KOMPAS.com - Sektor ritel pangan di Asia tengah disorot terkait emisi metana. Sebab, sektor ini dinilai belum maksimal dalam menetapkan dan melaporkan target pengurangan emisi metana.
Menurut studi terbaru kelompok lingkungan Mighty Earth, hal ini menimbulkan pertanyaan terkait komitmen sektor ritel dalam mengendalikan gas rumah kaca (GRK) terhadap rantai pasok daging, produk susu, dan beras, dilansir dari Eco-Business, Kamis (26/3/2026).
Baca juga:
Kesimpulan itu didapat setelah melakukan penilaian terhadap peritel yang mencakup DFI Retail Group dan Sun Art Retail Group di China dan Hong Kong, operasional Walmart di China, Aeon dan Seven & i Holdings dari Jepang, FairPrice Group asal Singapura, serta Emart dan Lotte Shopping dari Korea Selatan.
Adapun metana merupakan gas rumah kaca yang punya durasi tinggal di atmosfer jauh lebih singkat dibanding karbon dioksida (CO2), sekitar 12 tahun. Namun, metana menyerap energi jauh lebih banyak selama berada di atmosfer.
Dilansir dari laman International Energy Agency (IEA), saat ini konsentrasi metana di atmosfer telah melampaui dua setengah kali lipat dari tingkat pra-industri. Konsentrasi metana juga lebih cepat dibanding gas rumah kaca lainnya.
Baca juga: Teknologi Satelit Ungkap Sumber Emisi Metana dari Minyak, Gas, dan Batu Bara Global
Lembaga Mighty Earth merilis penilaian transparansi emisi metana sektor ritel pangan di Asia. Hasilnya, sektor tersebut masih belum maksimal.Studi menemukan tidak ada satu dari peritel tersebut yang mengungkapkan secara publik emisi metana yang terkait dengan produk daging, susu, dan beras mereka.
Mereka juga belum mengakui gas sebagai komponen utama dalam jejak iklim mereka atau menetapkan target pengurangan yang selaras dengan Global Methane Pledge, kesepakatan sukarela yang ditandatangani lebih dari 155 negara dengan tujuan mengurangi emisi metana global setidaknya sebesar 30 persen dari tingkat emisi tahun 2020.
Hanya Aeon yang menunjukkan performa relatif kuat dibandingkan para pesaingnya. Pengecer yang berpusat di Tokyo tersebut menempati peringkat tertinggi secara keseluruhan, tapi hanya memperoleh skor 20,5 dari total 100 poin.
Hal ini menyoroti apa yang digambarkan dalam laporan tersebut sebagai kurangnya ambisi di antara para pengecer di wilayah ini untuk memitigasi gas rumah kaca.
Sementara itu, jaringan supermarket terbesar di Singapura, FairPrice Group, menempati peringkat terakhir dalam studi ini dengan skor nol di 20 indikator.
Hal tersebut mencerminkan apa yang digambarkan dalam laporan tersebut sebagai "pengabaian total" terhadap polusi metana dan dukungan untuk makanan berbasis nabati.
Kendati demikian, FairPrice menyatakan bahwa studi Mighty Earth tidak melihat seluruh tanggung jawab mereka sebagai pengecer terbesar di Singapura.
Salah satu tanggung jawab utamanya adalah menjaga ketahanan pangan, mengingat Negeri Singa mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan makannya.
Perusahaan juga memiliki target emisi nol bersih pada 2045 untuk emisi karbon Scope 1 dan 2, serta sedang dalam proses menyusun peta jalan pelaporan dan pengurangan emisi Scope 3.
Perusahaan ini menambahkan, mereka memiliki program dekarbonisasi rantai pasokan, menjalankan program pengurangan limbah makanan, serta menyediakan alternatif daging nabati sejak tahun 2017.
Temuan Mighty Earth merupakan bagian dari tolok ukur regional pertama mengenai peran supermarket dalam mengatasi emisi metana di sistem pangan, sebuah kekhawatiran iklim yang terus meningkat di Asia seiring dengan melonjaknya konsumsi daging.
Baca juga:
Lembaga Mighty Earth merilis penilaian transparansi emisi metana sektor ritel pangan di Asia. Hasilnya, sektor tersebut masih belum maksimal.Supermarket bisa memainkan peran kunci dalam membentuk pola makan konsumen dengan memperluas penawaran produk nabati dan menetapkan target untuk meningkatkan pangsa penjualan mereka.
Laporan Mighty Earth pun merekomendasikan agar peritel menargetkan rasio penjualan protein nabati sebesar 60 persen dan protein hewani sebesar 40 persen pada 2030.
Jika protein alternatif mencapai 11 persen dari pasar protein global pada tahun 2035, emisi gas rumah kaca diniali dapat turun sebesar jumlah yang sebanding dengan dekarbonisasi penuh sektor penerbangan, catat laporan tersebut.
Baca juga: Emisi Metana Terus Meningkat, Tapi PBB Prediksi Penurunan Segera
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya