Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara

Kompas.com, 11 Maret 2026, 09:26 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan pesat pusat data di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan meningkatkan konsumsi listrik secara signifikan dalam dekade mendatang.

Laporan terbaru Deloitte berjudul "Powering Asia Pacific’s Data Centre Boom" menyebutkan, konsumsi listrik pusat data di kawasan ini diproyeksikan melonjak dari kurang dari 200 terawatt hour (TWh) pada 2025 menjadi lebih dari 1.000 TWh pada pertengahan 2030-an.

Angka tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 2,3 persen dari total permintaan listrik regional pada 2030.

Baca juga: 3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI

Peningkatan ini terjadi seiring melonjaknya kebutuhan layanan digital seperti komputasi awan, kecerdasan buatan (AI), komunikasi digital, serta perdagangan elektronik yang semakin bergantung pada infrastruktur pusat data.

Di Asia Pasifik, sejumlah negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Singapura telah menjadi pusat utama pengembangan data center. Sementara itu, Australia, India, dan Malaysia mulai muncul sebagai pasar baru yang berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data.

Perencanaan Energi

Namun, pertumbuhan tersebut juga menimbulkan tantangan bagi sistem energi. Deloitte memperkirakan total permintaan listrik di kawasan Asia Pasifik dapat meningkat hampir 50 persen antara 2024 hingga 2035, didorong oleh pertumbuhan ekonomi serta peralihan penggunaan energi dari bahan bakar fosil menuju listrik.

Will Symons, Deloitte Asia Pacific Sustainability Leader menyatakan AI, layanan cloud, dan konektivitas digital terus melonjak, mendorong investasi besar-besaran pada pusat data yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.

"Di seluruh kawasan, jaringan listrik sudah berada di bawah tekanan untuk melakukan dekarbonisasi sekaligus menjaga keterjangkauan, ketahanan, dan keamanan energi. Menerapkan pendekatan power-first dengan energi bersih adalah langkah yang sangat penting untuk menggerakkan pusat data baru, mempercepat dekarbonisasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar dia.

Menurut Symons, tanpa perencanaan yang baik, pertumbuhan pusat data berpotensi memperlambat transisi energi, meningkatkan volatilitas harga listrik, serta menambah tekanan pada infrastruktur jaringan.

Baca juga: PBB Rilis Inisiatif Percepat Transisi Energi di Asia Tenggara

Sebaliknya, pusat data juga dinilai berpotensi menjadi bagian dari solusi transisi energi jika dikembangkan dengan strategi pengadaan listrik yang mengutamakan energi bersih.

Pendekatan ini mencakup penggunaan energi terbarukan, penyimpanan energi, serta skema pembelian listrik jangka panjang dari sumber energi rendah emisi untuk memastikan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.

Selain itu, pengembangan pusat data juga didorong untuk mempertimbangkan lokasi yang dekat dengan sumber energi terbarukan serta memanfaatkan teknologi pengelolaan beban listrik agar dapat menyesuaikan operasi dengan ketersediaan energi bersih.

Melalui pendekatan tersebut, pertumbuhan sektor pusat data di Asia Pasifik dinilai dapat berjalan seiring dengan upaya dekarbonisasi sistem energi regional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
LSM/Figur
Boeing Teken Penghapusan 40.000 Ton Karbon lewat Teknologi Biochar
Boeing Teken Penghapusan 40.000 Ton Karbon lewat Teknologi Biochar
Swasta
Hujan Diprediksi Melanda Indonesia Jelang Mudik Lebaran 2026
Hujan Diprediksi Melanda Indonesia Jelang Mudik Lebaran 2026
Pemerintah
Tanaman Menahun Bisa Jadi Solusi Krisis Iklim dan Pangan
Tanaman Menahun Bisa Jadi Solusi Krisis Iklim dan Pangan
Pemerintah
Eropa Cari Cara Produksi Hidrogen Hijau Tanpa PFAS dan Logam Mahal
Eropa Cari Cara Produksi Hidrogen Hijau Tanpa PFAS dan Logam Mahal
LSM/Figur
Satu-satunya Perempuan di DEN, Sripeni Singgung Kesenjangan Gender di Dunia Kerja
Satu-satunya Perempuan di DEN, Sripeni Singgung Kesenjangan Gender di Dunia Kerja
Pemerintah
Bab Baru Nilai Ekonomi Karbon
Bab Baru Nilai Ekonomi Karbon
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau