Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan

Kompas.com, 17 Februari 2026, 16:31 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Robert Walters Salary Survey 2026 mengungkapkan bahwa 81 persen perusahaan di Indonesia menilai kualitas kandidat karyawan belum sesuai dengan peran yang dicari.

Pasar rekrutmen tahun ini masih tergolong aktif, namun makin banyak korporasi menghadapi tantangan dalam mendapatkan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan bisnis seiring meningkatnya ekspektasi dari perusahaan maupun profesional.

Pendekatan perusahaan disebut kian selektif, dengan fokus pada peran-peran yang berdampak langsung terhadap kinerja serta pertumbuhan bisnis.

“Perusahaan di Indonesia masih aktif merekrut, namun pendekatannya kini jauh lebih selektif. Fokus utama adalah memastikan keterampilan dan pengalaman yang tepat mengisi peran-peran penting, sehingga tantangan dalam menemukan kandidat yang sesuai terasa semakin nyata," kata Country Head Robert Walters Indonesia & Vietnam, Eric Mary dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja

Strategi remunerasi pun mencerminkan pendekatan yang lebih terukur. Sebagian besar perusahaan memilih kenaikan gaji kisaran 3-6 persen sebagai bagian dari pengelolaan biaya yang lebih disiplin, kendati masih direncanakan.

Mary menilai, kondisi itu turut berdampak pada proses perekrutan yang memakan waktu lebih lama dengan tingkat persaingan tinggi bagi profesional berpengalaman dan spesialis.

Sejauh ini, minat terhadap peluang kerja baru para pekerja profesional masih tinggi. Keputusan berpindah peran pun dilakukan dengan pertimbangan yang lebih matang.

Di tengah rencana kenaikan gaji perusahaan yang relatif moderat, profesional umumnya mengharapkan kenaikan dengan persentase dua digit ketika berganti pekerjaan. Perusahaan mencatat, ekspektasi tersebut umumnya hanya dapat dipenuhi untuk posisi yang bersifat spesialis, berpengalaman, dan krusial bagi bisnis.

Baca juga: Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan

Associate Director, Sales & Marketing and Commerce Finance Robert Walters Indonesia, Michelle Tanjung menuturkan para profesional juga jauh lebih selektif memilih perusahaan.

"Kandidat kini semakin mempertimbangkan kejelasan kepemimpinan, ruang lingkup peran, serta nilai karier jangka panjang sebelum mengambil keputusan," beber dia.

Seiring perusahaan dan profesional sama-sama bersikap lebih selektif, pasar tenaga kerja Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap aktif di tengah kondisi yang makin kompleks.

Keberhasilan perekrutan ke depan tidak lagi ditentukan oleh volume semata, melainkan keselarasan antara ekspektasi gaji, kesiapan keterampilan, kecepatan proses rekrutmen, serta nilai karier jangka panjang.

Survei Robert Walters turut menemukan adanya percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial Intelligence/AI) di berbagai perusahaan. Enam dari 10 perusahaan telah mengimplementasikan atau berencana mengadopsi AI, yang berdampak pada perubahan struktur peran dan keterampilan. 

Sementara itu, kekhawatiran terkait kesiapan dan akses terhadap pelatihan masih menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan ketersediaan talenta yang siap kerja.

AI yang Mengancam 

Teknologi AI global diprediksi akan merugikan Asia lantaran banyak negara belum dilengkapi infrastruktur digital yang memadai untuk bersaing dalam otomatisasi berbasis AI. Akibatnya, jutaan lapangan pekerjaan berisiko tergantikan oleh teknologi yang berkembang pesat di negara-negara kaya, menurut para ekonom Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dikutip dari laman resmi United Nations, Selasa (2/11/2025) China, Singapura, dan Korea Selatan telah berinvestasi besar-besaran dan mendapatkan manfaat besar dari AI, tetapi para pekerja tingkat pemula di banyak negara terdampak signifikan terhadap perubahan yang sudah terjadi termasuk otomatisasi.

PBB dalam sebuah laporan baru juga menyoroti bahwa perempuan dan orang dewasa muda menghadapi ancaman terbesar dari AI di tempat kerja.

Jika tren otomatisasi ini tidak dikelola, kemajuan yang dicapai Asia di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi dapat terhenti atau mundur karena hilangnya pekerjaan.

"Infrastruktur, keterampilan, daya komputasi, dan kapasitas tata kelola yang terbatas membatasi potensi manfaat AI sekaligus memperbesar risiko, termasuk hilangnya pekerjaan, eksklusi data, dan dampak tidak langsung seperti meningkatnya permintaan energi dan air global dari sistem yang intensif AI," tulis UNDP, salah satu badan PBB, dalam laporannya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau