Ketiga, perforasi yang ditandai terbentuknya lubang-lubang di dalam bentang hutan akibat pembukaan lahan.
Keempat adalah shrinkage. Jika tekanan terus berlangsung, fragmen hutan yang tersisa berangsur-angsur akan mengalami penyusutan luas.
Pada fase paling lanjut terjadi attrition yaitu ketika fragmen-fragmen kecil hilang sepenuhnya akibat degradasi berkelanjutan.
“Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian. Karena berjalan perlahan, sering kali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis,” ucap Hendra.
Menurutnya, akumulasi perubahan tersebut mendorong ekosistem menuju titik kritis yang sulit dipulihkan.
Hendra menyatakan, degradasi awal sebenarnya bisa dikenali dari terganggunya spesies kunci.Di Sumatera, misalnya, lewat peningkatan konflik harimau sumatera dan manusia.
“Ketika harimau masuk ke permukiman atau melintasi jalan raya, itu bukan hanya soal konflik. Itu indikator bahwa habitatnya sudah tidak lagi utuh dan sehat,” tutur dia.
Baca juga:
Arsip foto bencana banjir bandang yang melanda Malalak, Agam pada akhir November 2025. BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?Hendra turut menggarisbawahi menanam pohon tak berarti langsung memulihkan ekosistem.
Di samping itu, penghentian eksploitasi hutan saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Sebab, banyak ekosistem yang terdegradasi membutuhkan langkah pemulihan sistematis dan terintegrasi.
“Ekosistem yang sudah rusak perlu dipulihkan dengan pendekatan terpadu lintas sektor dan berbasis bentang alam,” sebut Hendra.
Artinya, diperlukan pemulihan fungsi dan proses ekologis melalui pendekatan ilmiah berbasis ekosistem.
Konsistensi kebijakan antar sektor, integrasi antara konservasi, restorasi dan pembangunan, serta kolaborasi nyata antara pemerintah dengan dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dibutuhkan untuk rehabilitasi hutan.
Tahun lalu, banjir bandang yang sangat merusak melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat dengan 1.189 jiwa tewas per Senin (12/1/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 141 orang dinyatakan hilang dan 195.542 jiwa masih mengungsi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya