Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perancis Minta Warga Batasi Makan Daging Demi Iklim dan Kesehatan

Kompas.com, 12 Februari 2026, 19:17 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Pemerintah Perancis merilis laporan yang mengajak masyarakat untuk batasi konsumsi daging. Seruan ini tidak hanya demi kesehatan, tapi juga demi iklim.

Kebijakan ini tertuang dalam dokumen berjudul National Strategy for Food, Nutrition and Climate. Strategi tersebut memuat target pemerintah hingga tahun 2030, dengan fokus menyeimbangkan pola makan sehat sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Baca juga:

Laporan ini seharusnya terbit tahun 2023. Dokumen tersebut merupakan hasil dari inisiatif demokrasi langsung.

Namun, sejak awal, kebijakan ini menuai kontroversi. Lobi pertanian menilai pemerintah mengancam mata pencaharian peternak dan pelaku industri daging.

Perancis minta warga batasi makan daging

Pola makan baru menekankan buah, sayur, dan biji-bijian

Pemerintah Perancis mengimbau masyarakat membatasi konsumsi daging demi kesehatan dan iklim. SHUTTERSTOCK/hlphoto Pemerintah Perancis mengimbau masyarakat membatasi konsumsi daging demi kesehatan dan iklim.

Seruan untuk mengurangi daging memicu perdebatan di negara yang terkenal dengan hidangan, seperti steak-frites dan beef bourguignon. Budaya makan daging sangat kuat di Perancis.

Namun, bukti ilmiah menunjukkan, produksi daging menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Produksi pangan secara keseluruhan menyumbang seperempat emisi karbon Perancis. Dari angka tersebut, dua pertiganya berasal dari produksi daging.

Pemerintah sempat ragu dalam memilih kata. Apakah masyarakat diminta "mengurangi" atau hanya "membatasi" konsumsi daging.

Pada akhirnya, panduan resmi menggunakan istilah "membatasi" untuk konsumsi daging secara umum, termasuk daging olahan. Pemerintah juga mendorong "pengurangan" daging impor.

Selain itu, pedoman baru menekankan pola makan berbasis buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Pola makan ini dinilai lebih sehat dan lebih ramah iklim.

Baca juga:

Pemerintah Perancis mengimbau masyarakat membatasi konsumsi daging demi kesehatan dan iklim. wikimedia.org/https://www.flickr.com/photos/calliope Pemerintah Perancis mengimbau masyarakat membatasi konsumsi daging demi kesehatan dan iklim.

Stephanie Pierre dari France Assos Sante menyambut terbitnya laporan ini. Ia menyebut organisasinya sempat khawatir dokumen tersebut dibatalkan.

"Kami lega rencana ini diterbitkan, kami benar-benar khawatir rencana itu akan dibatalkan,” kata Pierre."

Namun ia menilai kebijakan ini belum cukup ambisius.

"Kami berharap rencana yang jauh lebih ambisius," ujarnya.

Kebijakan ini juga muncul di tengah dinamika politik internasional. Sebulan sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump mengubah rekomendasi lama.

Pemerintah AS justru mendorong konsumsi daging merah dan produk susu penuh lemak. Kebijakan itu membalikkan rekomendasi kesehatan selama beberapa dekade.

Dari sisi kesehatan, konsumsi daging merah berlebihan sering dikaitkan dengan risiko penyakit tertentu. Dari sisi iklim, peternakan menghasilkan emisi metana dalam jumlah besar. Gas ini memiliki dampak pemanasan yang kuat.

Pedoman baru Perancis dirilis menjelang pembukaan pameran pertanian tahunan pada 21 Februari di Paris.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau