KOMPAS.com - Migrasi ikan skala besar di sungai-sungai di seluruh dunia menurun drastis, menurut laporan PBB.
Analisis dari Konvensi PBB tentang Konservasi Spesies Migrasi atau Conservation of Migratory Species (CMS) menyatakan, populasi ikan air tawar global merosot sekitar 81 persen sejak tahun 1970.
Baca juga:
Dalam laporannya, PBB meneliti lebih dari 15.000 spesies ikan air tawar, dengan 325 spesies memenuhi kriteria perlindungan.
Beberapa di antaranya berasal dari Asia (205 spesies), Amerika Selatan:(55 spesies), Afrika (42 spesies), Eropa (50 spesies), dan Amerika Utara (32 spesies). Baru 24 spesies yang masuk daftar dilindungi.
“Migrasi hewan adalah salah satu keajaiban alam yang luar biasa. Namun, spesies ini menghadapi tekanan yang semakin besar di setiap tahap hidupnya. Kerja sama internasional sangat penting agar mereka dapat bertahan," ujar Sekretaris Eksekutif CMS, Amy Fraenkel, dilansir dari The Guardian, Rabu (25/3/2026).
Migrasi ikan di sungai berbagai negara tercatat menurun. Sebanyak 81 persen populasi ikan bahkan menghilang. Salah satu spesies yang terancam yakni piraiba atau ikan lele goliath, dengan berat 225 kilogram dan hidup di lembah Amazon, Amerika Selatan. Wilayah ini menjadi salah satu benteng terakhir bagi ikan migrasi.
Wilayah lain seperti cekungan Sungai Mekong berada dalam kondisi kritis. Semua ikan migrasi berukuran besar di area tersebut juga terancam punah, termasuk ikan lele raksasa yang populasinya menurun akibat penangkapan berlebihan.
PBB juga menyoroti, sekitar setengah daratan bumi berada di cekungan sungai lintas negara. Selain Mekong, cekungan sungai prioritas lainnya mencakup Danube, Nil, dan Gangga-Brahmaputra.
Fenomena migrasi terjadi di berbagai sungai di dunia dengan salmon dan belut sebagai contoh yang paling dikenal melakukannya.
Migrasi terpanjang dilakukan ikan lele dorado yang menempuh jarak hingga 11.000 kilometer (km), dari tempat bertelur di kaki Pegunungan Andes di Eropa menuju muara Amazon lalu kembali lagi. Ikan berwarna perak keemasan itu dapat tumbuh hingga sekitar dua meter.
Baca juga:
Migrasi ikan di sungai berbagai negara tercatat menurun. Sebanyak 81 persen populasi ikan bahkan menghilang. Banyak spesies saat ini mengalami penurunan populasi akibat aktivitas manusia.
Penyebab utamanya, antara lain polusi yang mengalir ke sungai dan danau, pembangunan bendungan yang menghalangi jalur migrasi, penangkapan ikan berlebihan, serta krisis iklim yang meningkatkan suhu air.
Ikan migrasi air tawar menjadi tulang punggung perikanan darat terbesar di dunia dan menopang ratusan juta orang.
Danau Tonlé Sap di Kamboja, misalnya, memiliki lebih dari 100 spesies ikan migrasi, dengan hasil tangkapan yang bisa mencapai beberapa ton dalam satu jam.
Dilansir dari SciTechDaily, pada pertemuan Conference of The Parties (COP15), Pemerintah Brasil mengusulkan sejumlah langkah konservasi dengan fokus pada dua sistem sungai terbesar di Amerika Selatan yakni Amazon dan La Plata-Parana.
Brasil menekankan pentingnya perlindungan cekungan Amazon yang hingga saat ini masih menjadi salah satu benteng terakhir bagi ikan air tawar migrasi.
Tekanan pembangunan yang semakin intensif dinilai mulai mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut.
Brasil bersama sejumlah negara mengusulkan Rencana Aksi Multi-spesies untuk Ikan Lele Migrasi Amazon periode 2026-2036 untuk melindungi ikan lele dorado.
Selain itu, berencana menambahkan spesies ikan lele sorubim berbintik (Pseudoplatystoma corruscans) ke dalam daftar CMS. Sebab, spesies ini menghadapi ancaman dari pembangunan bendungan, perubahan aliran air, serta tekanan penangkapan ikan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya