Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Bikin Kopi Makin Mahal, Ancam Panen di Negara Produsen Terbesar

Kompas.com, 21 Februari 2026, 06:13 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim bisa menyebabkan kopi lebih sulit diproduksi dan lebih mahal.

Analisis baru terhadap 25 negara penghasil kopi di dunia menunjukkan, negara-negara tersebut mengalami lebih lebih banyak suhu panas yang merusak kopi antara tahun 2021 hingga 2025, yang berpotensi memengaruhi kualitas dan kuantitas panen.

Baca juga: 

25 negara penghasil kopi dan 532 distrik yang dianalisis menyumbang sekitar 97 persen produksi kopi global, dilansir dari Down to Earth, Jumat (20/2/2026). 

Namun, analisis organiasi penelitian iklim Climate Central menemukan bahwa setiap negara rata-rata mengalami 47 hari tambahan per tahun yang menunjukkan suhu berbahaya bagi tanaman kopi.

Hari-hari dengan panas tambahan ini tidak akan terjadi tanpa emisi bahan bakar fosil.

Hari yang panas dan dampaknya pada kopi di dunia

5 negara penghasil kopi terbesar alami hari dengan panas tambahan

Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia alami rata-rata 57 hari panas berbahaya per tahun. Kondisi ini picu kenaikan harga kopi dunia.Dok. Unsplash/The Creativv Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia alami rata-rata 57 hari panas berbahaya per tahun. Kondisi ini picu kenaikan harga kopi dunia.

Lima negara penghasil kopi terbesar yaitu Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia masing-masing mengalami rata-rata 57 hari ekstra panas yang berbahaya per tahun akibat perubahan iklim.

Bersama-sama, mereka memasok 75 persen kopi dunia.

Brasil, negara penghasil kopi terbesar di dunia, menghadapi rata-rata 70 hari panas tambahan yang merugikan industri kopi setiap tahunnya.

Adapun kopi termasuk minuman paling populer di dunia, dengan lebih dari dua miliar cangkir dikonsumsi setiap hari.

Namun, harga kopi global berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, yang mana mencapai rekor harga tertinggi pada bulan Desember 2024 dan sekali lagi pada bulan Februari 2025. Cuaca ekstrem turut berkontribusi terhadap hal tersebut.

Climate Central menganalisis suhu asli dari tahun 2021 hingga 2025 dan membandingkannya dengan simulasi dunia tanpa polusi karbon menggunakan Climate Shift Index.

Analisis ini menghitung berapa banyak "hari tambahan" dalam setahun ketika perubahan iklim menyebabkan suhu melonjak melampaui ambang batas 30 derajat celsius, suhu yang merusak tanaman kopi di berbagai negara penghasil kopi utama dunia.

Tanaman kopi tumbuh subur pada rentang suhu dan curah hujan tertentu. Menurut laporan tersebut, ketika suhu naik melampaui ambang batas ini, tanaman mengalami stres panas yang dapat menurunkan hasil panen, merusak kualitas biji kopi, dan membuat tanaman lebih rentan terhadap penyakit.

Gabungan dari sejumlah dampak tersebut dapat mengurangi pasokan serta kualitas kopi, yang akhirnya memicu kenaikan harga kopi di seluruh dunia.

Tanaman kopi arabika, yang menyumbang sekitar 60-70 persen pasokan global, lebih sensitif terhadap panas dibandingkan varietas robusta.

Penelitian menunjukkan bahwa suhu yang lebih dingin pada kisaran 25-30 derajat celsius masih kurang optimal untuk pertumbuhan arabika.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau