KOMPAS.com-Laporan PBB menemukan bahwa ekspansi sektor jasa telah menciptakan lapangan kerja di Least Developed Countries atau negara-negara kurang berkembang (LDCs), namun produktivitas, pendapatan, dan keterkaitan industri masih tertinggal.
Melansir Down to Earth, Selasa (10/2/2026) sektor jasa kini menjadi sumber utama pertumbuhan dan lapangan kerja di seluruh negara-negara kurang berkembang di dunia.
Namun menurut laporan PBB, ekspansi tersebut belum membuahkan produktivitas yang lebih tinggi, pendapatan yang meningkat, atau pembangunan yang berbasis luas.
Laporan Negara-Negara Kurang Berkembang 2025, yang dirilis oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), mengatakan bahwa sektor jasa menyumbang hampir setengah dari output ekonomi di rata-rata LDC.
Namun, sebagian besar pekerjaan baru tetap informal, bergaji rendah, dan terkonsentrasi pada kegiatan yang menopang mata pencaharian tetapi tidak menghasilkan kemakmuran dalam skala besar.
Baca juga: Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
Meskipun peran sektor jasa semakin meningkat, pertumbuhan per kapita rata-rata di LDC tetap lemah pada tahun 2024, yang menggarisbawahi apa yang digambarkan laporan tersebut sebagai kesenjangan yang semakin lebar antara penciptaan lapangan kerja dan pekerjaan yang layak.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa penciptaan lapangan kerja kini menjadi kendala utama bagi pembangunan di negara-negara dengan ekonomi termiskin di dunia.
Antara sekarang hingga tahun 2050, LDC perlu menciptakan sekitar 13,2 juta lapangan kerja setiap tahun untuk menyerap tenaga kerja baru yang masuk ke pasar kerja. Meskipun sektor jasa telah menyerap banyak dari pertumbuhan angkatan kerja ini, peningkatan pendapatan tertinggal.
Lapangan kerja tetap didominasi oleh ritel informal, jasa pribadi, dan kegiatan subsisten. Kemiskinan pekerja tersebar luas, memperkuat temuan utama laporan bahwa tantangannya bukan hanya lebih banyak lapangan kerja, tetapi lapangan kerja yang lebih baik.
Produktivitas tenaga kerja di negara-negara kurang berkembang rata-rata 11 kali lebih rendah daripada di negara maju rata-rata, membatasi ruang lingkup sektor jasa untuk meningkatkan standar hidup tanpa perubahan struktural yang lebih luas.
UNCTAD pun menyebut sektor jasa hanya dapat mendukung transformasi struktural jika tertanam dalam strategi pembangunan nasional yang koheren dan terkait dengan sektor produktif lainnya.
Di banyak negara kurang berkembang, pertumbuhan sektor jasa masih lemah hubungannya dengan manufaktur, ekspor, dan peningkatan teknologi.
Jika sektor jasa ini tidak saling mendukung dengan industri lainnya, maka pertumbuhannya justru berisiko membuat negara tersebut semakin terpinggirkan, bukannya semakin maju.
Sektor manufaktur, yang dulunya menjadi kunci utama kenaikan produktivitas, kini cenderung jalan di tempat di negara-negara termiskin. Hal ini membuat sektor jasa berkembang hanya sebagai 'penampung' sisa tenaga kerja, bukan sebagai penggerak perubahan ekonomi.
Pariwisata adalah sumber uang luar negeri terbesar bagi negara-negara termiskin, menyumbang sepertiga dari seluruh pendapatan jasa mereka.
Tapi sayangnya, meski uang yang masuk dari turis sangat banyak, uang itu sering kali tidak menghasilkan banyak lapangan kerja bagi warga lokal, tidak memajukan bisnis, dan tidak membuat ekonomi negara tersebut berubah jadi lebih kuat.
Baca juga: CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
Laporan juga menyatakan bahwa keahlian pekerja dan fasilitas digital adalah faktor penentu utama agar sektor jasa bisa lebih maju dan produktif.
Di negara-negara termiskin, perempuan memiliki kemungkinan 42 persen lebih kecil dibandingkan laki-laki untuk menggunakan internet seluler.
Sementara itu, penduduk desa memiliki kemungkinan 50 persen lebih kecil untuk terhubung ke internet dibandingkan penduduk kota. Kesenjangan ini sangat membatasi akses mereka untuk mendapatkan pekerjaan di sektor jasa dengan gaji yang lebih baik.
UNCTAD menyimpulkan bahwa sektor jasa bukanlah 'jalan pintas' untuk menjadi negara maju. Strategi berbasis sektor jasa hanya bisa mendukung industri dan daya saing jika sektor tersebut mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat hubungan dengan pabrik dan pertanian, serta didukung oleh investasi pada internet, listrik yang stabil, pendidikan, dan keahlian pekerja.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa tanpa kebijakan yang tepat sasaran, pertumbuhan ekonomi yang hanya mengandalkan sektor jasa justru berisiko memperparah ketimpangan yang sudah ada, bukannya mengurangi ketimpangan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya