KOMPAS.com - Peneliti dalam studi barunya memperingatkan krisis iklim dapat memicu keruntuhan finansial global seiring kenaikan suhu melampaui 2 derajat C.
Sayangnya, pemerintah dan investor masih menggunakan model ekonomi yang terlalu optimis dan menganggap dampak iklim akan terjadi secara bertahap dan hanya akan mengurangi sedikit pertumbuhan ekonomi, padahal kenyataannya bisa menghancurkan seluruh sektor industri.
Melansir Independent, Kamis (5/2/2026) analisis menemukan bahwa seiring meningkatnya pemanasan global, kerusakan iklim lebih mungkin datang melalui cuaca ekstrem, gangguan yang merembet, dan titik kritis, alih-alih melalui perubahan yang lambat dan dapat dikelola terhadap pertumbuhan ekonomi.
Risiko-risiko tersebut, menurut para peneliti sebagian besar tidak ada dalam perangkat yang digunakan untuk memandu kebijakan publik dan keputusan investasi.
Baca juga: UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
Penelitian yang dipimpin oleh Universitas Exeter di Inggris dan bekerja sama dengan lembaga think tank Carbon Tracker ini berdasarkan pada lebih dari 60 ilmuwan iklim di 12 negara.
Peneliti dalam studinya menyimpulkan, di atas kenaikan suhu 2 derajat C, kerusakan iklim kemungkinan akan menjadi struktural dan berlipat ganda, mengganggu berbagai sektor sekaligus dan mengancam kondisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi.
Ambang batas 2 derajat C dari Perjanjian Paris mengacu pada kenaikan 2 derajat C di atas suhu pra-industri, suatu tingkat yang menurut para ilmuwan akan secara tajam meningkatkan risiko cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem yang tidak dapat dipulihkan, dan gangguan ekonomi.
"Jika suhu Bumi naik lebih dari 2 derajat C, kita tidak lagi berurusan dengan penyesuaian ekonomi yang bisa dikelola," kata Jesse Abrams, penulis utama laporan.
Abrams menjelaskan pula para ilmuwan iklim yang disurvei mengungkapkan dengan jelas bahwa model ekonomi saat ini secara sistematis meremehkan kerusakan iklim.
Pasalnya, model iklim tidak dapat menangkap hal yang paling krusial yaitu kegagalan yang beruntun, efek ambang batas, dan guncangan yang berlipat ganda yang mendefinisikan risiko iklim di dunia yang lebih panas.
Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa ukuran yang umum digunakan seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dapat menyembunyikan biaya nyata dari kerusakan iklim.
PDB dapat meningkat setelah terjadinya bencana karena adanya pengeluaran untuk rekonstruksi, bahkan ketika angka kematian, gangguan kesehatan, ketimpangan, hilangnya ekosistem, dan kekacauan sosial meningkat. Hal ini dapat membuat para pembuat kebijakan dan investor terjebak dalam rasa ketangguhan yang semu.
Mark Campanale, pendiri dan kepala eksekutif Carbon Tracker, mengatakan pemodelan yang cacat itu pun akhirnya mendorong sikap puas diri serta meremehkan risiko iklim.
Lebih lanjut, alih-alih mengejar prediksi yang presisi, laporan pun mendesak para regulator dan bank sentral untuk fokus dalam melindungi sistem keuangan dari dampak yang menyebabkan destabilisasi.
Laporan kemudian menyerukan penekanan yang lebih besar pada skenario ekstrem, risiko yang berlipat ganda serta kerentanan sistemik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya