KOMPAS.com - Tanah bisa menentukan masa depan iklim karena berperan penting sebagai bank karbon raksasa yang menyimpan karbon dioksida (CO2) hingga tiga kali lipat lebih banyak daripada seluruh atmosfer.
Pelepasan sebagian kecil karbon dari tanah ke udara sebagai CO2 akan mempercepat pemanasan global.
Baca juga:
Padahal, dalam kondisi kekeringan, para ilmuwan menemukan, pemanasan menyebabkan tanah kehilangan karbon sebesar 12,2 persen.
Sebaliknya, dalam kondisi basah, tanah dapat meningkatkan penyerapan karbon sekitar 6,7 persen.
Air memang faktor penentu apakah karbon tetap berada di dalam tanah atau terlepas ke udara, dilansir dari Phys.org, Rabu (25/3/2026).
Mikroba di tanah membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.Perbedaan antara daya serap karbon dan yang dilepaskan tanah ke udara lebih banyak disebabkan oleh mikroba. Kesenjangan tersebut dipengaruhi mikroba yang hidup dalam tanah, bukan tumbuhan di atasnya.
Cuaca panas dan kering menciptakan kondisi yang penuh tekanan bagi mikroba. Imbasnya, mikroba membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.
Di sisi lain, ketika tanah panas dan lembap, mikroba menggunakan lebih banyak karbon untuk tumbuh sehingga lebih sedikit yang terbuang.
Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change menggarisbawahi peran penting mikroba dalam memediasi umpan balik karbon tanah-iklim.
Peran mikroba tersebut dapat membantu memproyeksikan secara akurat dinamika karbon tanah di dunia yang lebih hangat dan berpotensi lebih kering.
Selama kekeringan, mikroba beresiko menguraikan beberapa karbon tanah paling stabil. Temuan dari studi ini cukup mengkhawatirkan, mengingat sebelumnya para ilmuwan menganggap karbon tersebut yang telah terkunci di dalam tanah selama berabad-abad berpotensi terlepas ke udara.
Pelepasan besar-besaran karbon purba, yang pernah diyakini para ilmuwan akan tetap aman ke depannya, akan semakin memanaskan bumi.
Berdasarkan temuan ini, model iklim perlu mulai memperhitungkan perilaku mikroba yang hidup di dalam tanah.
Baca juga:
Mikroba di tanah membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.Temuan dari studi ini diperoleh melalui eksperimen selama 12 tahun pada 48 petak lahan di Oklahoma, Amerika Serikat.
Para peneliti memantau respons tanah terhadap pemanasan dan berbagai tingkat curah hujan. Beberapa petak dijaga pada suhu normal, sedangkan yang lain dipanaskan sebesar tiga derajat celsius menggunakan pemanas inframerah untuk mensimulasikan iklim masa depan lebih panas.
Tim peneliti juga mengontrol jumlah air yang mencapai setiap petak dengan menggunakan tempat perlindungan anti hujan untuk menciptakan kondisi kekeringan.
Kemudian, mereka menambahkan air ekstra untuk mensimulasikan tahun-tahun basah.
Setiap tahun, para peneliti melakukan pemeriksaan pada setiap petak untuk melihat bagaimana kondisi basah dan kering memengaruhi lahan itu.
Mereka mengukur total karbon dalam tanah, berat tanaman yang tumbuh, serta pelepasan karbonnya memakai ruang untuk menangkap dan melacak emisi gas rumah kaca (GRK).
Mereka juga menganalisis materi genetik komunitas mikroba tanah untuk melihat bagaimana populasi bakteri dan jamur berubah seiring waktu.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya