Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI

Kompas.com, 12 Maret 2026, 16:18 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekitar dua pertiga anak-anak di seluruh dunia melaporkan adanya peningkatan cyberbullying (perundungan siber).

Mirisnya, satu dari dua anak juga mengaku tidak tahu cara mendapatkan dukungan yang tepat, menurut jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh pejabat tinggi PBB yang menangani penanganan kekerasan terhadap anak.

Baca juga: 

"Laporan menyoroti tren yang mengkhawatirkan dan kebutuhan mendesak bagi seluruh ekosistem daring untuk bertindak lebih cepat dan bersama-sama guna melindungi anak-anak," ujar Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric lewat keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman terhadap anak-anak termasuk di antaranya konflik, pengungsian, kemiskinan, dan tingkat kekerasan.

"Dunia yang penuh tantangan, di mana anak-anaklah yang menanggung harga termahal," ujar Dr. Najat Maalla M’jid, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kekerasan terhadap Anak.

Peningkatan cyberbullying pada anak-anak

Ancaman dari AI

Sekitar dua pertiga anak-anak di seluruh dunia melaporkan adanya peningkatan cyberbullying, yang mana diperparah dengan AI.Dok. Freepik/Freepik Sekitar dua pertiga anak-anak di seluruh dunia melaporkan adanya peningkatan cyberbullying, yang mana diperparah dengan AI.

Dengan melibatkan lebih dari 30.000 anak dari seluruh dunia, laporan ini menegaskan bahwa AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) telah mengubah cara ancaman muncul bagi anak-anak di internet.

AI membuat bahaya yang mereka hadapi menjadi jauh lebih besar dan berbeda dari sebelumnya.

Kemajuan teknologi AI yang sangat cepat dan mudah diakses telah mengubah wajah perundungan siber.

Saat ini, perundungan menjadi lebih cepat, lebih terarah pada sasaran, lebih sulit dideteksi, dan bisa menyebar luas di banyak aplikasi sekaligus dalam skala besar.

Dalam situasi saat ini, teknologi AI memungkinkan pembuatan foto dan video palsu (deepfake) serta manipulasi anak-anak melalui chatbot dan alat lainnya.

Akibatnya, anak-anak seringkali terlalu percaya dan tidak bisa membedakan mana interaksi manusia yang nyata dan mana yang buatan.

"Teknologi deepfake AI semakin banyak digunakan untuk mempermalukan, mengancam, dan mengeksploitasi anak-anak di dunia daring," tutur M’jid.

Di sisi lain, anak-anak merasa sulit untuk melaporkan perundungan siber karena mereka merasa malu dan takut. Mereka takut dikucilkan oleh teman sebaya atau dihakimi oleh orang dewasa.

Dampak dari tidak melaporkan perundungan bisa terjadi seketika dan sangat menghancurkan menyebabkan tekanan psikologis dan kerusakan reputasi yang permanen hanya dalam hitungan detik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau