KOMPAS.com - Perubahan iklim bisa menyebabkan kopi lebih sulit diproduksi dan lebih mahal.
Analisis baru terhadap 25 negara penghasil kopi di dunia menunjukkan, negara-negara tersebut mengalami lebih lebih banyak suhu panas yang merusak kopi antara tahun 2021 hingga 2025, yang berpotensi memengaruhi kualitas dan kuantitas panen.
Baca juga:
25 negara penghasil kopi dan 532 distrik yang dianalisis menyumbang sekitar 97 persen produksi kopi global, dilansir dari Down to Earth, Jumat (20/2/2026).
Namun, analisis organiasi penelitian iklim Climate Central menemukan bahwa setiap negara rata-rata mengalami 47 hari tambahan per tahun yang menunjukkan suhu berbahaya bagi tanaman kopi.
Hari-hari dengan panas tambahan ini tidak akan terjadi tanpa emisi bahan bakar fosil.
Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia alami rata-rata 57 hari panas berbahaya per tahun. Kondisi ini picu kenaikan harga kopi dunia.Lima negara penghasil kopi terbesar yaitu Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia masing-masing mengalami rata-rata 57 hari ekstra panas yang berbahaya per tahun akibat perubahan iklim.
Bersama-sama, mereka memasok 75 persen kopi dunia.
Brasil, negara penghasil kopi terbesar di dunia, menghadapi rata-rata 70 hari panas tambahan yang merugikan industri kopi setiap tahunnya.
Adapun kopi termasuk minuman paling populer di dunia, dengan lebih dari dua miliar cangkir dikonsumsi setiap hari.
Namun, harga kopi global berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, yang mana mencapai rekor harga tertinggi pada bulan Desember 2024 dan sekali lagi pada bulan Februari 2025. Cuaca ekstrem turut berkontribusi terhadap hal tersebut.
Climate Central menganalisis suhu asli dari tahun 2021 hingga 2025 dan membandingkannya dengan simulasi dunia tanpa polusi karbon menggunakan Climate Shift Index.
Analisis ini menghitung berapa banyak "hari tambahan" dalam setahun ketika perubahan iklim menyebabkan suhu melonjak melampaui ambang batas 30 derajat celsius, suhu yang merusak tanaman kopi di berbagai negara penghasil kopi utama dunia.
Tanaman kopi tumbuh subur pada rentang suhu dan curah hujan tertentu. Menurut laporan tersebut, ketika suhu naik melampaui ambang batas ini, tanaman mengalami stres panas yang dapat menurunkan hasil panen, merusak kualitas biji kopi, dan membuat tanaman lebih rentan terhadap penyakit.
Gabungan dari sejumlah dampak tersebut dapat mengurangi pasokan serta kualitas kopi, yang akhirnya memicu kenaikan harga kopi di seluruh dunia.
Tanaman kopi arabika, yang menyumbang sekitar 60-70 persen pasokan global, lebih sensitif terhadap panas dibandingkan varietas robusta.
Penelitian menunjukkan bahwa suhu yang lebih dingin pada kisaran 25-30 derajat celsius masih kurang optimal untuk pertumbuhan arabika.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya