Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paparan CO2 Meningkat, Studi Ungkap Dampaknya pada Darah Anak dan Remaja

Kompas.com, 28 Februari 2026, 16:32 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Anak-anak dan remaja disebut bisa terpapar karbon dioksida (CO2) kumulatif terlama, seiring kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK) tersebut di atmosfer.

Studi terbaru yang diterbitkan di Air Quality, Atmosphere and Health menunjukkan peningkatan kadar CO2 yang terdeteksi di dalam tubuh manusia. Peningkatan bisa mendekati batas sehatnya dalam beberapa dekade ke depan jika tren di atmosfer masih berlanjut.

Baca juga:

Terjadi pergeseran secara stabil dalam darah yang secara erat mengikuti peningkatan CO2 di atmosfer.

Temuan itu diperoleh para peneliti dari The Kids Research Institute Australia, Curtin University, dan The Australian National University (ANU) dengan menganalisis data populasi Amerika Serikat (AS) selama lebih dari dua dekade.

Paparan CO2 terhadap anak dan remaja

Para peneliti memeriksa hasil tes darah dari sekitar 7.000 orang setiap dua tahun sekali selama periode 1999-2020, berdasarkan data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional AS (NHANES).

Rata-rata kadar bikarbonat serum, penanda yang terkait erat dengan CO2 dalam tubuh, telah meningkat sekitar tujuh persen sejak tahun 1999. Pada periode yang sama, rata-rata kadar kalsium dan fosfor mengalami penurunan.

Perubahan tersebut mencerminkan peningkatan CO2 di atmosfer, yang telah meningkat dari sekitar 369 bagian per juta (ppm) pada tahun 2000, menjadi lebih dari 420 ppm saat ini.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia mungkin sudah melakukan kompensasi terhadap perubahan atmosfer.

"Yang kita lihat adalah pergeseran bertahap dalam kimia darah yang mencerminkan peningkatan CO2 di atmosfer yang mendorong perubahan iklim," ujar penulis studi tersebut, Madya Alexander Larcombe, dilansir dari Phys.org, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga:

Perubahan kimia darah

Studi terbaru menemukan kadar CO2 dalam tubuh anak dan remaja meningkat seiring kenaikan emisi global.Shutterstock/cones Studi terbaru menemukan kadar CO2 dalam tubuh anak dan remaja meningkat seiring kenaikan emisi global.

Bikarbonat memainkan peran sentral dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Saat kadar CO2 naik, tubuh menahan lebih banyak bikarbonat untuk menstabilkan pH darah.

Namun, seiring waktu, kompensasi yang berkelanjutan dapat menimbulkan konsekuensi fisiologis.

"Jika tren saat ini berlanjut, pemodelan menunjukkan bahwa kadar bikarbonat rata-rata dapat mendekati batas atas kisaran sehat yang diterima saat ini dalam waktu 50 tahun. Kadar kalsium dan fosfor juga bisa mencapai batas bawah kisaran sehatnya di akhir abad ini," tutur Larcombe.

Manusia "berevolusi" saat atmosfer mengandung sekitar 280–300 ppm CO2. Kenaikan rata-rata tahunan selama dekade terakhir sekitar 2,6 ppm per tahun, dengan mencatat kenaikan sebesar 3,5 ppm pada tahun 2024.

Ahli geologi lingkungan Phil Bierwirth, yang telah pensiun dan berafiliasi dengan Fakultas Emeritus ANU, mengatakan, studi tersebut tidak membuktikan sebab-akibat secara langsung. Kendati demikian, tren yang konsisten di seluruh populasi sulit untuk diabaikan.

"Saya sebenarnya berpikir bahwa apa yang kita lihat adalah karena tubuh kita tidak beradaptasi. Tampaknya kita telah beradaptasi dengan berbagai tingkat CO2 di udara yang mungkin sekarang telah terlampaui. Kisaran normal menjaga keseimbangan yang rumit antara jumlah CO2 di udara, pH darah kita, laju pernapasan kita, dan kadar bikarbonat dalam darah," jelas Bierwirth.

Menurut Bierwirth, CO2 kemungkinan akan menumpuk di dalam tubuh karena kadarnya di udara sekarang lebih tinggi daripada yang pernah dialami manusia.

Ada kemungkinan manusia tidak akan pernah bisa beradaptasi sehingga kadar CO2 di atmosfer menjadi sangat penting.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau