KOMPAS.com - Reservoir geologis, yang memerangkap minyak bumi selama jutaan tahun, saat ini dapat dimanfaatkan kembali untuk menyimpan gas rumah kaca (GRK) karbon dioksida (CO2).
Studi terbaru dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) memperluas cara manusia memantau dan memverifikasi berapa banyak CO2 yang telah disimpan oleh reservoir geografis itu.
Baca juga:
Studi ini sejalan dengan upaya Norwegia dan negara-negara lain untuk meningkatkan penyimpanan CO2 di reservoir geologi bawah laut.
Studi ini membantu menjawab dua pertanyaan penting tentang penyimpanan CO2 di reservoir geologi bawah laut itu.
"Ke mana perginya CO2 saya? Apakah ada kebocoran atau tidak? Itulah pertanyaan-pertanyaan mendasar sebenarnya," ujar seorang ahli geofisika NTNU dan direktur Pusat Peramalan Geofisika NTNU, Martin Landro, dilansir dari Phys.org, Jumat (13/2/2026).
Norwegia merupakan rumah bagi proyek penyimpanan CO2 bawah laut terlama di dunia, di ladang gas Sleipner di Laut Utara.
Di perairan tersebut, total 20 juta ton CO2 telah disuntikkan ke dalam akuifer air asin atau Formasi Utsira.
Studi meneliti lebih dekat data dari lokasi Sleipner dengan memakai teknik analisis data yang disebut inversi gelombang penuh Inversi gelombang penuh (full waveform inversion/FWI). Data itu dikumpulkan menggunakan metode geofisika, seperti pencitraan seismik.
Reservoir geologis, yang memerangkap minyak bumi selama jutaan tahun, saat ini dapat dimanfaatkan kembali untuk menyimpan gas rumah kaca CO2.Para ahli geofisika memakai pencitraan seismik untuk mengamati cadangan minyak dan gas bawah laut, serta lokasi penangkapan dan penyimpanan karbon.
Pencitraan seismik bisa dianggap sebagai sejenis ultrasonik. Namun, alih-alih memindai tubuh manusia, sebuah kapal mengirimkan denyut suara ke dasar laut, serta merekam bagaimana gelombang suara merambat melalui batuan dan memantul kembali ke sensor di permukaan.
Pada masa lalu, para peneliti hanya menggunakan sebagian dari informasi ini, terutama waktu tiba gelombang suara, untuk membangun citra bawah permukaan.
FWI memanfaatkan seluruh sinyal seismik, yang memungkinkan para ilmuwan untuk mengekstrak informasi lebih detail tentang struktur dan sifat batuan di bawah laut.
Sebuah makalah terbaru yang diterbitkan di Interpretation dan ditulis seorang Ph.D. Centre for Geophysical Forecasting (CGF) NTNU yang baru saja meraih gelar, Ricardo Jose Martinez Guzman mengonfirmasi betapa efektifnya teknik ini dalam memverifikasi lokasi CO2 berada dan berapa banyak yang telah disuntikkan.
"Mungkin 10 tahun yang lalu, FWI dari Sleipner seperti memakai kacamata yang sangat berkabut. Tetapi sekarang ini telah berkembang begitu jauh, sehingga kami dapat melihat semua lapisan dan semua saluran pengumpan ini. Jadi, ini seperti revolusi dalam visualisasi dan pemahaman tentang apa yang terjadi," ujar seorang profesor di bidang Geosains Transisi Energi di CGF NTNU, Philip Ringrose.
Baca juga:
Saat ini, perusahaan menggunakan kapal untuk menarik sensor akustik di atas formasi penyimpanan bawah laut ini, berlayar bolak-balik di atas formasi itu dalam pola grid, mirip seperti Anda memotong rumput dengan hati-hati.
"Tentu saja, hal ini membutuhkan waktu dan uang. Tetapi, mungkinkah ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan informasi yang sama? Di daerah-daerah di mana penyimpanan CO2 berbasis darat, perusahaan dapat mengebor sumur untuk memeriksa ke mana CO2 tersebut pergi," ucapnya.
Namun, itu bukanlah pilihan terbaik bagi tempat-tempat, seperti Norwegia, di mana lokasi penyimpanan bisa berada 1.000 meter atau lebih di bawah dasar laut.
Para peneliti tidak menggunakan sumur untuk memeriksa di mana CO2 berada. Mereka hanya memakai data geofisika.
"Itu sebagian karena kami berada di lepas pantai, tetapi juga karena kami mendorong teknologi untuk menunjukkan bahwa Anda dapat melihat semuanya dengan geofisika," ujar Ringrose.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya