Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waktu Berbunga Tanaman Tropis Bergeser akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 26 Februari 2026, 20:14 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Bunga dari tanaman tropis mekar lebih awal atau lebih lambat dari biasanya akibat perubahan iklim. Menurut penelitian terhadap 8.000 tanaman selama 200 tahun terakhir, hal ini bisa menyebabkan dampak buruk yang merembet ke seluruh ekosistem.

Dalam studinya, peneliti mengamati bunga-bunga dari berbagai negara, termasuk Brasil, Ekuador, Ghana, dan Thailand, dilansir dari The Guardian, Kamis (26/2/2026).

Sejumlah wilayah tersebut merupakan rumah bagi ekosistem dengan keanekaragaman hayati paling kaya di bumi, tapi paling jarang dipelajari.

Baca juga:

Perubahan iklim ubah waktu berbunga tanaman tropis

Perubahan waktu berbunga

Studi 8.000 tanaman selama 200 tahun menunjukkan, perubahan iklim menggeser waktu berbunga tanaman tropis hingga dua hari per dekade.Unsplash/mariana_mi Studi 8.000 tanaman selama 200 tahun menunjukkan, perubahan iklim menggeser waktu berbunga tanaman tropis hingga dua hari per dekade.

Analisis data museum dari 33 spesies tropis dari tahun 1794 hingga 2024 menunjukkan, waktu berbunga telah bergeser rata-rata dua hari per dekade.

Hasil penelitian menunjukkan pohon amaranth dari Brasil berbunga 80 hari lebih lambat dibandingkan pada tahun 1950-an.

Sementara itu, semak rattlepod dari Ghana mengalami pergeseran waktu berbunga 17 hari lebih awal antara tahun 1950-an hingga 1990-an.

Sebelumnya diperkirakan, daerah tropis di mana suhu berfluktuasi lebih sedikit sepanjang tahun, tidak akan terlalu terpengaruh oleh krisis iklim dalam hal waktu berbunga.

"Hipotesis ini telah terbukti salah. Tidak ada tempat di Bumi yang tidak terpengaruh oleh perubahan iklim," kata peneliti utama dari Universitas Colorado Boulder, Skylar Graves.

Perubahan tersebut dinilai menjadi masalah besar. Sebab, daerah tropis tidak hanya mencakup sepertiga dari bumi, tapi juga merupakan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di bumi. Hampir 180 spesies tumbuhan baru ditemukan di daerah tropis setiap tahunnya.

Akibatnya, seluruh ekosistem tropis kemungkinan akan terpengaruh secara negatif.

Baca juga:

Ilustrasi amaranth. Studi 8.000 tanaman selama 200 tahun menunjukkan, perubahan iklim menggeser waktu berbunga tanaman tropis hingga dua hari per dekade.Dok. Wikimedia Commons/Rhododendrites Ilustrasi amaranth. Studi 8.000 tanaman selama 200 tahun menunjukkan, perubahan iklim menggeser waktu berbunga tanaman tropis hingga dua hari per dekade.

"Perubahan ini akan memecah komunitas dan rantai makanan," tulis para peneliti dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal Plos One.

Besar kemungkinan bahwa perubahan-perubahan ini memiliki dampak yang lebih luas pada ekosistem karena waktu berbunga tidak lagi sinkron dengan siklus hewan pemakan buah dan hewan penyebar biji.

Artinya, tidak ada buah yang tersedia untuk mereka makan saat mereka membutuhkannya begitu juga dengan tumbuhan lain dan hewan penyerbuk.

Sebagai contoh, jika sebuah bunga perlu diserbuk oleh burung migran, tapi burung tersebut hanya berada di daerah tersebut selama beberapa hari dalam setahun dan waktunya tidak lagi selaras, bunga itu tidak akan mendapatkan penyerbukan dan burung tersebut tidak akan mendapatkan nektar untuk diminum.

"Ekosistem adalah jaring-jaring interaksi yang sangat peka, dan jika ada satu elemen yang tidak lagi sinkron terutama pada tumbuhan, yang merupakan dasar dari ekosistem maka segalanya dapat hancur di setiap tingkatan ekosistem," ujar Graves.

Banyak hewan yang bergantung pada tumbuhan ini adalah primata, yang saat ini sudah dianggap dalam kondisi terancam.

Baca juga: Tanaman Ternyata Tak Banyak Menyerap Karbon Dioksida, Mengapa?

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau