Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit

Kompas.com, 16 Februari 2026, 17:05 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Di sela-sela aktivitasnya menjadi pemulung, Rusmini (55) membantu mengolah sampah organik dari rumah tangga dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekitar Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Rusmini biasanya memulung bersama suaminya dari pukul 22.00 WIB sampai 03.00 WIB. Dengan menarik gerobak, ia berjalan kaki mengumpulkan sampah botol plastik dari jenis polyethylene terephthalate (PET) hingga ke Pulogadung, dengan penghasilan Rp 300.000 dalam dua minggu.

Baca juga:

Cerita Rusmini bantu mengolah sampah organik MBG

Memanfaatkan budi daya maggot dan kompos

Dalam mengolah sampah organik, Rusmini memanfaatkan budi daya maggot. Ia juga mengolahnya menjadi kompos. 

Rusmini menganggap mengelola sampah organik bukan sebagai beban kerja tambahan. Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, yang merantau ke Jakarta tahun 2005 ini berharap program pengelolaan sampah organik ini terus berlanjut.

"Senang saja, dapat duit. Daripada di rumah suntuk, enggak ada kerjaan. Setelah nyari (memulung), memasak. Setelahnya, langsung ke sini, kan bisa kumpul-kumpul sama teman-teman," ucap Rusmini kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026). 

Fasilitas tempat Rusmini bekerja ini mengolah sampah organik dari dua dapur MBG di Kacamatan Duret Sawit dan Matraman.

Di lokasi itu tersedia tempat penetasan dan pembesaran maggot, kandang ayam petelur, serta budi daya ikan nila dengan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) di delapan kolam terpal bundar.

Adapun sekitar 50-60 kilogram maggot dijual ke off-taker per minggu, dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Sebagian maggot sisanya digunakan untuk pakan alternatif ayam petelur dan ikan nila.

Selain Rusmini, ada 14 orang anggota lainnya, dengan rentan usia 19-55 tahun, yang turut mengurus fasilitas yang dibangun bulan Oktober 2025 lalu ini.

Pada Januari 2026 lalu, anggota yang terlibat dalam pengelolaan tersebut memperoleh penghasilan tambahan Rp 150.000 per orang, termasuk Rusmini. 

Baca juga:

Diversifikasi penghasilan pemulung

Jalur baru untuk ketahanan ekonomi pekerja sektor informal

Rusmini, salah satu pemulung yang bekerja di fasilitas pengolahan sampah organik berbasis komunitas di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada Jumat (13/2/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Rusmini, salah satu pemulung yang bekerja di fasilitas pengolahan sampah organik berbasis komunitas di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada Jumat (13/2/2026).

Pengolahan sampah organik ini merupakan bagian dari proyek percontohan Recycle Me Zone oleh Yayasan Mahija Parahita Nusantara (Mahija) bersama Coca-Cola Indonesia.

Fasilitas ini berbeda dengan program Recycle Me Zone sebelumnya yang berfokus pada daur ulang botol PET.

Proyek percontohan Recycle Me Zone tersebut mengembangkan pengolahan sampah organik sebagai jalur baru untuk ketahanan ekonomi para pemulung sebagai pekerja sektor informal.

Senior Director Public Affairs, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo mengatakan, para pemulung tidak bisa membangun hidup yang layak hanya dengan mengandalkan mengumpulkan botol-botol PET bekas.

"Kami tidak ingin generasi berikutnya (dari komunitas pemulung) tidak punya harapan masa depan. Saya tidak bisa ngomong mungkin 30 tahun ke depan apakah profesi daur ulang ini masih layak atau tidak. Tapi, paling tidak, yang sekarang terjadi di Indonesia, jumlah mereka banyak dan kami melihat bahwa salah satu solusinya memanfaatkan sampah organik untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi sebagai penghasilan tambahan bagi mereka," jelas Triyono.

Budi daya ikan nila dengan sistem RAS dalam kolam terpal bundar di fasilitas pengolahan sampah organik berbasis komunitas pemulung di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada Jumat (13/2/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Budi daya ikan nila dengan sistem RAS dalam kolam terpal bundar di fasilitas pengolahan sampah organik berbasis komunitas pemulung di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada Jumat (13/2/2026).

Ketua Yayasan Mahija Parahita Nusantara, Ardhina Zaiza mengatakan, para pemulung membutuhkan sumber penghasilan lebih beragam dan berkelanjutan.

Para pemulung yang selama ini mengumpulkan botol plastik PET, perlu dibekali keterampilan untuk mengelola berbagai jenis aliran sampah. 

Langkah ini supaya para pemulung dapat bertransformasi dari pengumpul satu jenis material, menjadi wirausahawan lingkungan berbasis komunitas.

Baca juga:

Proyek percontohan ini memanfaatkan pendanaan dari Program Recycle Me untuk memberikan pelatihan intensif dan aplikatif dalam pengolahan sampah organik.

Melalui inisiatif ini, para pemulung peserta pelatihan bisa memperoleh kemampuan untuk mengurangi sampah, sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti kompos dan pakan ternak lokal.

Yayasan Mahija Parahita Nusantara, kata dia, mempunyai visi untuk memperkuat posisi dan kapasitas para pekerja informal dalam rantai pasok daur ulang.

“Dengan mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi kompos serta pakan ternak alternatif yang diproduksi secara lokal dari limbah organik, mereka tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi rumah tangga dan penghidupan mereka," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau