Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031

Kompas.com, 24 Februari 2026, 20:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Pasar keuangan berkelanjutan global tumbuh sangat cepat, menurut laporan Mordor Intelligence tahun 2026.

Perusahaan tersebut memperkirakan bahwa pasar akan berkembang dari sekitar Rp210.000 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp236.000 triliun pada tahun 2026.

Angka ini diprediksi bakal terus melonjak hingga menembus Rp422.000 triliun pada tahun 2031. Artinya, setiap tahun investasi di sektor ini tumbuh stabil sebesar 12,34 persen.

Melansir Know ESG, Senin (23/2/2026) pendorong utama dari ledakan ini adalah dominasi berkelanjutan dari obligasi hijau (green bonds), yang menguasai lebih dari 53 persen pangsa pasar keuangan berkelanjutan pada tahun 2025.

Instrumen ini telah menjadi pusat pendanaan untuk energi terbarukan, infrastruktur iklim, dan proyek pembangunan rendah karbon di negara maju maupun negara berkembang.

Sementara itu industri yang paling banyak menarik modal berkelanjutan meliputi utilitas dan energi, transportasi dan logistik, bahan kimia dan material, pangan dan pertanian, proyek sektor publik, dan lembaga keuangan.

Baca juga: Penanganan Krisis Iklim Butuh Obligasi Hijau, Apa Itu?

Eropa Memimpin

Eropa terus memegang porsi terbesar dalam modal berkelanjutan. Kerangka aturan yang kuat, kebijakan yang fokus pada iklim, dan penerbitan obligasi hijau dari pemerintah negara-negara seperti Jerman dan Italia telah memperkuat kepercayaan investor.

Inisiatif skala besar seperti European Green Deal semakin mengukuhkan kepemimpinan Eropa dalam keuangan yang selaras dengan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG).

Pada saat yang sama, kawasan Asia-Pasifik muncul sebagai wilayah dengan pertumbuhan tercepat di pasar keuangan berkelanjutan.

Pemerintah di seluruh kawasan ini sedang meluncurkan program obligasi hijau negara yang ambisius, sembari mempercepat upaya digitalisasi data keberlanjutan.

Regulator keuangan mulai memperkenalkan kerangka kerja baru untuk menyalurkan modal ke energi terbarukan dan infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim.

Meningkatnya minat investor terhadap aset hijau menempatkan Asia-Pasifik sebagai mesin penggerak kritis bagi pertumbuhan investasi ESG global.

Prospek Bergantung pada Kebijakan dan Stabilitas

Meski momentumnya kuat, pertumbuhan jangka panjang pasar keuangan berkelanjutan akan bergantung pada kerangka aturan yang konsisten, kondisi suku bunga yang mendukung, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.

Baca juga: OJK Ungkap Urgensi Keuangan Berkelanjutan untuk Hadapi Krisis Iklim

Standar yang jelas dan kondisi makroekonomi yang stabil juga sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan bahwa keuangan yang selaras dengan ESG terus berkembang secara global.

Dengan obligasi hijau sebagai penggerak utama dan integrasi prinsip ESG yang semakin mendalam dalam sistem keuangan, pasar keuangan berkelanjutan berada di jalur yang tepat untuk menjadi fondasi utama pasar modal global pada tahun 2031.

ESG sendiri saat ini bukan lagi pertimbangan opsional. Bank sentral kini melakukan uji ketahanan iklim dan regulator memperketat persyaratan keterbukaan informasi.

Standar pelaporan ESG wajib memberikan data yang lebih andal dan sebanding bagi investor, membantu mengurangi celah informasi dan memperbaiki keputusan alokasi modal.

Pergeseran ini telah memperkuat prospek pertumbuhan pasar keuangan berkelanjutan. Lembaga keuangan mulai memasukkan kriteria ESG ke dalam perjanjian pinjaman, sementara perusahaan merespons tekanan dari pemegang saham dan pemangku kepentingan untuk memenuhi standar keberlanjutan yang lebih tinggi.

Hasilnya, pendanaan yang bertanggung jawab kini menjadi praktik standar di berbagai industri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG Sebut Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau, Lebih Kering dan Panjang
BMKG Sebut Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau, Lebih Kering dan Panjang
Pemerintah
Perubahan Iklim Bikin Ular Berbisa Pindah ke Kawasan Pesisir Padat Penduduk
Perubahan Iklim Bikin Ular Berbisa Pindah ke Kawasan Pesisir Padat Penduduk
Pemerintah
Emisi Gas Rumah Kaca Inggris Turun 2 Persen pada Tahun 2025
Emisi Gas Rumah Kaca Inggris Turun 2 Persen pada Tahun 2025
Pemerintah
Parlemen Eropa Perketat Standar Perlindungan Air dari Polusi Limbah dan Pestisida
Parlemen Eropa Perketat Standar Perlindungan Air dari Polusi Limbah dan Pestisida
Pemerintah
Tiga Negara Berkembang Beralih ke EBT, Ada Kenya dan India
Tiga Negara Berkembang Beralih ke EBT, Ada Kenya dan India
Pemerintah
Google Bakal Pakai Pembangkit Gas, Diprediksi Hasilkan 4,5 Juta Ton CO2
Google Bakal Pakai Pembangkit Gas, Diprediksi Hasilkan 4,5 Juta Ton CO2
LSM/Figur
Mandatori B50 Rentan Terganggu Konflik Geopolitik
Mandatori B50 Rentan Terganggu Konflik Geopolitik
LSM/Figur
Bukan Sekadar Hijau, Kosmologi Jawa Melampaui Keberlanjutan
Bukan Sekadar Hijau, Kosmologi Jawa Melampaui Keberlanjutan
Pemerintah
Jumat Hari yang Pendek, DPR Sebut Efektif untuk WFH bagi ASN
Jumat Hari yang Pendek, DPR Sebut Efektif untuk WFH bagi ASN
Pemerintah
PSEL Akan Dibangun di Makassar, Ubah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik
PSEL Akan Dibangun di Makassar, Ubah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik
Pemerintah
Bappenas: ASN 'Kerja Main-Main Tapi Gajinya Serius' Warisan Masa Lalu
Bappenas: ASN 'Kerja Main-Main Tapi Gajinya Serius' Warisan Masa Lalu
Pemerintah
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau