KOMPAS.com - World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia atau WEF) yang tahun ini diadakan di Davos-Klosters, Swiss, berencana berinvestasi untuk pengembangan keterampilan para pekerja.
Inisiatif peningkatan keterampilan (reskilling revolution) disebut menjangkau lebih dari 850 juta orang di seluruh dunia. Jumlah tersebut mendekati target membekali satu miliar orang dengan akses ke peluang ekonomi, keterampilan, dan pendidikan.
Kecerdasan buatan (artificial intelilligent atau AI), pergeseran geoekonomi, dan transisi energi dapat dengan cepat membentuk kembali pasar ketenagakerjaan global.
Baca juga:
Rencana global baru itu mencakup janji sektor, kemitraan universitas-perusahaan, dan akselerator keterampilan nasional, dengan fokus pada perancangan ulang cara seseorang memasuki dunia kerja.
Selain itu, komitmen global baru juga berfokus untuk bertransisi antar-pekerjaan dan tetap dapat dipekerjakan dalam ekonomi yang semakin dibentuk oleh AI.
Di antaranya, komitmen peningkatan keterampilan, dengan lebih dari 25 perusahaan teknologi telah berjanji untuk mendukung 120 juta pekerja dengan akses AI, pelatihan keterampilan, dan jalur karier.
Secara paralel, India meluncurkan akselerator keterampilan nasional baru, yang bertujuan mempercepat pelatihan, selaras dengan industri dan meningkatkan kemampuan kerja bagi jutaan pekerja.
Direktur Pelaksana, World Economic Forum, Saadia Zahidi mengatakan, ekonomi global sedang mengalami transformasi paling signifikan dalam beberapa dekade.
Namun, masa depan pekerjaan tidak stagnan, serta tergantung pada kesempatan para pekerja untuk belajar, serta dukungan untuk transisi dan kewirausahaan.
"Pengumuman hari ini merupakan tindakan tegas, memobilisasi penyedia pendidikan, pemberi kerja, dan pemerintah untuk memastikan masa depan pekerjaan memberikan kesempatan bagi semua," ujar Saadia, dilansir dari Eco-Business, Kamis (5/2/2026).
WEF targetkan satu miliar orang mendapat akses keterampilan, pendidikan, dan peluang ekonomi melalui reskilling revolution.Inisiatif reskilling revolution telah memobilisasi komitmen untuk menjangkau 856 juta orang secara global pada 2030 nanti.
Agar tetap berada pada jalur yang tepat dalam mencapai tujuannya, perlu penyediaan akses lebih baik terhadap peluang ekonomi, keterampilan, dan pendidikan bagi satu miliar orang.
Inisiatif reskilling revolution bekerja sama dengan 79 negara dan 18 industri, serta didukung oleh lebih dari 350 organisasi dan 35 CEO.
Komitmen terbaru datang dari perusahaan-perusahaan, seperti Adobe, Cornerstone OnDemand, Cisco, JD.com, SAP, Salesforce, ServiceNow, Snowflake, Wipro, dan Workday.
Baca juga:
Di seluruh komitmen reskilling revolution, mayoritas berfokus pada AI dan keterampilan digital, dengan menekankan kemampuan yang berpusat pada manusia.
Komitmen reskilling revolution juga memprioritaskan pada peran tingkat pemula yang paling rentan terhadap disrupsi.
Perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka berjanji untuk secara kolektif mendukung 120 juta pekerja pada tahun 2030 melalui inisiatif reskilling revolution dari Forum Ekonomi Dunia.
Ikrar komitmen menyatukan perusahaan-perusahaan dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, Timur Tengah, India, dan Jepang.
Inisiatif reskilling revolution berfokus pada memperluas akses gratis ke AI dan teknologi digital, termasuk menciptakan jalur karier bagi individu tanpa latar belakang teknis formal.
WEF targetkan satu miliar orang mendapat akses keterampilan, pendidikan, dan peluang ekonomi melalui reskilling revolution.India bergabung dalam jaringan global akselerator keterampilan baru. Negara ini memperkuat jaringan global terdiri dari 45 akselerator nasional, yang secara kolektif telah mendukung 14,8 juta orang.
Akselerator India akan fokus pada mengatasi hambatan terhadap pemerataan keterampilan.
Di seluruh jaringan, upaya nasional berfokus pada pengembangan keterampilan untuk ekonomi baru di berbagai bidang, di antaranya kemampuan yang berpusat pada manusia, AI dan teknologi digital, keberlanjutan, dasar-dasar bisnis, serta perdagangan dan jalur kejuruan.
Baca juga:
Studi terbaru melibatkan PwC dan mensurvei 9.000 pekerja tingkat pemula di 48 negara mengungkapkan, meluasnya ketidakpastian relevansi keterampilan dan keamanan kerja seiring dengan perubahan AI yang membentuk kembali titik masuk karier tradisional.
Untuk mengatasi hal ini, World Economic Forum meluncurkan Learning-to-Earning Sandbox menghubungkan universitas, pemberi kerja, dan pemerintah untuk menguji coba model melalui mengintegrasikan pengalaman kerja berbayar dengan pengembangan keterampilan.
Selama pertemuan tahunan 2026, sembilan perusahaan ekonomi platform meluncurkan prinsip-prinsip bersama untuk pekerjaan yang bertanggung jawab di bidang platform.
Pertemuan tahunan 2026 tersebut juga membahas akses terhadap peluang, kondisi kerja yang aman, serta pendapatan dan tunjangan.
Diketahui, pertemuan tahunan ke-56 Forum Ekonomi Dunia berlangsung pada pertengahan Januari 2026 di Davos-Klosters, Swiss, mempertemukan para pemimpin dari dunia bisnis, pemerintahan, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan akademisi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya