KOMPAS.com - Selandia Baru menyoroti besarnya potensi Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lahendong, Sulawesi Utara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini disampaikan Duta Besar Pemerintah Selandia Baru untuk Indonesia, H E Phillip Taula, dalam kerja sama sister city antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara dengan Selandia Baru, Kamis (12/2/2026).
“Potensi panas bumi di Lahendong merupakan aset strategis yang luar biasa. Kami mendukung pengembangan panas bumi di Lahendong melalui kerja sama teknis, peningkatan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan antara institusi riset, universitas, dan sektor industri," kata Taula dalm keterangnnya, Selasa (17/2/2026).
Adapun kemitraan sister city disebut membuka peluang kolaborasi di berbagai sektor strategis termasuk pengembangan energi bersih panas bumi, pariwisata berkelanjutan, pertanian, perdagangan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Baca juga: Produksi Listrik Panas Bumi KS Orka Renewables Lampaui 1 Juta MWh
Sulawesi Utara dan Selandia Baru memiliki kesamaan karakteristik, mulai dari potensi panas bumi yang besar, kekayaan sektor pariwisata dan agrikultur, hingga nilai budaya yang kuat.
Kesamaan tersebut menjadi fondasi penting bagi pertukaran pengetahuan, peningkatan kerja sama teknis, serta penciptaan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi kedua wilayah.
"Dengan kepemimpinan daerah yang kuat, panas bumi dapat menjadi industri jangkar yang menarik investasi, membentuk klaster industri hijau, dan meningkatkan daya saing regional di tingkat nasional dan kawasan Asia Pasifik,” imbuh Taula.
Sementara itu, PLH Sekretaris Daerah Sulawesi Utaram Denny Mangala berharap agar kerja sama sister city ini dapat memberikan manfaat yang konkret.
“Melalui program ini, kami berharap terjadi transfer pengetahuan dan teknologi yang konkret, peningkatan kapasitas SDM, serta terbukanya peluang investasi baru yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” ucap Denny.
Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, mengaku menyambut baik penjajakan kerja sama kedua negara yang mendorong Sulawesi Utara untuk menjadi garda terdepan pemanfaatan energi hijau nasional.
Pemerintah, kata dia, ingin panas bumi menjadi sumberenergi listrik bersih sekaligus menyejahterakan masyarakat.
“Kemitraan dengan Selandia Baru ini diharapkan menghasilkan rencana aksi yang konkret, sehingga Sulawesi Utara dapat menjadi provinsi terdepan dalam pembangunan hijau menuju the greenest electricity,” jelas Eniya.
Baca juga: Wacana Pemangkasan Produksi Batu Bara Dinilai Harus Tingkatkan Bauran EBT
PT Pertamina Geothermal Energy Area (PGE) Lahendong mengoperasikan enam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas 120 megawatt (MW), setara dengan pemenuhan 24 persen kebutuhan listrik di wilayah Sulawesi Utara.
Operasional PLTP berkontribusi pada potensi pengurangan emisi hingga 624.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun. PGE juga tengah mengakselerasi pengembangan PLTP Lahendong Unit 7 & 8 berkapasitas 2x20 MW, serta binary unit berkapasitas 15 MW.
Direktur Utama PT PGE, Ahmad Yani menyampaikan bahwa PGE Area Lahendong merupakan salah satu wilayah kerja unggulan PGE dan contoh nyata kontribusi panas bumi bagi pembangunan daerah.
“Selain menghasilkan listrik bersih, PGE berkontribusi langsung terhadap pendapatan daerah melalui PNBP panas bumi, bonus produksi, serta 1 persen pendapatan yang disalurkan langsung ke kas daerah. Ini menjadi modal penting bagi daerah untuk mengembangkan program pembangunan berkelanjutan,” tutur dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya