Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cemaran BBM Ditemukan di Mangrove Benoa Bali

Kompas.com, 27 Februari 2026, 14:31 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Cemaran bahan bakar minyak (BBM) ditemukan di lahan mangrove di Benoa, Denpasar, Bali. Cemaran tersebut ditemukan oleh para peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana.

Tim peneliti menguji sampel tanah mangrove di Benoa. Hasilnya menunjukkan adanya 41 senyawa hidrokarbon atau senyawa turunan minyak bumi.

Baca juga:

Senyawa tersebut umumnya ditemukan dalam BBM, seperti bensin, minyak tanah, dan diesel atau solar.

"Dapat kami simpulkan bahwa sampel tanah mangrove positif tercemar oleh limbah minyak bumi, terutama diesel (solar)," kata Koordinator Tim Peneliti, Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga, dilansir dari Antara, Jumat (27/2/2026).

Mangrove di Benoa, Bali tercemar BBM

Sampel tanah diambil dari sisi barat gerbang Tol Bali Mandara

Peneliti Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon BBM di tanah mangrove di Benoa, Bali. Dok. Jasa Marga Peneliti Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon BBM di tanah mangrove di Benoa, Bali.

Pengujian dilakukan dari Selasa (24/2/2026) sampai Kamis (26/2/2026), menggunakan metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).

Metode ini dipakai untuk mengidentifikasi dan menentukan komposisi senyawa kimia dalam sampel. Fokusnya pada senyawa volatil, atau mudah menguap, serta semi volatil.

Sampel tanah diambil dari kawasan terdampak di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara di Benoa. Dari lokasi itu ditemukan 45 senyawa volatil. Sebanyak 41 di antaranya merupakan senyawa hidrokarbon.

Beberapa senyawa yang terdeteksi memiliki persentase di atas lima persen. Senyawa tersebut yaitu n-Hexadecane sebesar 5,79 persen, n-Heptadecane sebesar 7,65 persen, Pentadecane 2,6,10-trimethyl sebesar 7,27 persen, Pentadecane 2,6,10,14-trimethyl sebesar 8,67 persen, dan n-Eicosane sebesar 5,42 persen.

Senyawa hidrokarbon yang ditemukan didominasi rentang atom karbon C15-C24. Rentang ini mengarah kuat pada kontaminasi diesel atau solar. 

Berbeda dengan sampel tanah, hasil uji sampel air menunjukkan temuan yang berbeda. Pada sampel air hanya ditemukan satu senyawa dari golongan hidrokarbon organik yaitu squalene.

Senyawa ini umumnya ditemukan pada hati ikan hiu, beberapa jenis alga, serta mikroorganisme seperti Escherichia coli.

"Sehingga tidak ditemukan senyawa pencemar hidrokarbon pada sampel air yang diuji," ucap Dewa.

Baca juga:

Tanaman mangrove bisa kering dan mati

Peneliti Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon BBM di tanah mangrove di Benoa, Bali. Peneliti Universitas Udayana menemukan 41 senyawa hidrokarbon BBM di tanah mangrove di Benoa, Bali.

Ia menambahkan tidak ditemukannya hidrokarbon dalam air diduga karena telah dilakukan pembersihan. Akibatnya, kontaminasi minyak berpindah ke daerah laut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau