Para peneliti Amerika Serikat menemukan, sebelum tahun 2014, biasanya hanya ada 10 atau kurang kasus paus bungkuk yang terjerat jaring di lepas pantai barat.
Jumlah itu meningkat tiga kali lipat menjadi 31 pada tahun 2024, dan mencapai puncaknya lebih dari 40 selama gelombang panas laut besar yang dikenal sebagai "the blob" pada tahun 2015 dan 2016.
Ilmuwan NOAA, Jarrod Santora dan rekan-rekannya menganalisis hubungan antara kasus paus bungkuk yang terjerat jaring, ukuran populasi, dan perubahan habitat air dingin di lepas pantai barat selama 25 tahun.
Mereka menemukan bahwa kasus paus bungkuk yang terjerat jaring lebih banyak terjadi pada tahun-tahun saat wilayah air dingin menyusut.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa pertumbuhan jumlah paus saja tidak cukup untuk menjelaskan secara statistik mengapa kasus terjerat ini meningkat.
Baca juga:
Para peneliti Amerika Serikat menciptakan sebuah alat yang disebut Habitat Compression Index yang menurut mereka dapat memprediksi kondisi lautan enam hingga 12 bulan sebelumnya.
Indeks ini adalah alat yang sangat penting karena bisa menunjukkan kapan dan di mana risiko paus terjerat jaring akan meningkat.
Dengan alat ini, pemerintah bisa memutuskan untuk menutup sementara area penangkapan ikan pada waktu tersebut. Indeks ini juga sudah mulai digunakan di California.
Ada juga kemajuan teknologi seperti alat pancing tanpa tali yang bisa membantu pada masa depan.
"Para nelayan kini bisa kembali ke area-area yang tadinya ditutup dengan menggunakan alat pancing yang tidak berisiko menjerat paus," tambah Shester.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya