Temuan dari studi ini diperoleh melalui eksperimen selama 12 tahun pada 48 petak lahan di Oklahoma, Amerika Serikat.
Para peneliti memantau respons tanah terhadap pemanasan dan berbagai tingkat curah hujan. Beberapa petak dijaga pada suhu normal, sedangkan yang lain dipanaskan sebesar tiga derajat celsius menggunakan pemanas inframerah untuk mensimulasikan iklim masa depan lebih panas.
Tim peneliti juga mengontrol jumlah air yang mencapai setiap petak dengan menggunakan tempat perlindungan anti hujan untuk menciptakan kondisi kekeringan.
Kemudian, mereka menambahkan air ekstra untuk mensimulasikan tahun-tahun basah.
Setiap tahun, para peneliti melakukan pemeriksaan pada setiap petak untuk melihat bagaimana kondisi basah dan kering memengaruhi lahan itu.
Mereka mengukur total karbon dalam tanah, berat tanaman yang tumbuh, serta pelepasan karbonnya memakai ruang untuk menangkap dan melacak emisi gas rumah kaca (GRK).
Mereka juga menganalisis materi genetik komunitas mikroba tanah untuk melihat bagaimana populasi bakteri dan jamur berubah seiring waktu.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya