Dari perspektif akademis, kolaborasi antara industri dan kelompok tani dinilai menjadi salah satu kunci penting keberhasilan panen raya di Desa Buton yang melampaui rata-rata panen nasional.
Pakar Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Iskandar menjelaskan, petani di Indonesia umumnya masih bersifat subsisten dengan lahan sempit, permodalan terbatas, serta teknologi produksi yang sederhana. Menurutnya, kondisi ini membuat petani sulit berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain.
Dalam konteks tersebut, kehadiran industri menjadi penting karena mampu mengisi celah yang selama ini tidak bisa dijangkau petani secara mandiri.
“Industri bisa berperan dalam menghadirkan tenaga ahli dan praktisi pertanian, penyediaan sarana produksi, hingga membantu aspek permodalan dan pemasaran,” kata Prof Iskandar.
Terkait capaian asimilasi di Desa Buton, Prof Iskandar menilai bahwa secara prinsip bisa dilakukan dapat diterapkan di daerah tambang lain, tetapi harus disesuaikan dengan karakteristik tanah lokal.
Prof Iskandar mengimbau agar CSR perusahaan di sektor pertanian harus dimulai dengan dialog bersama kelompok tani untuk mengidentifikasi kendala utama, apakah pada tanah, bibit, sarana produksi, atau manajemen. Menurutnya, pendekatan ini amat berpengaruh dalam menentukan hasil panen.
“Kalau hasil panen bisa sampai rata-rata nasional (5 ton per ha) itu sudah bagus. Tidak harus sampai 8 ton,” ujar Prof Iskandar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya