KOMPAS.com - Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Hal ini terjadi karena suhu panas membuat habitat asli mereka di air dingin semakin menyusut dan sulit ditemukan.
Temuan tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan di lepas pantai barat Amerika Serikat oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan diterbitkan dalam jurnal peer-reviewed PLOS Climate.
Baca juga:
Studi menunjukkan bahwa penyusutan habitat air dingin merupakan pendorong risiko terjerat yang lebih besar daripada peningkatan jumlah paus bungkuk, dilansir dari CBC, Kamis (26/2/2026).
Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Mengapa?Habitat air dingin penting bagi spesies seperti paus bungkuk karena menciptakan "ledakan kehidupan".
Di habitat tersebut, hewan-hewan seperti krill (udang kecil) dan ikan kecil, yang menjadi makanan paus, dapat tumbuh subur.
Geoff Shester, ilmuwan senior di lembaga konservasi laut Oceana, yang tidak terlibat dalam penelitian ini menjelaskan, air dingin yang bermanfaat ini muncul dari dasar laut.
Namun, air tersebut bisa tertekan ke bawah atau menyempit akibat gelombang panas laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Hal ini membuat area untuk paus mencari makan menjadi sangat terbatas.
Fenomena ini dikenal dengan istilah "penyempitan habitat".
Ketika wilayah mencari makan itu bertumpang tindih dengan wilayah penangkapan ikan, hal itu pada dasarnya menciptakan situasi buruk karena terjadi jauh lebih banyak pertemuan antara paus dengan lokasi alat tangkap ikan tersebut.
Hal ini dapat sangat berbahaya bagi paus bungkuk, menurut Andrew Trites, direktur Unit Penelitian Mamalia Laut di Universitas British Columbia.
"Sayangnya, ketika paus bungkuk tersangkut sesuatu, mereka punya kecenderungan untuk berguling. Hal ini justru membuat jaring tersebut melilit mereka dengan sangat kencang, dan mereka tidak mampu melepaskan diri sendiri," kata Trites.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah menyeret jaring itu terus-menerus sampai jaringnya mengiris sirip mereka hingga lepas, atau ada manusia yang datang menolong. Namun, banyak yang mati akibat peristiwa itu.
Baca juga:
Paus bungkuk jadi lebih sering tersangkut jaring ikan ketika suhu lautan memanas. Mengapa?Para peneliti Amerika Serikat menemukan, sebelum tahun 2014, biasanya hanya ada 10 atau kurang kasus paus bungkuk yang terjerat jaring di lepas pantai barat.
Jumlah itu meningkat tiga kali lipat menjadi 31 pada tahun 2024, dan mencapai puncaknya lebih dari 40 selama gelombang panas laut besar yang dikenal sebagai "the blob" pada tahun 2015 dan 2016.
Ilmuwan NOAA, Jarrod Santora dan rekan-rekannya menganalisis hubungan antara kasus paus bungkuk yang terjerat jaring, ukuran populasi, dan perubahan habitat air dingin di lepas pantai barat selama 25 tahun.
Mereka menemukan bahwa kasus paus bungkuk yang terjerat jaring lebih banyak terjadi pada tahun-tahun saat wilayah air dingin menyusut.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa pertumbuhan jumlah paus saja tidak cukup untuk menjelaskan secara statistik mengapa kasus terjerat ini meningkat.
Baca juga:
Para peneliti Amerika Serikat menciptakan sebuah alat yang disebut Habitat Compression Index yang menurut mereka dapat memprediksi kondisi lautan enam hingga 12 bulan sebelumnya.
Indeks ini adalah alat yang sangat penting karena bisa menunjukkan kapan dan di mana risiko paus terjerat jaring akan meningkat.
Dengan alat ini, pemerintah bisa memutuskan untuk menutup sementara area penangkapan ikan pada waktu tersebut. Indeks ini juga sudah mulai digunakan di California.
Ada juga kemajuan teknologi seperti alat pancing tanpa tali yang bisa membantu pada masa depan.
"Para nelayan kini bisa kembali ke area-area yang tadinya ditutup dengan menggunakan alat pancing yang tidak berisiko menjerat paus," tambah Shester.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya