Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Cahaya Kota Bisa Ganggu Sistem Biologis Hiu

Kompas.com, 5 Februari 2026, 20:39 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Cahaya dari kota, pelabuhan, dan pembangunan tepi pantai bisa mengganggu jam biologis hiu. Cahaya tersebut bisa menyebar jauh melampaui daratan, menurut studi dari University of Miami, Amerika Serikat (AS).

"Kami meneliti hubungan antara paparan ALAN (artificial light at night atau cahaya buatan pada malam hari) dan kadar melatonin dalam darah pada hiu perawat liar (Ginglymostoma cirratum) dan hiu sirip hitam (Carcharhinus limbatus) yang diambil sampelnya di lepas pantai Miami, Florida (Amerika Serikat)," tulis peneliti studi, dilansir dari Science Direct, Kamis (5/2/2026).

Baca juga:

Sebelumnya, para peneliti menunjukkan bahwa cahaya buatan dapat mengganggu hormon yang berhubungan dengan tidur pada burung, serangga, dan ikan bertulang.

Dengan melacak bagaimana cahaya perkotaan mengubah hormon kunci yang mengatur jam biologis, para ilmuwan mulai mengetahui bagaimana garis pantai modern mengubah tatanan kehidupan di bawah permukaan laut.

Baca juga:

Lampu kota ganggu jam biologis hiu

Mengukur gangguan polusi cahaya pada hiu

Ilustrasi hiu sirip hitam atau blacktip shar (Carcharhinus limbatus). Studi menunjukkan, cahaya buatan malam hari menekan hormon melatonin hiu. Dampaknya berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.Dok. Wikimedia Commons/Requin bordé adulte Ilustrasi hiu sirip hitam atau blacktip shar (Carcharhinus limbatus). Studi menunjukkan, cahaya buatan malam hari menekan hormon melatonin hiu. Dampaknya berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.

Untuk mengetahui bagaimana polusi cahaya mengganggu kehidupan hiu, para peneliti dari Program Penelitian dan Konservasi Hiu meluncurkan sebuah studi, dikutip dari Earth.com.

Penelitian ini dilakukan di lepas pantai Miami, Florida, salah satu kota pantai paling terang di Amerika Serikat. Hiu dari perairan perkotaan ini dibandingkan dengan hiu yang hidup di daerah pantai yang lebih gelap di dekatnya.

Studi yang dipublikasikan di Science of the Total Environment ini menjadi momen pertama kalinya para ilmuwan mengukur kadar melatonin dalam darah hiu liar. Pencapaian ini saja sudah membuka wawasan baru mengenai fisiologi atau cara kerja tubuh dan kesehatan hiu.

Melatonin adalah hormon alami di dalam tubuh yang sering disebut sebagai hormon tidur dan memiliki fungsi utama mengatur jam biologis.

Pada banyak hewan, kadarnya meningkat pada malam hari dan menurun pada siang hari. Pola ini mendukung istirahat, metabolisme, dan kesehatan secara keseluruhan.

Gangguan melatonin pada satwa liar dapat memengaruhi makan, pergerakan, dan kelangsungan hidup mereka.

Ilustrasi hiu perawat atau nurse shark (Ginglymostoma cirratum). Studi menunjukkan, cahaya buatan malam hari menekan hormon melatonin hiu. Dampaknya berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.Dok. Wikimedia Commons/Ross Garner Ilustrasi hiu perawat atau nurse shark (Ginglymostoma cirratum). Studi menunjukkan, cahaya buatan malam hari menekan hormon melatonin hiu. Dampaknya berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.

Penelitian ini berfokus pada dua spesies hiu dengan pola pergerakan yang kontras yakni hiu perawat dan hiu sirip hitam.

Hiu perawat cenderung tinggal di satu area untuk waktu yang lama. Pergerakan tetap mereka terbatas, dan tempat istirahat yang familiar sering berfungsi sebagai rumah jangka panjang.

Sementara itu, hiu sirip hitam hidup cukup berbeda. Perjalanan rutin melintasi wilayah pesisir yang luas menentukan perilaku harian mereka.

Kontras ini membantu para peneliti menguji sebuah gagasan penting. Jika cahaya buatan memengaruhi melatonin, hiu yang tetap berada di area terang mungkin menghadapi efek yang lebih kuat dibanding hiu yang berpindah antara perairan terang dan gelap.

Sebelum penelitian ini, fungsi melatonin pada hiu sebagian besar belum dieksplorasi. Hiu berevolusi lebih dari 400 juta tahun yang lalu, jauh sebelum penerangan buatan ada.

Sejarah evolusi mereka yang panjang membuat gangguan modern apa pun menjadi sangat mengkhawatirkan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Revisi UU Sisdiknas, Jangan Sekadar Ganti Aturan
Revisi UU Sisdiknas, Jangan Sekadar Ganti Aturan
LSM/Figur
3 Ton Sampah Plastik Diangkut dari Pantai Liang Sulawesi Utara lewat Global Ocean Cleanup
3 Ton Sampah Plastik Diangkut dari Pantai Liang Sulawesi Utara lewat Global Ocean Cleanup
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Sepekan ke Depan
Pemerintah
Asosiasi Petani Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan DSI dalam Tata Niaga Sawit
Asosiasi Petani Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan DSI dalam Tata Niaga Sawit
LSM/Figur
Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Pemerintah
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Pemerintah
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Pemerintah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
Pemerintah
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
LSM/Figur
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau