Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroba Tentukan Masa Depan Iklim, Bisa Lepaskan Karbon Purba

Kompas.com, 25 Maret 2026, 11:27 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Tanah bisa menentukan masa depan iklim karena berperan penting sebagai bank karbon raksasa yang menyimpan karbon dioksida (CO2) hingga tiga kali lipat lebih banyak daripada seluruh atmosfer.

Pelepasan sebagian kecil karbon dari tanah ke udara sebagai CO2 akan mempercepat pemanasan global.

Baca juga:

Padahal, dalam kondisi kekeringan, para ilmuwan menemukan, pemanasan menyebabkan tanah kehilangan karbon sebesar 12,2 persen.

Sebaliknya, dalam kondisi basah, tanah dapat meningkatkan penyerapan karbon sekitar 6,7 persen.

Air memang faktor penentu apakah karbon tetap berada di dalam tanah atau terlepas ke udara, dilansir dari Phys.org, Rabu (25/3/2026).

Mempertimbangkan mikroba di tanah

Mikroba di tanah membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.PIXABAY/Thopilong Mikroba di tanah membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.

Perbedaan antara daya serap karbon dan yang dilepaskan tanah ke udara lebih banyak disebabkan oleh mikroba. Kesenjangan tersebut dipengaruhi mikroba yang hidup dalam tanah, bukan tumbuhan di atasnya.

Cuaca panas dan kering menciptakan kondisi yang penuh tekanan bagi mikroba. Imbasnya, mikroba membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.

Di sisi lain, ketika tanah panas dan lembap, mikroba menggunakan lebih banyak karbon untuk tumbuh sehingga lebih sedikit yang terbuang.

Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change menggarisbawahi peran penting mikroba dalam memediasi umpan balik karbon tanah-iklim.

Peran mikroba tersebut dapat membantu memproyeksikan secara akurat dinamika karbon tanah di dunia yang lebih hangat dan berpotensi lebih kering.

Selama kekeringan, mikroba beresiko menguraikan beberapa karbon tanah paling stabil. Temuan dari studi ini cukup mengkhawatirkan, mengingat sebelumnya para ilmuwan menganggap karbon tersebut yang telah terkunci di dalam tanah selama berabad-abad berpotensi terlepas ke udara.

Pelepasan besar-besaran karbon purba, yang pernah diyakini para ilmuwan akan tetap aman ke depannya, akan semakin memanaskan bumi.

Berdasarkan temuan ini, model iklim perlu mulai memperhitungkan perilaku mikroba yang hidup di dalam tanah.

Baca juga:

Simulasi cuaca masa depan

Mikroba di tanah membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.rawpixel/freepik Mikroba di tanah membakar lebih banyak karbon hanya untuk tetap hidup, dengan melepaskan sebagian besar dari yang disimpannya sebagai CO2.

Temuan dari studi ini diperoleh melalui eksperimen selama 12 tahun pada 48 petak lahan di Oklahoma, Amerika Serikat.

Para peneliti memantau respons tanah terhadap pemanasan dan berbagai tingkat curah hujan. Beberapa petak dijaga pada suhu normal, sedangkan yang lain dipanaskan sebesar tiga derajat celsius menggunakan pemanas inframerah untuk mensimulasikan iklim masa depan lebih panas.

Tim peneliti juga mengontrol jumlah air yang mencapai setiap petak dengan menggunakan tempat perlindungan anti hujan untuk menciptakan kondisi kekeringan.

Kemudian, mereka menambahkan air ekstra untuk mensimulasikan tahun-tahun basah.

Setiap tahun, para peneliti melakukan pemeriksaan pada setiap petak untuk melihat bagaimana kondisi basah dan kering memengaruhi lahan itu.

Mereka mengukur total karbon dalam tanah, berat tanaman yang tumbuh, serta pelepasan karbonnya memakai ruang untuk menangkap dan melacak emisi gas rumah kaca (GRK).

Mereka juga menganalisis materi genetik komunitas mikroba tanah untuk melihat bagaimana populasi bakteri dan jamur berubah seiring waktu.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau