Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017

Kompas.com, 15 Februari 2026, 20:26 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Lebih dari setengah, atau 51 persen, terumbu karang di dunia mengalami pemutihan tingkat sedang hingga parah akibat gelombang panas dari 2014 sampai 2017. 

Sementara itu, sebanyak 15 persen lainnya mengalami kematian signifikan, menurut studi yang terbit di jurnal Nature Communications. Periode ini dikenal sebagai Third Global Bleaching Event.

Baca juga:

"Ini adalah peristiwa pemutihan terumbu karang yang paling parah dan meluas dalam catatan. Namun, terumbu karang saat ini sedang mengalami peristiwa keempat yang bahkan lebih parah, yang dimulai pada awal 2023," ucap penulis studi sekaligus ilmuwan senior di Smithsonian Tropical Research Institute yang berbasis di Panama, Sean Connolly, dilansir dari AFP, Minggu (15/2/2026).

51 persen terumbu karang memutih akibat gelombang panas

Mengapa gelombang panas bisa memutihkan terumbu karang?

Studi terbaru mengungkap 51 persen terumbu karang dunia memutih akibat gelombang panas 2014–2017.Dok. Wikimedia Commons/Ananda Ellis/NOAA Studi terbaru mengungkap 51 persen terumbu karang dunia memutih akibat gelombang panas 2014–2017.

Saat suhu laut meningkat drastis, karang mengeluarkan alga mikroskopis yang hidup di jaringan mereka. Alga ini memberi warna khas pada karang dan menjadi sumber makanan utama.

Tanpa alga, karang berubah menjadi putih. Kondisi ini disebut bleaching atau pemutihan.

Jika suhu laut tidak kembali normal dalam waktu cukup cepat, karang tidak mampu pulih sehingga akan mati karena kelaparan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa dampak pemanasan laut terhadap terumbu karang semakin cepat, dengan kepastian hampir mutlak bahwa pemanasan yang sedang berlangsung akan menyebabkan degradasi besar-besaran, mungkin tidak dapat dibalikkan, pada ekosistem penting ini," tulis para peneliti.

Baca juga:

Data dari 15.000 survei di seluruh dunia

Tim ilmuwan internasional menganalisis lebih dari 15.000 survei bawah laut dan survei udara selama periode 2014–2017. Data tersebut digabung dengan pengukuran tekanan panas berbasis satelit.

Para peneliti menggunakan model statistik untuk memperkirakan tingkat pemutihan secara global.

Hasilnya menunjukkan bahwa peristiwa 2014–2017 adalah pertama kalinya pemutihan global berlangsung lebih dari satu tahun.

Dua peristiwa global sebelumnya terjadi pada tahun 1998 dan 2010. Keduanya hanya berlangsung sekitar satu tahun. Peristiwa 2014–2017 jauh lebih lama dan lebih luas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau