KOMPAS.com - Mayoritas penyortiran sampah di fasilitas daur ulang Veolia di Southwark, London, Inggris, kini dilakukan secara otomatis dengan bantuan robot berbasis artificial intelligence (AI). Sisanya dikerjakan oleh pekerja yang terlatih memilah berbagai jenis limbah.
Fasilitas tersebut mampu memproses sekitar 100.000 ton sampah setiap tahun dan beroperasi 24 jam sehari selama lima hari dalam sepekan.
Meski teknologi semakin canggih, kecepatan daur ulang di London tetap bergantung pada partisipasi warga dalam memilah sampah dari rumah.
Salah satu pimpinan Veolia, Oliver Peat, mengatakan tidak ada “solusi ajaib” untuk meningkatkan angka daur ulang di ibu kota Inggris itu.
Baca juga: Bersama Siswa, Guru di Sekolah Ini Kembangkan Sistem untuk Olah 90.000 Kantong Sampah
“Jika Anda dapat memisahkan sampah makanan sebaik mungkin, itu adalah cara terbaik untuk hidup berkelanjutan dan benar-benar meningkatkan tingkat daur ulang di London,” ujar Peat, dikutip dari BBC, Rabu (25/2/2026).
Peat menjelaskan, salah satu kendala terbesar adalah kontaminasi tempat sampah daur ulang. Banyak warga berniat baik dengan memasukkan berbagai barang ke dalam wadah daur ulang, padahal tidak semuanya bisa diproses ulang.
“Kami menemukan orang-orang yang ingin melakukan yang terbaik, tetapi mereka berpikir apa pun yang dimasukkan ke tempat sampah daur ulang dapat didaur ulang — padahal tidak demikian di London,” katanya.
Contoh paling berbahaya adalah baterai. Veolia mencatat satu insiden kebakaran setiap hari akibat baterai, terutama baterai lithium yang sulit dipadamkan. Peralatan elektronik atau barang berbaterai yang dibuang sembarangan dapat membahayakan fasilitas dan pekerja.
Setiap tahun, sekitar 7 juta ton sampah dihasilkan dari rumah tangga, gedung publik, dan bisnis di London. Pengumpulan sampah menjadi tanggung jawab masing-masing dewan kota, yang memiliki sistem berbeda-beda.
Wali Kota London, Sadiq Khan, melalui strategi lingkungan yang dirilis pada 2018, menargetkan 50 persen sampah yang dikumpulkan dewan kota dapat didaur ulang pada 2025. Namun target tersebut tidak tercapai.
Tanpa sanksi atau insentif yang jelas, capaian antarwilayah pun sangat timpang. Data terbaru menunjukkan Bromley menjadi satu-satunya wilayah yang berhasil mendaur ulang lebih dari setengah sampah rumah tangga, yakni 50,9 persen pada 2023–2024. Sebaliknya, Tower Hamlets mencatat tingkat daur ulang terendah di Inggris pada periode yang sama, hanya 15,8 persen.
Secara keseluruhan, tingkat daur ulang London stagnan di sekitar 33 persen selama lebih dari satu dekade. Padahal, kota-kota lain seperti Bristol dan Manchester menunjukkan peningkatan signifikan.
Baca juga: Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI
Anggota Partai Hijau di Majelis London, Caroline Russell, menilai London membutuhkan sistem daur ulang yang seragam. Ia mencontohkan Wales yang mampu mencapai tingkat daur ulang hingga 68 persen.
Menurut Russell, salah satu kunci keberhasilan Wales adalah konsistensi informasi kepada warga mengenai jenis sampah yang dapat dan tidak dapat didaur ulang.
“Setiap dewan kota di London memiliki cara berbeda untuk menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa didaur ulang,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya