Sementara itu, hay (hein) adalah metode pengeringan hijauan hingga kadar airnya rendah. Rumput lapangan atau leguminosa, salah satunya alfalfa, biasanya dijadikan bahan utama.
Dengan kadar air yang rendah, hijauan tersebut bisa disimpan berbulan-bulan tanpa mengalami pembusukan.
Meski metode hay dan silase sudah lama dikenal di dunia peternakan modern, Bodhi menilai masih banyak peternak di Indonesia yang belum memahami atau menerapkannya.
“Tantangan terbesar adalah minimnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam membuat silase atau hay. Padahal metode ini bisa menjadi solusi nyata menghadapi kemarau panjang,” jelas Bodhi.
Ia juga menyoroti langkah antisipasi yang bisa dilakukan pemerintah, terutama di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrim.
”Adanya peringatan dini BMKG menjadi alarm bagi pemerintah dan dinas terkait untuk mengantisipasi kekeringan, terutama dalam hal suplai air bersih. Tidak hanya untuk ternak melainkan juga masyarakat yang terdampak langsung,” pungkas dia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya