Editor
KOMPAS.com - Plastik kemasan makanan biasanya dipakai hanya beberapa saat, tapi limbahnya bertahan puluhan tahun. Ia berpindah dari tempat sampah ke selokan, lalu berakhir di laut.
Pada saat yang sama, sisa kulit udang dan kepiting dari aktivitas konsumsi juga menumpuk begitu saja tanpa pernah dimanfaatkan. Dari dua jenis limbah itu, plastik-lah yang terus bertambah dan paling sulit terurai, termasuk di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Baca juga:
Kondisi ini mengusik tim Echo Chemistry yang beranggotakan Aisyah Jihady, Akifah Nurul, Alifah Dzatil, Rezky Januari, dan Shaniatul Mardiah dari MAN 1 Kendari. Mereka melihat bahan alami yang melimpah dibiarkan percuma, sedangkan kemasan sekali pakai semakin memenuhi lingkungan.
Dari kegelisahan tersebut lahirlah proyek Komposit Kitosan Biodegradable, upaya untuk menghadirkan kemasan makanan yang lebih ramah bagi laut.
Siswa MAN 1 Kendari mengolah limbah kulit udang dan kepiting menjadi alternatif kemasan ramah lingkungan.Para anggota tim mengaku semula memandang bungkus makanan yang tercecer di halaman sekolah perlahan menjadi pemandangan biasa, dan tidak terusik sama sekali.
Baru setelah mereka mengamati lebih dekat, dampaknya terlihat lebih nyata.
Ternyata saluran air mulai tersumbat, lingkungan menjadi kotor, dan bayangan pencemaran laut terasa semakin dekat dengan kehidupan mereka.
Di sisi lain, mereka juga menyadari sebuah ironi. Setiap hari, sisa kulit kepiting dan udang dari warung makan serta rumah tangga dibuang begitu saja. Padahal bahan itu mengandung kitosan, senyawa yang dapat diolah menjadi material biodegradable.
Dari pertemuan dua kenyataan itulah muncul gagasan untuk mengubah limbah laut menjadi alternatif pengganti plastik.
Perjalanan mengembangkan proyek ini perlahan mengubah cara mereka memandang diri.
Pada awalnya, isu lingkungan terasa terlalu besar untuk ditangani siswa seperti mereka. Namun, proses penelitian kecil-kecilan, diskusi, dan percobaan membuat mereka lebih percaya bahwa langkah sederhana pun ternyata bisa menjadi berarti.
Mereka belajar untuk menyampaikan pendapat, membagi peran, dan berani mencoba meski belum yakin akan hasilnya.
Perjalanannya lebih berliku dari yang mereka bayangkan. Perbedaan pandangan dalam tim sempat memunculkan kebingungan untuk menentukan arah proyek ini akan jadi bagaimana. Ada saat ketika rasa lelah juga membuat mereka ragu untuk melanjutkannya.
Namun, kesadaran bahwa persoalan plastik adalah masalah nyata di sekitar menjadi alasan mereka untuk bertahan. Mereka memilih melihat proses ini sebagai bagian dari perjalanan bersama, tempat setiap orang belajar untuk mendengarkan dan saling menguatkan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya