KOMPAS.com- Di Desa Buton, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, suara mesin tambang berdampingan dengan bunyi air mengalir di pematang sawah.
Jika selama ini pertambangan kerap dituduh menghambat tanah pertanian, di sana pertambangan dan pertanian justru bisa hidup berdampingan, bahkan saling mendukung.
Sosok Darwan Aduhasan (33) menjadi bukti nyata bahwa kedaulatan pangan bisa tumbuh subur bersama industri tambang yang memajukan potensi daerah.
“Saya merasa menghidupi keluarga tidak harus selalu bergantung pada industri. Pertanian juga mampu menghidupi masyarakat, bahkan di daerah pertambangan,” katanya.
Baca juga: Harita Nickel Dapat Penghargaan Bisnis dan HAM 2025 dari SETARA Institute
Dari kegelisahan itu, Darwan mulai mengajak sejumlah anak muda membentuk kelompok tani milenial. Tujuannya sederhana, yakni mengembalikan citra petani sebagai profesi yang bermartabat dan menjanjikan masa depan.
Untuk meningkatkan minat anak muda di Pulau Obi terhadap sektor pertanian, Darwan membentuk Kelompok Tani Pelangi.
Baca juga: Harita Nickel Penuhi Standar Kualitas Air Tanah di Kawasan Industri
Darwan menjelaskan, kelompok tersebut mengusung nilai gotong royong dan dipersatukan oleh tujuan membangun kedaulatan pangan di wilayah lingkar tambang.
“Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan pertanian di wilayah lingkar tambang. Karena itu, kami merekrut anak-anak muda melalui orangtua mereka agar para pemuda bisa terlibat langsung dalam pengelolaan dan perluasan area persawahan,” katanya.
Upaya itu mulai menunjukkan hasil. Kelompok Tani Pelangi kini memiliki 17 program kerja aktif dan menargetkan 100 petani muda. Padahal, di awal program, hanya ada 28 orang petani.
Darwan melanjutkan bahwa dalam pelaksanaannya, kelompok taninya tidak dapat berjalan sendiri. Pihaknya terus berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengembangkan potensi pertanian di Pulau Obi.
Baca juga: Harita Nickel Catat Pendapatan Rp 22,40 Triliun hingga Kuartal III-2025
Pada 2021, ia merintis pembentukan Kelompok Tani Daun Hijau yang fokus mengembangkan komoditas hortikultura, seperti tomat, cabai, dan mentimun. Kelompok ini menjadi pintu masuk untuk mengakses berbagai program ketahanan pangan pemerintah.
Setahun kemudian, Darwan mulai berkoordinasi dengan Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel.
Panen semangka di Desa Buton.
Dari sinilah kolaborasi mulai terbentuk. Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), para petani mendapatkan pendampingan intensif, mulai dari bantuan bibit, pelatihan teknis, hingga perluasan lahan.
Menurutnya, pendampingan yang dilakukan tidak sembarangan karena tim pendamping ada yang berasal dari lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan institusi terbaik lainnya.
“Dari pengalaman tersebut, kami belajar bahwa pertanian itu butuh kesabaran, ketekunan, dan perencanaan yang matang sekaligus mampu menghidupi banyak orang,” tutur Darwan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya