Hasil positifnya, udara menjadi lebih bersih dan penyakit pernapasan dapat dicegah.
Namun, lapisan kabut tipis atau aerosol yang terbentuk dari sulfur tersebut menjadi hilang. Selama ini lapisan tipis tersebut menghalangi dan membantu mendinginkan suhu Bumi.
Tanpa penghalang tersebut, lebih banyak sinar matahari langsung menghantam lautan.
Kini, setelah sinar matahari tidak lagi terhalang, Rahmstorf mengatakan bahwa laju pemanasan mungkin saja melambat, meski sulit untuk dipastikan.
Baca juga: PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Para peneliti juga menghitung dampak dari letusan gunung berapi yang juga menghasilkan kabut penghalang matahari serta peningkatan radiasi matahari saat siklus bintik matahari sedang tinggi.
Setelah mengesampingkan semua faktor alami tersebut, mereka mencocokkan dua jenis grafik suhu global. Hasilnya, kedua grafik tersebut tetap menunjukkan adanya percepatan pemanasan, meskipun terjadi di waktu yang berbeda.
Namun, menurut Zeke Hausfather dari Berkeley Earth di California, kecil kemungkinan para peneliti tersebut mampu sepenuhnya menghilangkan pengaruh suhu dari El Niño, letusan gunung berapi, dan bintik matahari.
Hal ini berarti mereka mungkin sedikit melebih-lebihkan seberapa cepat pemanasan global telah melaju. Meski begitu, ia mengakui bahwa studi tersebut memberikan bukti yang meyakinkan bahwa pemanasan memang telah bertambah cepat.
"Kesimpulan besarnya adalah kita memiliki bukti kuat bahwa pemanasan global memang mengalami percepatan, meskipun kita belum tahu pasti seberapa besar peningkatan lajunya saat ini,” ujar Hausfather.
“Kita perlu menunggu beberapa tahun lagi untuk mendapatkan data yang lebih lengkap," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya