BLITAR, KOMPAS.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 7 Madiun menggelar pendidikan kilat (diklat) Refreshing Awak Sarana Perkeretaapian (ASP) Manual Tingkat Muda dengan Penggerak Non Listrik Angkatan I Tahun 2026.
Diklat yang diikuti oleh masinis dan asisten masinis kereta api di wilayah Daop 7 Madiun itu dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan mental dan teknis dalam menghadapi peningkatan perjalanan kereta api selama masa libur Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) 2026 mendatang.
Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan bahwa diklat tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan seluruh personel lapangan memiliki kesiapan mental dan teknis yang prima menjelang lonjakan penumpang di masa Angkutan Lebaran 2026.
Baca juga: Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
“Tujuan utama diklat ini untuk meningkatkan kompetensi, pemahaman, serta kesiapsiagaan awak sarana dalam menghadapi berbagai kondisi operasional di lapangan,” ujar Tohari melalui pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Awak Sarana Perkeretaapian (AS) adalah sebutan untuk masinis dan asisten masinis kereta api. Selama tiga hari berlangsungnya diklat, peserta mendapatkan tiga materi termasuk materi teknis bagaimana mengatasi gangguan operasional pada lokomotif.
“Pada materi ini peserta mendapatkan pengetahuan dan praktik cara mengatasi gangguan pada lokomotif, khususnya lokomotif jenis CC 201, CC 203, CC 204 dan CC 206,” ungkap Tohari menyebut tipe-tipe lokomotif yang paling sering digunakan PT KAI dalam perjalanan kereta api.
Lokomotif CC 206, lanjutnya, merupakan lokomotif diesel elektrik versi terbaru yang memiliki dua kabin masinis, di depan dan belakang.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi budaya keselamatan dan mitigasi risiko yang disampaikan oleh Tim Safety Inspector.
“Peserta yang merupakan para masinis dan asisten masinis juga menerima materi pendalaman tentang tugas dan kewenangan mereka dalam perjalanan kereta api,” ujarya.
“Keselamatan perjalanan kereta api adalah yang utama, dan itu dimulai dari SDM yang kompeten,” tambah Tohari.
Sebagai penutup rangkaian diklat, dilakukan praktik simulasi mengatasi gangguan operasional secara langsung pada lokomotif.
“Simulasi ini dirancang agar awak KA memiliki ketepatan dan kecepatan dalam menerapkan pedoman kerja saat menghadapi kondisi darurat di lintas,” tuturnya.
Tohari mengatakan bahwa diklat tersebut merupakan bagian dari upaya PT KAI Daop 7 Madiun mempersiapkan diri menghadapi lonjakan penumpang dan peningkatan frekuensi perjalanan kereta api selama masa libur Lebaran 2026.
Baca juga: Studi EY: Mayoritas Perusahaan akan Tingkatkan Anggaran Keselamatan Kerja
Persiapan tidak hanya dilakukan pada aspek keandalan sarana dan prasarana, kata dia, tetapi juga pada penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) termasuk para masinis dan asisten masinis.
“Keselamatan perjalanan kereta api adalah yang utama, dan itu dimulai dari SDM yang kompeten,” ujar Tohari. *
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya