Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik

Kompas.com, 4 Maret 2026, 07:17 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - PBB memperkirakan fenomena cuaca memanas El Nino kembali melanda bumi tahun ini.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization atau WMO), PBB menyatakan El Nino terjadi seiring melemahnya fenomena cuaca mendingin La Nina

Baca juga:

Setelah itu kondisi iklim diperkirakan masuk fase netral, yang mana bisa beralih menjadi El Nino sebelum akhir 2026.

La Nina adalah fenomena alami yang mendinginkan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini memengaruhi pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai wilayah dunia.

PBB prediksi El Nino kembali melanda bumi tahun ini

Peluang El Nino cukup besar untuk terjadi

El Nino diperkirakan muncul lagi pada 2026 setelah La Nina melemah. Berikut prediksi terbaru dari WMO.Pexels/Pixabay El Nino diperkirakan muncul lagi pada 2026 setelah La Nina melemah. Berikut prediksi terbaru dari WMO.

WMO menyebut ada peluang 60 persen kondisi netral terjadi pada periode Maret 2026 hingga Mei 2026. Peluang La Nina berada di angka 30 persen, sedangkan peluang El Nino masih 10 persen pada periode tersebut.

Namun, peluang itu bisa berubah pada periode berikutnya. Pada April 2026 hingga Juni 2026, peluang kondisi netral meningkat menjadi 70 persen. 

Kemudian pada Mei 2026 hingga Juli 2026, peluang netral turun menjadi 60 persen. Pada periode yang sama, peluang El Nino naik menjadi 40 persen.

Sementara itu, Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA) menyebut ada peluang 50 hingga 60 persen El Nino berkembang pada periode Juli 2026 hingga September 2026 dan seterusnya.

"Komunitas WMO akan memantau kondisi dengan cermat dalam beberapa bulan ke depan untuk mendukung pengambilan keputusan," kata Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, dilansir dari AFP, Selasa (3/3/2026).

"El Nino terbaru pada 2023-2024 merupakan salah satu dari lima El Nino terkuat dalam catatan dan berperan dalam suhu global rekor yang kita lihat pada tahun 2024," tambah dia. 

Baca juga:

Belajar dari El Nino terkuat sebelumnya 

El Nino diperkirakan muncul lagi pada 2026 setelah La Nina melemah. Berikut prediksi terbaru dari WMO.Shutterstock/Panorama Images El Nino diperkirakan muncul lagi pada 2026 setelah La Nina melemah. Berikut prediksi terbaru dari WMO.

El Nino terakhir dari tahun 2023 hingga 2024 termasuk salah satu dari lima yang terkuat dalam catatan sejarah.

Menurut WMO, fenomena itu berperan dalam mencetak rekor suhu global pada tahun 2024. El Nino juga berkontribusi menjadikan tahun 2023 sebagai tahun terpanas kedua dalam sejarah pencatatan suhu dunia.

Data ini menunjukkan bahwa El Nino tidak bisa dianggap ringan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
LSM/Figur
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Pemerintah
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Pemerintah
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Pemerintah
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Swasta
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Pemerintah
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau