Di 32 wilayah London, kebijakan pengelolaan sampah sangat beragam. Di Hounslow, misalnya, rumah tangga memiliki tiga wadah terpisah: untuk daur ulang kering, sisa makanan dan limbah kebun, serta sampah umum yang dikumpulkan dua minggu sekali.
Namun di wilayah tetangga seperti Hillingdon, warga hanya memiliki satu karung untuk semua daur ulang kering, sementara sampah umum diambil setiap minggu bersama sisa makanan dan limbah kebun. Aturan bagi penghuni apartemen pun berbeda dengan rumah tapak.
Russell menilai kompleksitas sistem tersebut membuat warga kebingungan, terutama mereka yang sering berpindah tempat tinggal.
“Jika kita memiliki sistem terpadu di seluruh London, itu akan membuat perbedaan nyata,” katanya.
Pemerintah Inggris berencana memperkenalkan undang-undang baru pada April 2026 yang disebut “daur ulang yang lebih sederhana”.
Baca juga: 2026, Tak Ada Daerah yang Raih Adipura Kencana, Ratusan Lainnya Berstatus Kotor
Aturan ini menetapkan bahwa kaca, logam, dan plastik dapat dikumpulkan dalam satu wadah, sementara sampah makanan serta kertas dan kardus dipisahkan di wadah tersendiri.
Regulasi tersebut diharapkan dapat menyederhanakan sistem, mengurangi jumlah pengumpulan, dan memudahkan warga memahami aturan daur ulang. Meski demikian, pemerintah daerah tetap diberikan fleksibilitas dalam mekanisme pelaksanaannya.
Dengan kombinasi teknologi canggih seperti robot AI dan reformasi kebijakan, London berharap dapat keluar dari stagnasi tingkat daur ulang. Namun pada akhirnya, keberhasilan tetap bergantung pada partisipasi warga dalam memilah sampah dengan benar sejak dari rumah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya