamggu penyerapan nutrisi sehingga memperparah kondisi Musofa. Tim dokter juga menemukan cairan di paru-paru, rongga perut, hingga rongga kepala.
"Penumpukan cairan ini luar biasa. Ginjal ditemukan adanya polisistik, kista di ginjal yang diduka akibat genetik pada ginjal sebelah kiri namun tidak menyebabkan gangguan fungsi ginjal secara ekstrem," sebut Bambang.
Berdasarkan kondisi gigi dan jaringan, Musofa diperkirakan berusia lebih dari 45 tahun, kategori sangat tua untuk badak jawa.
"Kematian badak diduga akibat kelemahan umum yang bersifat kronis yang terjadi jauh sebelum penangkapan dan translokasi dilakukan karena prosesnya ini kronis, bukan tiba-tiba," kata dia.
Tim dokter memastikan tidak ada tanda-tanda cedera akibat sedasi atau anestesi saat proses translokasi maupun kerusakan organ akibat stres akut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya