KOMPAS.com - Sekitar dua pertiga anak-anak di seluruh dunia melaporkan adanya peningkatan cyberbullying (perundungan siber).
Mirisnya, satu dari dua anak juga mengaku tidak tahu cara mendapatkan dukungan yang tepat, menurut jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh pejabat tinggi PBB yang menangani penanganan kekerasan terhadap anak.
Baca juga:
"Laporan menyoroti tren yang mengkhawatirkan dan kebutuhan mendesak bagi seluruh ekosistem daring untuk bertindak lebih cepat dan bersama-sama guna melindungi anak-anak," ujar Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric lewat keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman terhadap anak-anak termasuk di antaranya konflik, pengungsian, kemiskinan, dan tingkat kekerasan.
"Dunia yang penuh tantangan, di mana anak-anaklah yang menanggung harga termahal," ujar Dr. Najat Maalla M’jid, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kekerasan terhadap Anak.
Sekitar dua pertiga anak-anak di seluruh dunia melaporkan adanya peningkatan cyberbullying, yang mana diperparah dengan AI.Dengan melibatkan lebih dari 30.000 anak dari seluruh dunia, laporan ini menegaskan bahwa AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) telah mengubah cara ancaman muncul bagi anak-anak di internet.
AI membuat bahaya yang mereka hadapi menjadi jauh lebih besar dan berbeda dari sebelumnya.
Kemajuan teknologi AI yang sangat cepat dan mudah diakses telah mengubah wajah perundungan siber.
Saat ini, perundungan menjadi lebih cepat, lebih terarah pada sasaran, lebih sulit dideteksi, dan bisa menyebar luas di banyak aplikasi sekaligus dalam skala besar.
Dalam situasi saat ini, teknologi AI memungkinkan pembuatan foto dan video palsu (deepfake) serta manipulasi anak-anak melalui chatbot dan alat lainnya.
Akibatnya, anak-anak seringkali terlalu percaya dan tidak bisa membedakan mana interaksi manusia yang nyata dan mana yang buatan.
"Teknologi deepfake AI semakin banyak digunakan untuk mempermalukan, mengancam, dan mengeksploitasi anak-anak di dunia daring," tutur M’jid.
Di sisi lain, anak-anak merasa sulit untuk melaporkan perundungan siber karena mereka merasa malu dan takut. Mereka takut dikucilkan oleh teman sebaya atau dihakimi oleh orang dewasa.
Dampak dari tidak melaporkan perundungan bisa terjadi seketika dan sangat menghancurkan menyebabkan tekanan psikologis dan kerusakan reputasi yang permanen hanya dalam hitungan detik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya