KOMPAS.com - Pemanasan global melaju lebih cepat dan kini menjadi dua kali lipat lebih cepat dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Ini artinya, berbagai bencana iklim besar bisa terjadi lebih awal daripada yang diperkirakan.
Menurut analisis dari Stefan Rahmstorf di Universitas Potsdam, Jerman dan rekan-rekannya, sebelum tahun 2013-2014, Bumi memanas sekitar 0,18 derajat C per dekade.
Namun sejak saat itu, suhunya melonjak menjadi sekitar 0,36 derajat per dekade.
Melansir New Scientist, Jumat (6/3/2026) jika pemanasan terus berlanjut dengan kecepatan seperti ini, umat manusia bisa melewati ambang batas Perjanjian Paris pada tahun 2028.
Itu jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh penelitian-penelitian sebelumnya.
“Setiap kenaikan suhu sebesar 0,1 derajat C sangatlah berarti, karena akan memperparah dampak pemanasan global mulai dari cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, hingga risiko melewati titik kritis yang tak bisa diperbaiki,” ujar Rahmstorf.
"Dunia sedang berupaya keras menghentikan dan mengurangi pemanasan global. Itulah sebabnya, kenyataan bahwa suhu saat ini justri semakin cepat memanas, sangat mengkhawatirkan," paparnya lagi.
Baca juga: Suhu Bumi Tetap Ekstrem Selama 11 Tahun Meski Ada La Nina
Setelah serangkaian tahun dengan rekor suhu terpanas, para ilmuwan iklim mulai berdebat sengit pada tahun 2023 tentang apakah pemanasan global memang sedang melaju lebih cepat.
Namun, adanya fluktuasi alami seperti fenomena El Niño yang memicu panas tambahan di tahun 2023 dan 2024 membuat mereka sulit memastikan apakah kenaikan suhu yang lebih cepat ini murni karena perubahan iklim atau hanya sekadar anomali cuaca acak.
Studi Rahmstorf adalah yang pertama menemukan percepatan nyata akibat perubahan iklim secara statistik, dengan tingkat keyakinan mencapai 98 persen.
Tim tersebut menganalisis lima kumpulan data suhu global yang berbeda, di mana beberapa di antaranya menunjukkan angka yang lebih tinggi.
Menurut analisis data dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, pemanasan global bisa mencapai ambang batas 1,5 derajat C di atas suhu zaman pra-industri pada tahun ini, jika dihitung berdasarkan rata-rata 20 tahun.
Terumbu karang di perairan hangat mulai hancur. Selain itu, jika kenaikan suhu melewati 1,5 derajat C, kita berisiko memicu titik kritis lainnya seperti mencairnya es di Greenland dan Antartika Barat yang tak mungkin diperbaiki, serta musnahnya hutan hujan Amazon secara massal.
Banyak ilmuwan berpendapat bahwa percepatan pemanasan global ini terutama disebabkan oleh aturan ketat pada tahun 2020 yang membatasi polusi sulfur dioksida dari kapal laut.
Sebagai informasi, pada 2020, Organisasi Maritim Internasional menetapkan aturan untuk mengurangi kadar sulfur dalam bahan bakar kapal laut guna memperbaiki kualitas udara dan kesehatan paru-paru manusia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya