KOMPAS.com - Bunga dari tanaman tropis mekar lebih awal atau lebih lambat dari biasanya akibat perubahan iklim. Menurut penelitian terhadap 8.000 tanaman selama 200 tahun terakhir, hal ini bisa menyebabkan dampak buruk yang merembet ke seluruh ekosistem.
Dalam studinya, peneliti mengamati bunga-bunga dari berbagai negara, termasuk Brasil, Ekuador, Ghana, dan Thailand, dilansir dari The Guardian, Kamis (26/2/2026).
Sejumlah wilayah tersebut merupakan rumah bagi ekosistem dengan keanekaragaman hayati paling kaya di bumi, tapi paling jarang dipelajari.
Baca juga:
Studi 8.000 tanaman selama 200 tahun menunjukkan, perubahan iklim menggeser waktu berbunga tanaman tropis hingga dua hari per dekade.Analisis data museum dari 33 spesies tropis dari tahun 1794 hingga 2024 menunjukkan, waktu berbunga telah bergeser rata-rata dua hari per dekade.
Hasil penelitian menunjukkan pohon amaranth dari Brasil berbunga 80 hari lebih lambat dibandingkan pada tahun 1950-an.
Sementara itu, semak rattlepod dari Ghana mengalami pergeseran waktu berbunga 17 hari lebih awal antara tahun 1950-an hingga 1990-an.
Sebelumnya diperkirakan, daerah tropis di mana suhu berfluktuasi lebih sedikit sepanjang tahun, tidak akan terlalu terpengaruh oleh krisis iklim dalam hal waktu berbunga.
"Hipotesis ini telah terbukti salah. Tidak ada tempat di Bumi yang tidak terpengaruh oleh perubahan iklim," kata peneliti utama dari Universitas Colorado Boulder, Skylar Graves.
Perubahan tersebut dinilai menjadi masalah besar. Sebab, daerah tropis tidak hanya mencakup sepertiga dari bumi, tapi juga merupakan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di bumi. Hampir 180 spesies tumbuhan baru ditemukan di daerah tropis setiap tahunnya.
Akibatnya, seluruh ekosistem tropis kemungkinan akan terpengaruh secara negatif.
Baca juga:
Ilustrasi amaranth. Studi 8.000 tanaman selama 200 tahun menunjukkan, perubahan iklim menggeser waktu berbunga tanaman tropis hingga dua hari per dekade."Perubahan ini akan memecah komunitas dan rantai makanan," tulis para peneliti dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal Plos One.
Besar kemungkinan bahwa perubahan-perubahan ini memiliki dampak yang lebih luas pada ekosistem karena waktu berbunga tidak lagi sinkron dengan siklus hewan pemakan buah dan hewan penyebar biji.
Artinya, tidak ada buah yang tersedia untuk mereka makan saat mereka membutuhkannya begitu juga dengan tumbuhan lain dan hewan penyerbuk.
Sebagai contoh, jika sebuah bunga perlu diserbuk oleh burung migran, tapi burung tersebut hanya berada di daerah tersebut selama beberapa hari dalam setahun dan waktunya tidak lagi selaras, bunga itu tidak akan mendapatkan penyerbukan dan burung tersebut tidak akan mendapatkan nektar untuk diminum.
"Ekosistem adalah jaring-jaring interaksi yang sangat peka, dan jika ada satu elemen yang tidak lagi sinkron terutama pada tumbuhan, yang merupakan dasar dari ekosistem maka segalanya dapat hancur di setiap tingkatan ekosistem," ujar Graves.
Banyak hewan yang bergantung pada tumbuhan ini adalah primata, yang saat ini sudah dianggap dalam kondisi terancam.
Baca juga: Tanaman Ternyata Tak Banyak Menyerap Karbon Dioksida, Mengapa?
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya