Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten

Kompas.com, 6 Februari 2026, 21:14 WIB
Asip Agus Hasani,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BLITAR, KOMPAS.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 7 Madiun menggelar pendidikan kilat (diklat) Refreshing Awak Sarana Perkeretaapian (ASP) Manual Tingkat Muda dengan Penggerak Non Listrik Angkatan I Tahun 2026.

Diklat yang diikuti oleh masinis dan asisten masinis kereta api di wilayah Daop 7 Madiun itu dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan mental dan teknis dalam menghadapi peningkatan perjalanan kereta api selama masa libur Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) 2026 mendatang.

Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan bahwa diklat tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan seluruh personel lapangan memiliki kesiapan mental dan teknis yang prima menjelang lonjakan penumpang di masa Angkutan Lebaran 2026.

Baca juga: Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025

“Tujuan utama diklat ini untuk meningkatkan kompetensi, pemahaman, serta kesiapsiagaan awak sarana dalam menghadapi berbagai kondisi operasional di lapangan,” ujar Tohari melalui pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Awak Sarana Perkeretaapian (AS) adalah sebutan untuk masinis dan asisten masinis kereta api. Selama tiga hari berlangsungnya diklat, peserta mendapatkan tiga materi termasuk materi teknis bagaimana mengatasi gangguan operasional pada lokomotif.

“Pada materi ini peserta mendapatkan pengetahuan dan praktik cara mengatasi gangguan pada lokomotif, khususnya lokomotif jenis CC 201, CC 203, CC 204 dan CC 206,” ungkap Tohari menyebut tipe-tipe lokomotif yang paling sering digunakan PT KAI dalam perjalanan kereta api.

Lokomotif CC 206, lanjutnya, merupakan lokomotif diesel elektrik versi terbaru yang memiliki dua kabin masinis, di depan dan belakang.

Selain itu, peserta juga mendapatkan materi budaya keselamatan dan mitigasi risiko yang disampaikan oleh Tim Safety Inspector.

“Peserta yang merupakan para masinis dan asisten masinis juga menerima materi pendalaman tentang tugas dan kewenangan mereka dalam perjalanan kereta api,” ujarya.

Persiapan Hadapi Lebaran 2026

“Keselamatan perjalanan kereta api adalah yang utama, dan itu dimulai dari SDM yang kompeten,” tambah Tohari.

Sebagai penutup rangkaian diklat, dilakukan praktik simulasi mengatasi gangguan operasional secara langsung pada lokomotif.

“Simulasi ini dirancang agar awak KA memiliki ketepatan dan kecepatan dalam menerapkan pedoman kerja saat menghadapi kondisi darurat di lintas,” tuturnya.

Tohari mengatakan bahwa diklat tersebut merupakan bagian dari upaya PT KAI Daop 7 Madiun mempersiapkan diri menghadapi lonjakan penumpang dan peningkatan frekuensi perjalanan kereta api selama masa libur Lebaran 2026.

Baca juga: Studi EY: Mayoritas Perusahaan akan Tingkatkan Anggaran Keselamatan Kerja

Persiapan tidak hanya dilakukan pada aspek keandalan sarana dan prasarana, kata dia, tetapi juga pada penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) termasuk para masinis dan asisten masinis.

“Keselamatan perjalanan kereta api adalah yang utama, dan itu dimulai dari SDM yang kompeten,” ujar Tohari. *

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau