Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perairan Romang-Damer Punya Keanekaragaman Hayati Terlengkap se-Asia

Kompas.com, 13 Februari 2026, 13:35 WIB
Priska Birahy,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

AMBON, KOMPAS.com - Perairan Pulau Romang dan Damer Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku punya keanekaragaman hayati terlengkap se-Asia.

 

Hal itu terungkap usai yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia melakukan ekspedisi kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya pada 2025. 

Ekspedisi yang melibatkan pihak kementerian, pemprov, pemkab, masyarakat setempat, influencer, wartawan dan pihak terkait itu memakan waktu lebih dari 1 bulan.

Baca juga: Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Erawan Asikin membenarkannya bahwa  laut Maluku  masih terjaga.

Beberapa indikator temuan itu yakni keberadaaan puluhan ekor dugong hingga terumbu karang yang diperkirakan berusia 200 tahun

“Jadi ada beberapa temuan penting yang mereka temukan ada kawanan dugong populasi yang cukup banyak 32 ekor. Kalau teman-teman WWF bilang itu di Indonesia paling besar dan salah satu yang besar di Asia,” jelasnya kepada kompas.com saat ditemui di ruangnnya Rabu (11/2/2026).

Kawanana dugong yang dimaksud merupakan residen dan tidak sedang bermigrasi. Mereka,  adalah penghuni perairan Romang dan Damer.

Hal itu membuktikan Romang-Damer punya bank makanan yang terjaga selama ratusan tahun.

“Terumbu karang itu kan tiap tahun di bertumbuh hanya beberapa sentimeter saja. Tim menghitung itu ada sekitar 200 tahun. Sudah sangat lama itu dan membuktikan kawasan itu benar-benar terjaga sampai karang subur dan hidup,” tegasnya.

Koridor Utama Migrasi Spesies Laut

Perairan Maluku Barat Daya juga menjadi koridor jalur migrasi utama untuk 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi.Di dalamnya termasuk paus biru, orca, hiu martil dan beberapa jenis penyu.

Baca juga: Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Tesso Nilo, Termasuk yang Terkaya di Dunia

Temuan terbaru ini menjadi penting sebagai bukti kekayaan biodiversifitas di Maluku dan Indonesia yang terjaga. Hal ini punya implikasi pada rencana pengelolaan. Dengan adanya temuan tersebut, pemerintah dan pihak terkait dapat menyesuaikan rencana pengelolaan yang relevan dengan kondisi sekarang.

“Jadi harus liat lagi rencananya, agar bisa mengakomodir temuan yang sekarang sehingga ada perhatian besar terhadap dua lokasi itu. apalagi pemberitaan dari WWV juga sudah kemana-mana ini pasti menjadi perhatian. Dampaknya bisa pada pendanaan pengelolaan di dula lokasi itu yang besar kedepannya,” paparnya.

Pemerintah kabupaten juga terlibat dalam ekspedisi tersebut. Menurut Erawan, dalam waktu dekat akan ada sosialisasi kepada masyarakat terkait temuan terbaru itu.

Mereka dilibatkan dalam pengelolaan kawasan perairan Romang-Damer. Bagaimanan kearifan lokal tetap menjaga benteng kekayaan hayati di situ. Termasuk mempertimbangkan dampak sosial ekonomi masyatakat yang berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau