AMBON, KOMPAS.com - Perairan Pulau Romang dan Damer Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku punya keanekaragaman hayati terlengkap se-Asia.
Hal itu terungkap usai yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia melakukan ekspedisi kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya pada 2025.
Ekspedisi yang melibatkan pihak kementerian, pemprov, pemkab, masyarakat setempat, influencer, wartawan dan pihak terkait itu memakan waktu lebih dari 1 bulan.
Baca juga: Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Erawan Asikin membenarkannya bahwa laut Maluku masih terjaga.
Beberapa indikator temuan itu yakni keberadaaan puluhan ekor dugong hingga terumbu karang yang diperkirakan berusia 200 tahun
“Jadi ada beberapa temuan penting yang mereka temukan ada kawanan dugong populasi yang cukup banyak 32 ekor. Kalau teman-teman WWF bilang itu di Indonesia paling besar dan salah satu yang besar di Asia,” jelasnya kepada kompas.com saat ditemui di ruangnnya Rabu (11/2/2026).
Kawanana dugong yang dimaksud merupakan residen dan tidak sedang bermigrasi. Mereka, adalah penghuni perairan Romang dan Damer.
Hal itu membuktikan Romang-Damer punya bank makanan yang terjaga selama ratusan tahun.
“Terumbu karang itu kan tiap tahun di bertumbuh hanya beberapa sentimeter saja. Tim menghitung itu ada sekitar 200 tahun. Sudah sangat lama itu dan membuktikan kawasan itu benar-benar terjaga sampai karang subur dan hidup,” tegasnya.
Perairan Maluku Barat Daya juga menjadi koridor jalur migrasi utama untuk 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi.Di dalamnya termasuk paus biru, orca, hiu martil dan beberapa jenis penyu.
Baca juga: Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Tesso Nilo, Termasuk yang Terkaya di Dunia
Temuan terbaru ini menjadi penting sebagai bukti kekayaan biodiversifitas di Maluku dan Indonesia yang terjaga. Hal ini punya implikasi pada rencana pengelolaan. Dengan adanya temuan tersebut, pemerintah dan pihak terkait dapat menyesuaikan rencana pengelolaan yang relevan dengan kondisi sekarang.
“Jadi harus liat lagi rencananya, agar bisa mengakomodir temuan yang sekarang sehingga ada perhatian besar terhadap dua lokasi itu. apalagi pemberitaan dari WWV juga sudah kemana-mana ini pasti menjadi perhatian. Dampaknya bisa pada pendanaan pengelolaan di dula lokasi itu yang besar kedepannya,” paparnya.
Pemerintah kabupaten juga terlibat dalam ekspedisi tersebut. Menurut Erawan, dalam waktu dekat akan ada sosialisasi kepada masyarakat terkait temuan terbaru itu.
Mereka dilibatkan dalam pengelolaan kawasan perairan Romang-Damer. Bagaimanan kearifan lokal tetap menjaga benteng kekayaan hayati di situ. Termasuk mempertimbangkan dampak sosial ekonomi masyatakat yang berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya