Deputi Direktur INFID, Bona Tua menjelaskan hutan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi dan fungsi ekologis paling penting terus mengalami degradasi dan konversi berskala besar.
Baca juga: Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati
"Ini mencerminkan tekanan serius dari deforestasi jangka panjang yang berdampak langsung pada krisis iklim, hilangnya biodiversitas, serta meningkatnya risiko bencana ekologis," kata Bona, dikutip Senin (5/1/2026).
Deforestasi, lanjut dia, turut memicu banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November 2025 lalu. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), deforestasi mencapai 1,4 juta hektare sepanjang 2016-2025 di tiga provinsi tersebut.
Bona menyebutkan penyebabnya ialah aktivitas ratusan perusahaan, yang merusak daerah aliran sungai (DAS) penting di bentang Bukit Barisan seperti Batang Toru, Sumatera Utara; DAS Krueng Trumon, Singkil, Peusangan, dan Tripa di Aceh; serta DAS Aia Dingin di Sumatera Barat.
"Kerusakan hutan di wilayah hulu DAS secara signifikan menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, memperparah banjir bandang dan longsor," tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya