Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 18 Februari 2026, 09:18 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Plastik kemasan makanan biasanya dipakai hanya beberapa saat, tapi limbahnya bertahan puluhan tahun. Ia berpindah dari tempat sampah ke selokan, lalu berakhir di laut.

Pada saat yang sama, sisa kulit udang dan kepiting dari aktivitas konsumsi juga menumpuk begitu saja tanpa pernah dimanfaatkan. Dari dua jenis limbah itu, plastik-lah yang terus bertambah dan paling sulit terurai, termasuk di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Baca juga:

Kondisi ini mengusik tim Echo Chemistry yang beranggotakan Aisyah Jihady, Akifah Nurul, Alifah Dzatil, Rezky Januari, dan Shaniatul Mardiah dari MAN 1 Kendari. Mereka melihat bahan alami yang melimpah dibiarkan percuma, sedangkan kemasan sekali pakai semakin memenuhi lingkungan.

Dari kegelisahan tersebut lahirlah proyek Komposit Kitosan Biodegradable, upaya untuk menghadirkan kemasan makanan yang lebih ramah bagi laut.

Siswa MAN 1 Kendari olah limbah udang dan kepiting

Langkah sederhana menjadi hal yang berarti

Siswa MAN 1 Kendari mengolah limbah kulit udang dan kepiting menjadi alternatif kemasan ramah lingkungan.SHUTTERSTOCK/Ariya J Siswa MAN 1 Kendari mengolah limbah kulit udang dan kepiting menjadi alternatif kemasan ramah lingkungan.

Para anggota tim mengaku semula memandang bungkus makanan yang tercecer di halaman sekolah perlahan menjadi pemandangan biasa, dan tidak terusik sama sekali.

Baru setelah mereka mengamati lebih dekat, dampaknya terlihat lebih nyata.

Ternyata saluran air mulai tersumbat, lingkungan menjadi kotor, dan bayangan pencemaran laut terasa semakin dekat dengan kehidupan mereka.

Di sisi lain, mereka juga menyadari sebuah ironi. Setiap hari, sisa kulit kepiting dan udang dari warung makan serta rumah tangga dibuang begitu saja. Padahal bahan itu mengandung kitosan, senyawa yang dapat diolah menjadi material biodegradable.

Dari pertemuan dua kenyataan itulah muncul gagasan untuk mengubah limbah laut menjadi alternatif pengganti plastik.

Perjalanan mengembangkan proyek ini perlahan mengubah cara mereka memandang diri.

Pada awalnya, isu lingkungan terasa terlalu besar untuk ditangani siswa seperti mereka. Namun, proses penelitian kecil-kecilan, diskusi, dan percobaan membuat mereka lebih percaya bahwa langkah sederhana pun ternyata bisa menjadi berarti.

Mereka belajar untuk menyampaikan pendapat, membagi peran, dan berani mencoba meski belum yakin akan hasilnya.

Perjalanannya lebih berliku dari yang mereka bayangkan. Perbedaan pandangan dalam tim sempat memunculkan kebingungan untuk menentukan arah proyek ini akan jadi bagaimana. Ada saat ketika rasa lelah juga membuat mereka ragu untuk melanjutkannya.

Namun, kesadaran bahwa persoalan plastik adalah masalah nyata di sekitar menjadi alasan mereka untuk bertahan. Mereka memilih melihat proses ini sebagai bagian dari perjalanan bersama, tempat setiap orang belajar untuk mendengarkan dan saling menguatkan.

Baca juga:

Mempertanyakan penggunaan kemasan sekali pakai

Perwakilan tim MAN 1 Kendari menerima Penghargaan ASRI Awards Kompas Gramedia.Dok. ASRI Perwakilan tim MAN 1 Kendari menerima Penghargaan ASRI Awards Kompas Gramedia.

Perubahan yang paling terasa justru muncul lebih dulu pada diri mereka. Kebiasaan menggunakan kemasan sekali pakai mulai dipertanyakan.

Mereka menjadi lebih peka dalam melihat limbah di sekitar, lebih berhati-hati memilih produk, dan lebih sadar bahwa pilihan kecil sehari-hari akan punya dampak yang panjang.

Komposit kitosan yang mereka kembangkan memang masih terus disempurnakan, tapi gagasan dasarnya memberi harapan bahwa kemasan ramah lingkungan bukan sesuatu yang jauh.

Tim EchoChemistry memahami bahwa tantangan terbesar bukan memulai, melainkan menjaga agar ide ini tidak berhenti sebagai percobaan.

Mereka berharap mendapatkan pendampingan dari guru dan dukungan sekolah untuk mengembangkan produk ini secara bertahap. Ruang untuk bereksperimen dan belajar dari kesalahan dianggap sama pentingnya dengan keberhasilan teknis.

Di lingkungan sekolah, mereka membayangkan perubahan yang lebih luas. Siswa tidak lagi memandang limbah sebagai sesuatu yang sepele, melainkan tanggung jawab bersama hingga akhirnya mereka terbiasa untuk membawa wadah pakai ulang dan mengurangi plastik sekali pakai untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau