Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT HILIRISASI

Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab

Kompas.com, 7 Februari 2026, 09:55 WIB
Yogarta Awawa Prabaning Arka,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com- Di Desa Buton, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, suara mesin tambang berdampingan dengan bunyi air mengalir di pematang sawah.

Jika selama ini pertambangan kerap dituduh menghambat tanah pertanian, di sana pertambangan dan pertanian justru bisa hidup berdampingan, bahkan saling mendukung.

Sosok Darwan Aduhasan (33) menjadi bukti nyata bahwa kedaulatan pangan bisa tumbuh subur bersama industri tambang yang memajukan potensi daerah.

“Saya merasa menghidupi keluarga tidak harus selalu bergantung pada industri. Pertanian juga mampu menghidupi masyarakat, bahkan di daerah pertambangan,” katanya.

Baca juga: Harita Nickel Dapat Penghargaan Bisnis dan HAM 2025 dari SETARA Institute

Dari kegelisahan itu, Darwan mulai mengajak sejumlah anak muda membentuk kelompok tani milenial. Tujuannya sederhana, yakni mengembalikan citra petani sebagai profesi yang bermartabat dan menjanjikan masa depan.

Untuk meningkatkan minat anak muda di Pulau Obi terhadap sektor pertanian, Darwan membentuk Kelompok Tani Pelangi.

Baca juga: Harita Nickel Penuhi Standar Kualitas Air Tanah di Kawasan Industri

Darwan menjelaskan, kelompok tersebut mengusung nilai gotong royong dan dipersatukan oleh tujuan membangun kedaulatan pangan di wilayah lingkar tambang.

“Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan pertanian di wilayah lingkar tambang. Karena itu, kami merekrut anak-anak muda melalui orangtua mereka agar para pemuda bisa terlibat langsung dalam pengelolaan dan perluasan area persawahan,” katanya.

Upaya itu mulai menunjukkan hasil. Kelompok Tani Pelangi kini memiliki 17 program kerja aktif dan menargetkan 100 petani muda. Padahal, di awal program, hanya ada 28 orang petani.

Tak bisa berjalan sendiri

Darwan melanjutkan bahwa dalam pelaksanaannya, kelompok taninya tidak dapat berjalan sendiri. Pihaknya terus berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengembangkan potensi pertanian di Pulau Obi.

Baca juga: Harita Nickel Catat Pendapatan Rp 22,40 Triliun hingga Kuartal III-2025

Pada 2021, ia merintis pembentukan Kelompok Tani Daun Hijau yang fokus mengembangkan komoditas hortikultura, seperti tomat, cabai, dan mentimun. Kelompok ini menjadi pintu masuk untuk mengakses berbagai program ketahanan pangan pemerintah.

Setahun kemudian, Darwan mulai berkoordinasi dengan Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel.

Panen semangka di Desa Buton. 
DOK. Harita Nickel. Panen semangka di Desa Buton.

Dari sinilah kolaborasi mulai terbentuk. Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), para petani mendapatkan pendampingan intensif, mulai dari bantuan bibit, pelatihan teknis, hingga perluasan lahan.

Menurutnya, pendampingan yang dilakukan tidak sembarangan karena tim pendamping ada yang berasal dari lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan institusi terbaik lainnya.

“Dari pengalaman tersebut, kami belajar bahwa pertanian itu butuh kesabaran, ketekunan, dan perencanaan yang matang sekaligus mampu menghidupi banyak orang,” tutur Darwan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau