Penulis
Salah satu contoh bisa dilihat di Great Barrier Reef di Australia. Terumbu karang terbesar di dunia ini mengalami peningkatan tekanan panas puncak setiap tahun antara 2014 hingga 2017.
Profesor fisika di James Cook University, Scott Heron mengatakan bahwa terumbu karang saat ini tidak memiliki cukup waktu untuk pulih sebelum gelombang panas berikutnya datang.
“Kami melihat bahwa terumbu tidak punya waktu untuk pulih dengan baik sebelum peristiwa pemutihan berikutnya terjadi,” ujar Heron.
Laporan ilmiah besar tahun lalu bahkan memperingatkan bahwa terumbu karang tropis dunia kemungkinan telah mencapai titik kritis atau tipping point, kondisi ketika perubahan besar dan permanen bisa terjadi pada sistem alam.
Baca juga:
Konsensus ilmiah global menyebut sebagian besar terumbu karang akan punah jika suhu global naik 1,5 derajat celsius di atas level pra-industri. Batas ini menjadi target ambisius dalam Perjanjian Paris.
Namun, layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan bahwa suhu global rata-rata telah melampaui 1,5 derajat celsius pada periode 2023–2025.
Connolly mengatakan ,para ilmuwan masih menganalisis dampak peristiwa pemutihan terbaru.
Namun, tingkat tekanan panas pada 2023–2024 disebut sangat luar biasa. Di beberapa wilayah, tingkatnya setara atau bahkan lebih tinggi dibanding 2014–2017.
Garis pantai Pasifik Panama mengalami tekanan panas yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Para peneliti mengamati kematian karang dalam jumlah besar di wilayah tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya