Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu

Kompas.com, 26 Februari 2026, 21:13 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber CBC

KOMPAS.com - Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Hal ini terjadi karena suhu panas membuat habitat asli mereka di air dingin semakin menyusut dan sulit ditemukan.

Temuan tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan di lepas pantai barat Amerika Serikat oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan diterbitkan dalam jurnal peer-reviewed PLOS Climate.

Baca juga:

Studi menunjukkan bahwa penyusutan habitat air dingin merupakan pendorong risiko terjerat yang lebih besar daripada peningkatan jumlah paus bungkuk, dilansir dari CBC, Kamis (26/2/2026).

Paus bungkuk sering tersangkut jaring akibat pemanasan laut

Pentingnya habitat air dingin

Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Mengapa?pixabay.com Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Mengapa?

Habitat air dingin penting bagi spesies seperti paus bungkuk karena menciptakan "ledakan kehidupan".

Di habitat tersebut, hewan-hewan seperti krill (udang kecil) dan ikan kecil, yang menjadi makanan paus, dapat tumbuh subur.

Geoff Shester, ilmuwan senior di lembaga konservasi laut Oceana, yang tidak terlibat dalam penelitian ini menjelaskan, air dingin yang bermanfaat ini muncul dari dasar laut.

Namun, air tersebut bisa tertekan ke bawah atau menyempit akibat gelombang panas laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Hal ini membuat area untuk paus mencari makan menjadi sangat terbatas.

Fenomena ini dikenal dengan istilah "penyempitan habitat".

Ketika wilayah mencari makan itu bertumpang tindih dengan wilayah penangkapan ikan, hal itu pada dasarnya menciptakan situasi buruk karena terjadi jauh lebih banyak pertemuan antara paus dengan lokasi alat tangkap ikan tersebut.

Hal ini dapat sangat berbahaya bagi paus bungkuk, menurut Andrew Trites, direktur Unit Penelitian Mamalia Laut di Universitas British Columbia.

"Sayangnya, ketika paus bungkuk tersangkut sesuatu, mereka punya kecenderungan untuk berguling. Hal ini justru membuat jaring tersebut melilit mereka dengan sangat kencang, dan mereka tidak mampu melepaskan diri sendiri," kata Trites. 

Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah menyeret jaring itu terus-menerus sampai jaringnya mengiris sirip mereka hingga lepas, atau ada manusia yang datang menolong. Namun, banyak yang mati akibat peristiwa itu.

Baca juga:

Makin banyak paus yang terjerat

Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Mengapa?SHUTTERSTOCK/Craig Lambert Photography Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Mengapa?

Para peneliti Amerika Serikat menemukan, sebelum tahun 2014, biasanya hanya ada 10 atau kurang kasus paus bungkuk yang terjerat jaring di lepas pantai barat.

Jumlah itu meningkat tiga kali lipat menjadi 31 pada tahun 2024, dan mencapai puncaknya lebih dari 40 selama gelombang panas laut besar yang dikenal sebagai "the blob" pada tahun 2015 dan 2016.

Ilmuwan NOAA, Jarrod Santora dan rekan-rekannya menganalisis hubungan antara kasus paus bungkuk yang terjerat jaring, ukuran populasi, dan perubahan habitat air dingin di lepas pantai barat selama 25 tahun.

Mereka menemukan bahwa kasus paus bungkuk yang terjerat jaring lebih banyak terjadi pada tahun-tahun saat wilayah air dingin menyusut.

Penelitian ini juga membuktikan bahwa pertumbuhan jumlah paus saja tidak cukup untuk menjelaskan secara statistik mengapa kasus terjerat ini meningkat.

Baca juga:

Para peneliti Amerika Serikat menciptakan sebuah alat yang disebut Habitat Compression Index yang menurut mereka dapat memprediksi kondisi lautan enam hingga 12 bulan sebelumnya.

Indeks ini adalah alat yang sangat penting karena bisa menunjukkan kapan dan di mana risiko paus terjerat jaring akan meningkat.

Dengan alat ini, pemerintah bisa memutuskan untuk menutup sementara area penangkapan ikan pada waktu tersebut. Indeks ini juga sudah mulai digunakan di California.

Ada juga kemajuan teknologi seperti alat pancing tanpa tali yang bisa membantu pada masa depan.

"Para nelayan kini bisa kembali ke area-area yang tadinya ditutup dengan menggunakan alat pancing yang tidak berisiko menjerat paus," tambah Shester.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau