JAKARTA, KOMPAS.com - Di sela-sela aktivitasnya menjadi pemulung, Rusmini (55) membantu mengolah sampah organik dari rumah tangga dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekitar Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Rusmini biasanya memulung bersama suaminya dari pukul 22.00 WIB sampai 03.00 WIB. Dengan menarik gerobak, ia berjalan kaki mengumpulkan sampah botol plastik dari jenis polyethylene terephthalate (PET) hingga ke Pulogadung, dengan penghasilan Rp 300.000 dalam dua minggu.
Baca juga:
Dalam mengolah sampah organik, Rusmini memanfaatkan budi daya maggot. Ia juga mengolahnya menjadi kompos.
Rusmini menganggap mengelola sampah organik bukan sebagai beban kerja tambahan. Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, yang merantau ke Jakarta tahun 2005 ini berharap program pengelolaan sampah organik ini terus berlanjut.
"Senang saja, dapat duit. Daripada di rumah suntuk, enggak ada kerjaan. Setelah nyari (memulung), memasak. Setelahnya, langsung ke sini, kan bisa kumpul-kumpul sama teman-teman," ucap Rusmini kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Fasilitas tempat Rusmini bekerja ini mengolah sampah organik dari dua dapur MBG di Kacamatan Duret Sawit dan Matraman.
Di lokasi itu tersedia tempat penetasan dan pembesaran maggot, kandang ayam petelur, serta budi daya ikan nila dengan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) di delapan kolam terpal bundar.
Adapun sekitar 50-60 kilogram maggot dijual ke off-taker per minggu, dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Sebagian maggot sisanya digunakan untuk pakan alternatif ayam petelur dan ikan nila.
Selain Rusmini, ada 14 orang anggota lainnya, dengan rentan usia 19-55 tahun, yang turut mengurus fasilitas yang dibangun bulan Oktober 2025 lalu ini.
Pada Januari 2026 lalu, anggota yang terlibat dalam pengelolaan tersebut memperoleh penghasilan tambahan Rp 150.000 per orang, termasuk Rusmini.
Baca juga:
Rusmini, salah satu pemulung yang bekerja di fasilitas pengolahan sampah organik berbasis komunitas di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada Jumat (13/2/2026).Pengolahan sampah organik ini merupakan bagian dari proyek percontohan Recycle Me Zone oleh Yayasan Mahija Parahita Nusantara (Mahija) bersama Coca-Cola Indonesia.
Fasilitas ini berbeda dengan program Recycle Me Zone sebelumnya yang berfokus pada daur ulang botol PET.
Proyek percontohan Recycle Me Zone tersebut mengembangkan pengolahan sampah organik sebagai jalur baru untuk ketahanan ekonomi para pemulung sebagai pekerja sektor informal.
Senior Director Public Affairs, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo mengatakan, para pemulung tidak bisa membangun hidup yang layak hanya dengan mengandalkan mengumpulkan botol-botol PET bekas.
"Kami tidak ingin generasi berikutnya (dari komunitas pemulung) tidak punya harapan masa depan. Saya tidak bisa ngomong mungkin 30 tahun ke depan apakah profesi daur ulang ini masih layak atau tidak. Tapi, paling tidak, yang sekarang terjadi di Indonesia, jumlah mereka banyak dan kami melihat bahwa salah satu solusinya memanfaatkan sampah organik untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi sebagai penghasilan tambahan bagi mereka," jelas Triyono.
Budi daya ikan nila dengan sistem RAS dalam kolam terpal bundar di fasilitas pengolahan sampah organik berbasis komunitas pemulung di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada Jumat (13/2/2026).Ketua Yayasan Mahija Parahita Nusantara, Ardhina Zaiza mengatakan, para pemulung membutuhkan sumber penghasilan lebih beragam dan berkelanjutan.
Para pemulung yang selama ini mengumpulkan botol plastik PET, perlu dibekali keterampilan untuk mengelola berbagai jenis aliran sampah.
Langkah ini supaya para pemulung dapat bertransformasi dari pengumpul satu jenis material, menjadi wirausahawan lingkungan berbasis komunitas.
Baca juga:
Proyek percontohan ini memanfaatkan pendanaan dari Program Recycle Me untuk memberikan pelatihan intensif dan aplikatif dalam pengolahan sampah organik.
Melalui inisiatif ini, para pemulung peserta pelatihan bisa memperoleh kemampuan untuk mengurangi sampah, sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti kompos dan pakan ternak lokal.
Yayasan Mahija Parahita Nusantara, kata dia, mempunyai visi untuk memperkuat posisi dan kapasitas para pekerja informal dalam rantai pasok daur ulang.
“Dengan mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi kompos serta pakan ternak alternatif yang diproduksi secara lokal dari limbah organik, mereka tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi rumah tangga dan penghidupan mereka," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya