KOMPAS.com - Masalah pangan, salah satunya terkait tidak adanya ketersediaan pangan, bisa meningkatkan kecemasan yang menurunkan produktivitas karyawan di tempat kerja. Hal ini menurut studi yang diterbitkan di Journal of Applied Psychology.
Dampak masalah pangan kerap dikaitkan dengan orang-orang yang menganggur. Padahal, hal itu juga berdampak terhadap mayoritas tenaga kerja.
Baca juga:
"Kami berharap para pemimpin usaha dapat mengubah pola pikir mereka dan memahami bahwa mendukung karyawan yang menghadapi kerawanan pangan melampaui masalah kemanusiaan dan memberikan manfaat bagi bisnis itu sendiri," kata peneliti utama studi sekaligus seorang mahasiswa doktoral dalam perilaku organisasi di Universitas Washington, Jason Moy, MS, dilansir dari Phys.org, Senin (16/3/2026).
Masalah pangan dapat meningkatkan kecemasan pekerja yang menurunkan produktivitas mereka di tempat kerja.Masalah pangan mengacu pada rasa takut atau kecemasan karena tidak mampu membeli cukup makanan untuk bertahan hidup. Kerawanan pangan dapat menyebabkan pengurangan pembelian makanan atau melewatkan makan.
Menurut laporan tahun 2024 dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS), lebih dari 47 juta orang atau 13 persen rumah tangga mengalami kerawanan pangan pada tahun 2023
Studi sebelumnya menemukan bahwa kerawanan pangan dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, anemia, asma, kecemasan, depresi, serta gangguan tidur dan makan.
Temuan studi ini berasal dari tiga eksperimen. Dalam eksperimen pertama secara daring dengan 375 orang dewasa pekerja di AS yang sebelumnya pernah mengalami kerawanan pangan.
Peserta dibagi menjadi dua kelompok yang diminta untuk mengingat pengalaman kerawanan pangan terakhir mereka atau ketika makanan mudah didapatkan.
Kemudian, peserta dari kedua kelompok itu menulis tentang perasaan dan perilaku mereka di tempat kerja pada hari itu.
Peserta yang mengingat kerawanan pangan melaporkan kecemasan yang jauh lebih tinggi dan kinerja tugas sangat rendah. Selain itu, peserta juga menyebut kerawanan pangan sebabkan keterlibatan kerja yang lebih rendah dan memberikan bantuan semakin sedikit kepada rekan-rekannya.
Dalam percobaan kedua, sebanyak 567 pekerja dewasa di AS yang pernah mengalami kerawanan pangan mencatat buku harian mingguan selama satu bulan.
Hasilnya, laporan peserta mengenai peningkatan kerawanan pangan selama bulan selaras dengan semakin tingginya kecemasan, serta kinerja tugas dan keterlibatan kerja yang lebih rendah.
Dalam percobaan lapangan terakhir dilakukan di Pakistan, dengan 196 pekerja yang secara acak ditugaskan untuk menerima paket makanan atau produk pembersih dan kebersihan.
Para peserta yang menerima paket makanan melaporkan tingkat kecemasan yang jauh lebih rendah, dengan efek menguntungkan pada kinerja kerja dan keterlibatan dalam tugas.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya