Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Reservoir Minyak Jadi Gudang CO2 Bawah Laut di Norwegia

Kompas.com, 13 Februari 2026, 18:33 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Reservoir geologis, yang memerangkap minyak bumi selama jutaan tahun, saat ini dapat dimanfaatkan kembali untuk menyimpan gas rumah kaca (GRK) karbon dioksida (CO2).

Studi terbaru dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) memperluas cara manusia memantau dan memverifikasi berapa banyak CO2 yang telah disimpan oleh reservoir geografis itu.

Baca juga:

Studi ini sejalan dengan upaya Norwegia dan negara-negara lain untuk meningkatkan penyimpanan CO2 di reservoir geologi bawah laut.

Studi ini membantu menjawab dua pertanyaan penting tentang penyimpanan CO2 di reservoir geologi bawah laut itu.

"Ke mana perginya CO2 saya? Apakah ada kebocoran atau tidak? Itulah pertanyaan-pertanyaan mendasar sebenarnya," ujar seorang ahli geofisika NTNU dan direktur Pusat Peramalan Geofisika NTNU, Martin Landro, dilansir dari Phys.org, Jumat (13/2/2026).

Norwegia merupakan rumah bagi proyek penyimpanan CO2 bawah laut terlama di dunia, di ladang gas Sleipner di Laut Utara.

Di perairan tersebut, total 20 juta ton CO2 telah disuntikkan ke dalam akuifer air asin atau Formasi Utsira.

Studi meneliti lebih dekat data dari lokasi Sleipner dengan memakai teknik analisis data yang disebut inversi gelombang penuh Inversi gelombang penuh (full waveform inversion/FWI). Data itu dikumpulkan menggunakan metode geofisika, seperti pencitraan seismik.

Reservoir minyak jadi gudang CO2 bawah laut

Pakai pencitraan seismik

Reservoir geologis, yang memerangkap minyak bumi selama jutaan tahun, saat ini dapat dimanfaatkan kembali untuk menyimpan gas rumah kaca CO2.Dok. Freepik/Kireyonok_Yuliya Reservoir geologis, yang memerangkap minyak bumi selama jutaan tahun, saat ini dapat dimanfaatkan kembali untuk menyimpan gas rumah kaca CO2.

Para ahli geofisika memakai pencitraan seismik untuk mengamati cadangan minyak dan gas bawah laut, serta lokasi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Pencitraan seismik bisa dianggap sebagai sejenis ultrasonik. Namun, alih-alih memindai tubuh manusia, sebuah kapal mengirimkan denyut suara ke dasar laut, serta merekam bagaimana gelombang suara merambat melalui batuan dan memantul kembali ke sensor di permukaan.

Pada masa lalu, para peneliti hanya menggunakan sebagian dari informasi ini, terutama waktu tiba gelombang suara, untuk membangun citra bawah permukaan.

FWI memanfaatkan seluruh sinyal seismik, yang memungkinkan para ilmuwan untuk mengekstrak informasi lebih detail tentang struktur dan sifat batuan di bawah laut.

Sebuah makalah terbaru yang diterbitkan di Interpretation dan ditulis seorang Ph.D. Centre for Geophysical Forecasting (CGF) NTNU yang baru saja meraih gelar, Ricardo Jose Martinez Guzman mengonfirmasi betapa efektifnya teknik ini dalam memverifikasi lokasi CO2 berada dan berapa banyak yang telah disuntikkan.

"Mungkin 10 tahun yang lalu, FWI dari Sleipner seperti memakai kacamata yang sangat berkabut. Tetapi sekarang ini telah berkembang begitu jauh, sehingga kami dapat melihat semua lapisan dan semua saluran pengumpan ini. Jadi, ini seperti revolusi dalam visualisasi dan pemahaman tentang apa yang terjadi," ujar seorang profesor di bidang Geosains Transisi Energi di CGF NTNU, Philip Ringrose.

Baca juga:

Saat ini, perusahaan menggunakan kapal untuk menarik sensor akustik di atas formasi penyimpanan bawah laut ini, berlayar bolak-balik di atas formasi itu dalam pola grid, mirip seperti Anda memotong rumput dengan hati-hati.

"Tentu saja, hal ini membutuhkan waktu dan uang. Tetapi, mungkinkah ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan informasi yang sama? Di daerah-daerah di mana penyimpanan CO2 berbasis darat, perusahaan dapat mengebor sumur untuk memeriksa ke mana CO2 tersebut pergi," ucapnya.

Namun, itu bukanlah pilihan terbaik bagi tempat-tempat, seperti Norwegia, di mana lokasi penyimpanan bisa berada 1.000 meter atau lebih di bawah dasar laut.

Para peneliti tidak menggunakan sumur untuk memeriksa di mana CO2 berada. Mereka hanya memakai data geofisika.

"Itu sebagian karena kami berada di lepas pantai, tetapi juga karena kami mendorong teknologi untuk menunjukkan bahwa Anda dapat melihat semuanya dengan geofisika," ujar Ringrose.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau