TANGERANG, KOMPAS.com – Di tengah gempuran produk fesyen massal yang serbacepat dan kompetitif, sejumlah jenama lokal memilih jalur berbeda. Tren fesyen tidak lagi sekadar soal harga dan kecepatan produksi, tetapi juga nilai di balik sebuah produk.
Craftsmanship—detail pengerjaan, kualitas bahan, dan sentuhan desain—menjadi nilai tambah yang makin dicari konsumen. Pendekatan ini mencerminkan perubahan perilaku pembeli yang kini lebih menghargai produk berumur panjang.
Filoposy menjadi salah satu brand yang konsisten mengusung konsep tersebut. Sejak berdiri pada 2019, perusahaan ini menekankan detail sebagai jiwa desain.
Founder Filoposy Averina Purlinda mengatakan, pakaian yang ia desain tidak hanya dibuat untuk fungsi, tetapi juga untuk menghadirkan nilai estetika dari pattern dan motifnya.
“Ada detail dari pattern dan embroidery yang menjadi bagian dari ekspresi desain. Vest meski bentuknya sederhana, saya ingin ada sentuhan yang membuatnya punya karakter sehingga tidak termakan zaman,” ujar Averina kepada Kompas.com dalam gelaran BCA Expoversary di Tangerang, Jumat (6/2/2026).
Baca juga: Poppy Dharsono Ungkap Ancaman Fast Fashion bagi Keberlangsungan Industri Fesyen Lokal
Baginya, craftsmanship memberi karakter yang tidak selalu bisa ditawarkan produk massal, sekaligus menjadi diferensiasi di pasar yang dibanjiri fast fashion.
Kompas.com berkesempatan mampir ke tenant Filoposy dalam gelaran BCA Expoversary belum lama ini. Event tahunan ini menjadi ruang bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) fesyen untuk memperkenalkan produk dan menjangkau konsumen baru.
Ragam produk, seperti Tissa Jacket Outer, Hanna Jacket, Nasya Jacket, dan Tyra Vest ditampilkan dengan sentuhan detail yang kuat. Handmade touch menjadi ciri khas Filoposy.
Setiap koleksi tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga kenyamanan dan daya tahan agar bisa dipakai dalam jangka panjang.
“Kami ingin menciptakan pakaian yang punya nilai dan cerita, bukan sekadar mengikuti tren sesaat,” tambah Averina.
Baca juga: Arumi Bachsin Ajak UMKM Fesyen Lokal Bangkit dan Bersaing di Pasar Global
Pengalaman itu membentuk pemahaman bahwa seni dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk dalam desain pakaian.
Dorongan tersebut semakin kuat ketika ia menempuh pendidikan fesyen design di LASALLE College Jakarta. Pendidikan itu memperdalam pemahamannya tentang desain, estetika, dan proses kreatif dalam industri fesyen.
Setelah menyelesaikan studi, ia mendirikan Filoposy pada 2019 sebagai perwujudan gagasan "The Art of Dressing". Konsep ini memandang pakaian bukan sekadar kebutuhan, tetapi medium ekspresi seni dan identitas.
Nilai tersebut menjadi fondasi jenama miliknya dalam menciptakan produk yang menonjolkan craftsmanship dan detail desain.
Baca juga: UMKM Fesyen Lokal Terapkan Produksi Ramah Lingkungan dan Minimalkan Limbah Tekstil
“Dari keluarga, saya belajar bahwa seni bisa hadir dalam banyak hal. Fesyen adalah salah satunya,” ujar Averina.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya